
"Hufff, bagaimana ini?" tanya nya kebingungan.
"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Saska dia mondar mandir di dalam kamar nya.
Tidak berhenti menghubungi Shela, dia tidak akan berhenti sampai di jawab oleh Shela.
Namun tiba-tiba nomor nya tidak aktif membuat Saska semakin khawatir dan sedih.
"Kenapa di jadi mati sih?" batin Saska.
"Benar-benar yah kamu Shela, kamu membuat ku gila kalau seperti ini," ucap Saska.
Sepanjang malam Saska tidur tidak tenang, terkadang dia terbangun berharap ada kabar atau pesan dari Shela. Namun sama sekali tidak ada.
Besok pagi nya dia bangun lebih pagi. "Mah, Pah, aku berangkat duluan yah," ucap Saska.
"Ini masih sangat pagi Sayang, kenapa kamu sangat cepat berangkat nya?" tanya Kania.
"Gak apa-apa kok Mah, aku tidak langsung ke kantor melainkan ke tempat teman ku sebentar jemput barang ku," ucap Saska.
"Gak sarapan dulu?" tanya Kania lagi. "Gak usah mah, aku sarapan di kantor saja." Saska menyalim tangan Mamah nya dan langsung pergi.
Kania menghela nafas panjang. Tidak beberapa lama Arka turun. "Kenapa kamu lihat-lihat seperti itu?" tanya Kania kepada Arka.
"Ada apa sih Mah? Ngeliat salah, gak di lihat salah. Pagi-pagi sudah marah-marah saja," ucap Arka.
"Bukan marah-marah, tapi hanya kesal saja, tiba-tiba kakak kamu pergi entah karena apa," ucap Kania.
"Mungkin lagi ada kerjaan mendadak, atau urusan lain mah, wajarlah," ucap Arka.
"Tidak biasanya seperti ini," ucap Kania. Arka menghela nafas panjang. "Terserah mamah saja deh, aku bingung jelasin nya bagaimana," ucap Arka.
Dia duduk di meja makan minum susu dan makan roti panggang buatan Mamah nya.
Vincent keluar dari kamar nya, "Selamat pagi istri ku," ucap Vincent sambil mencium kening istrinya.
"Pagi juga," jawab Kania sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ada apa nih? Dari tadi aku lihat kamu terlihat murung?" tanya Vincent.
"Gak ada mas, ayo kita sarapan," ajak kania. Dia berjalan ke arah dapur, sementara Vincent duduk di atas kursi di samping anak nya.
"Apa yang kamu lakukan sehingga pagi-pagi mamah kamu marah-marah?" tanya Vincent.
"Tidak ada Pah, mamah saja yang marah-marah terus, kan kalau gak marah-marah mungkin Mamah tidak akan tenang," ucap Arka.
"Ssttt... Jangan berbicara seperti itu, bagaimana kalau nanti Mamah dengar?" ucap Vincent.
"Mamah tidak akan dengar," ucap Arka.
Saska sudah sampai di depan rumah Shela. "Kenapa dia belum keluar sih?" batin Saska karena sudah mengirimkan pesan kalau dia ada di depan rumah.
Sudah satu jam menunggu namun dia baru sadar ternyata rumah itu tidak ada orang. "Loh kenapa tidak ada orang? Apa mereka sudah tidak ada di rumah?" batin Saska.
Tidak ada pilihan dia harus segera menghubungi Minhui. "Namun aku harus ngomong apa?" batin Saska. "Ah sudahlah, sebaik nya aku telpon saja dulu agar aku bisa tenang," batin Saska.
"Tut... Tutt... tuttt... panggilan telepon namun tak kunjung di jawab.
Kedua kalinya namun tidak di jawab. Akhirnya Saska menghubungi Jeki. Baru saja berdering namun sudah di jawab.
"Humm maaf Om mengganggu waktu Om," ucap Saska. "Tidak apa-apa, santai saja, emang nya ada apa Saska?" tanya Jeki.
"Ini Om, aku di depan rumah Om mau mengantar kan makanan yang di titip sama Mamah," ucap Jeki. "Ya ampun Jeki, emang nya Mamah kamu lupa kalau hari ini kami pergi pulang kampung? Kami masih dalam perjalanan," ucap Jeki.
"Oohhh gitu ya Om, ya udah deh kalau begitu, hati-hati yah Om," ucap Saska.
Telpon pun segera mati. "Kenapa sih dengan Shela? Tidak biasanya juga Tante Minhui mengabaikan aku seperti ini," batin Saska.
"Namun tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari Minhui.
"Halo Saska? Apa kamu tadi menghubungi Tante?" tanya Minhui..
"Iyah Om, karena tadi mau nanya Tante di mana, apa Shela bersama Tante?" tanya Saska.
"Oohh, Tante lagi pulang kampung. Shela lagi sama Tante kok, dia lagi sibuk ngurusin Adek nya yang sangat rewel sekali.
__ADS_1
"Oohhh gitu yah Tante, ya udah deh kalau begitu," ucap Saska. Telpon pun mati.
Saska segera kembali ke kantor karena sudah sangat telat.
"Apa yang kamu lakukan pagi-pagi sudah mendatangi rumah Shela?" tanya Vincent kepada Saska.
"Kok Papah tau? papah ngikutin aku yah?" tanya Saska.
"Kurang kerjaan sekali Papah ngikutin kamu, apa yang kamu lakukan tanya Papah!" ucap Vincent.
"Tidak ada Pah, sebenarnya aku mencari Shela karena ada urusan tertentu," ucap Saska. "Ada urusan apa sama Shela?"
"Jangan bilang alasan karena anggota OSIS? kamu sudah libur dan dia juga libur, mana m mungkin," ucap Vincent.
"Papah tidak percaya kepada ku? Apa Papah berfikir aku membohongi Papah hanya urusan seperti ini?" tanya Saska. L
"Ah sudahlah, lagian gak ada urusan nya, mamah kamu tuh yang selalu berfikir aneh-aneh," ucap Vincent.
"Ya udah lah, aku lanjut kerja," ucap Saska. Saska duduk di atas tempat duduknya. Dia menghela nafas panjang beberapa kali sebelum bekerja. Dia ingin menenangkan pikiran nya.
Kania duduk di ruang tamu sendirian sambil Nonton TV. Namun tiba-tiba saja kepala nya sangat pusing ketika baru saja berdiri hendak mengambil handphone nya.
"Aduh!!! Kenapa nih kepala ku, apa sakit karena aku terlalu lama duduk? apa aku kekurangan darah?" tanya Kania.
Mengambil air putih dan segera minum. "Aku harus istirahat, aku tidak bisa pergi belanja hari ini, nanti saja kalau badan ku sudah membaik."
Kania memutuskan untuk tidur ke kamar nya. Namun baru saja berbaring tiba-tiba suami nya menelepon nya.
"Halo sayang? Nanti kamu tunggu di tempat belanja saja yah, aku akan datang menjemput kamu," ucap Suami nya.
"Nanti saja, aku sangat lemas mungkin kecapean," ucap Kania.
"Tidak apa-apa kok, kalau begitu, aku Saska dan Arka yang akan pergi belanja, kamu tulis saja apa yang akan di beli dan kirim kepada ku," ucap Vincent.
"Gak usah mas, mas sudah lelah bekerja, sementara Saska sudah Capek juga, Arka tidak mungkin mau karena dia tidak paham."
"Kamu tenang saja di rumah, lakukan saja apa yang aku katakan," ucap Vincent. "Kamu jangan lupa minum obat, istirahat jangan melakukan apapun aku akan cepat pulang hari ini," ucap Vincent.
__ADS_1
"Baiklah mas, ya udah kalau begitu mas lanjut kerja saja, aku mau tidur dulu," ucap Kania. Vincent mengangguk dan membiarkan istrinya tidur.
Vincent mematikan panggilan telepon.