Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 215


__ADS_3

"Aku gak mau kak, aku mau keluar," ucap Shela. Namun Saska membuat Shela lebih berani. Perlahan-lahan akhirnya Shela mulai berani melihat binatang buas itu dan melemparkan makanan.


Setelah keluar dari sana, Shela langsung mencari air putih dia sangat ketakutan sampai berkeringat.


"Lain kali aku akan membalas ini," ucap nya kepada Saska. Saska hanya tersenyum saja.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka meninggalkan tempat itu. Sekarang Saska membawa ke tempat makan yang benar-benar sangat bagus sekali. Karena di bawah tempat mereka makan ada kolam ikan.


Shela sangat suka, seperti anak kecil yang bahagia karena di bawa jalan-jalan.


Hari semakin sore. Saska dan Shela sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.


Namun di perjalanan Shela malah ngantuk. Untung saja sampai di rumah dengan selamat.


Shela langsung bangun ketika sampai di rumah.


"Sebaiknya kamu pergi masuk dan istirahat," ucap Saska. Shela mengangguk.


"Terimakasih yah kak, sampai jumpa besok."


Sementara Saska langsung pulang ke rumah karena sudah gelap juga. Mamah nya akan khawatir kalau dia belum sampai di rumah.


Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di rumah.


Namun Mamah dan papah nya ternyata lagi di luar, Saska segera mandi dan istirahat di tempat tidur nya.


Namun sebelum dia Tidur dia melihat video yang dia ambil bersama Shela. Dia senyum-senyum sendiri sampai akhir nya dia ketiduran.


Besok nya Arka sudah pulang ke rumah. Dia langsung di tanyain sama Kania dan Vincent. Namun Arka bilang kalau Shela sendiri yang tidak mau ikut.


Orang tua nya tidak bisa marah atau mengatakan apapun untuk menyalah kan anak nya.


Waktunya masuk sekolah...


Hari pertama sekolah cukup menyenangkan, banyak berbagai cerita Karena semua mereka pergi jalan-jalan menikmati liburan nya.


"Shela, aku minta maaf yah karena kamu gak jadi ikut," ucap Arka. Dia melihat semua teman-teman nya menceritakan tentang liburan mereka, namun Shela hanya diam saja.


"Gak apa-apa kok," ucap Shela.


"Aku ke ruangan Osis dulu yah," ucap Shela.


"Baiklah," biasanya Arka yang meninggalkan Arka, namun kini berbalik.


Arka melihat Shela bersama Dewi pergi ke ruangan Osis.

__ADS_1


Jam istirahat.. Arka melihat Shela dan Dewi pergi ke kantin.


"Humm tumben banget dia gak ngajak aku, ah sudahlah gak apa-apa juga karena aku bisa pergi ke kantin dengan Mita.


"Sayang, kita ke kantin yok," ajak nya kepada Mita.


Shela melihat Arka bersama Mita. "Kenapa aku masih cemburu sih? Seharusnya aku tidak berhak untuk cemburu."


Shela mengajak Dewi segera pergi dari sana. Dia sangat berharap Arka dan Mita tidak menyadari nya ada di kantin yang sama dengan mereka.


Namun saat terburu-buru keluar dari kantin, dia menabrak Saska.


"Maaf kak, aku tidak sengaja."


"Kalian berdua gak jadi makan?" tanya Saska. "Kami makan di kelas saja Kak," ucap Shela.


Saska melihat mereka pergi. Setelah melihat Arka dan Mita, dia langsung paham.


Saat Saska sadar ada Kakak nya di sana dia langsung menjaga jarak dari Mita.


Saska tidak mengatakan apapun dia hanya melihat Arka dengan tatapan tajam.


Pulang sekolah nya. Saska dan semua anggota OSIS masih ada kegiatan. Mereka berkumpul di ruangan Osis.


Shela tidak seperti biasanya yang selalu ceria, selalu siap memberikan arahan dan juga aktif sekali dan ikut diskusi. Namun kali ini dia lebih banyak diam


"Kamu kenapa lagi? Kemarin kamu sudah sangat bahagia, namun sekarang tiba-tiba sedih lagi," ucap Saska.


Shela yang duduk di samping nya tidak menjawab. "Kamu baik-baik saja kan?" tanya Saska.


Shela menggeleng kan kepala nya. "Aku sangat lelah, aku mau tidur kak," ucap Shela.


Melihat wajah Shela pucat dia sangat panik. Setelah menyentuh Shela dia sangat kaget karena badan Shela sangat panas, dia langsung segera membawa ke UKS.


"Shela... Kamu kenapa bisa demam?" tanya Saska. Karena dokter tidak ada di sekolah, Saska mengantarkan Shela pulang ke rumah nya setelah dari klinik.


Sesampainya di rumah Minhui sangat mengkhawatirkan keadaan Putri nya itu.


Shela sangat panas, Saska juga sangat mengkhawatirkan nya.


Kania dan Vince mendengar Shela sakit, mereka malah menyalahkan Arka.


"Apa yang kami lakukan sampai Shela sakit seperti itu?" tanya Kania.


"Mamah sama papah kenapa malah nyalahin aku sih?" tanya Arka.

__ADS_1


"Shela baik-baik saja kemarin, tapi kamu sering mengabaikan nya itu sebabnya dia sakit."


"Dia sakit bukan karena aku, aku tidak melakukan apapun kepada nya. Mamah sama papah bisa gak sih sesekali mengerti aku dan membela ku, kapan kalian berhenti menyalah kan aku seperti ini?" tanya Arka kesal.


"Semua masalah aku yang buat, kalau bisa jujur aku tidak suka di jodohkan dengan Shela."


"Aku tidak menyukai nya karena aku sudah punya orang lain di hati ku."


"Aku mencoba mengikuti semua perkataan mamah sama Papah agar kalian bahagia, namun tetap saja kurang di mata kalian."


"Kalian hanya bangga kepada kak Saska, terkadang aku cemburu melihat kalian sangat menyayangi Kak Saska!"


Saska baru saja pulang dan mendengar perdebatan itu.


"Arka, kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Saska.


"Kakak tidak perlu ikut campur! Ini adalah urusan aku dengan orang tua ku!"


"Aku sekolah bukan hanya mau menjaga Shela, aku ingin sekolah dan aku tidak mau di atur berlebihan."


"Kalau mamah dan papah ingin aku bersama Shela, untuk saat ini aku tidak mau, aku sudah punya pacar namanya Mita."


"Aku tidak bisa menyukai Shela bukan karena dia tidak cantik, dia sangat cantik dan juga baik, tapi hati tidak bisa di paksakan."


Arka langsung pergi. Kania duduk lemas.


"Arka! Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu! Kami tidak pernah ngajarin kamu seperti itu!"


"Papah tidak mau memiliki anak pelawan seperti kamu."


"Aku akan pergi kalau papah tidak mau punya anak seperti ku."


Arka masuk ke kamar nya. "Mamah gak apa-apa kan?" tanya Saska. Tidak beberapa lama Arka keluar membawa tas berisi baju.


Arka tidak mau mendengar kan mereka lagi dan pergi menggunakan motor nya.


"Kejar adik kamu, Saska," ucap Kania.


"Biarkan saja dia, biarkan dia berfikir apa yang sudah dia lakukan," ucap Vincent.


Arka sampai di hotel. "Mereka fikir aku hidup hanya mau mengikuti perintah mereka saja? kenapa aku tidak berhak memilih apa yang baik untuk ku?" ucap Arka.


Saska menenangkan orang tua nya. Setelah tenang dia duduk di sofa kamar nya.


"Arka memang terlalu di atur sama mamah dan Papah, hanya saja bagi ku itu adalah hal yang wajar karena dia masih kelas satu SMA, bahkan aku saja masih mengikuti perintah mereka." batin Saska.

__ADS_1


__ADS_2