Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 73


__ADS_3

"Kania bawa jadwal saya Siang ini ke ruangan saya," ucap Vincent.


Kania mengangguk. Kania masuk ke ruangan Vincent.


"Jadwal Bapak hari ini tidak terlalu banyak, Bapak mempunyai waktu untuk memeriksa pekerjaan Tomi." ucap Kania.


Kania menjelaskan namun Vincent hanya fokus kepada wajah Kania.


"Apa Bapak sudah tau jadwal bapak hari ini?" tanya Kania. Vincent tidak menjawab nya.


"Pak! Pak!" Vincent masih fokus dengan wajah Kania.


"Paman!" kania menepuk lengan Vincent membuat Vincent kaget.


"Iyah! Ada apa? Kenapa kamu memukul saya?" tanya Vincent.


"Aku sedang serius menjelaskan nya kenapa Paman malah tidak fokus sama sekali?" tanya Kania.


"Saya minta maaf, kalau begitu kamu kerjakan ini dulu."


Vincent memberikan satu map kepada nya.


Kania menghela nafas panjang.


"Baiklah."


Kania mau keluar dari ruangan Vincent namun Vincent menahan tangan Kania.


"Malam ini saya menunggu kamu di restoran kemarin," ucap Vincent.


"Tidak bisa Paman, malam ini aku harus mengerjakan tugas ku."


"Saya akan tetap menunggu kamu."


Kania tidak mengatakan apapun dia langsung pergi dari sana.


Keluar dari ruangan Vincent dia melihat Fani baru saja keluar dari ruangan Tomi.


Kania memasang wajah bingung sembari berjalan masuk ke ruangan Tomi.


"Sudah selesai?" tanya Tomi kepada Kania, Kania mengangguk memandangi Tomi yang terlihat aneh.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? apa ada yang aneh?"


"Iyah, kamu sangat aneh sekali. Aku melihat Fani baru saja keluar dari sini, apa yang kalian bicarakan?" tanya Kania.


Tomi terdiam sejenak, Kania meminta Tomi untuk mengatakan nya.


"Mengantarkan semua barang-barang itu," ucap Tomi.


Kania mengikuti jari telunjuk Tomi dan melihat kotak yang lumayan besar.


"Ini semua barang-barang yang aku berikan kepada dia, dan sekarang dia mengembalikan nya dan meminta agar aku menjauhi dia."


Kania duduk di samping Tomi.

__ADS_1


"Kamu yang sabar yah, aku tau kamu pasti sangat Sedih."


"Aku baik-baik saja kok, kamu tidak perlu khawatir."


Tomi berpura-pura biasa saja namun sebenarnya hati dan pikiran nya kacau.


Hari semakin malam Kania masih di luar bersama Ulfa dan Yuda beberapa teman lain nya karena mengerjakan tugas.


Sementara Vincent yang sengaja meninggalkan pekerjaan nya agar bisa tepat waktu di restoran untuk makan malam bersama Kania.


Vincent sudah menunggu 20 menit namun Kania tak kunjung datang.


Dia mencoba menghubungi Kania, Kania menjawab nya hanya saja Kania mengatakan kalau dia tidak bisa datang sebelum tugas nya selesai. Vincent akan menunggu sampai Kania selesai jam berapa pun itu.


Kania mengatakan terserah, karena dia yakin paman nya itu tidak akan betah menunggu dia.


Tidak terasa sudah jam sembilan malam akhirnya Kania bisa pulang ke rumah.


Kania melihat rumah sepi membuat nya lega tidak bertemu dengan Bu Mona, sampai di kamar dia langsung melempar tubuh nya ke kasur yang sangat empuk meluruskan pinggang nya yang sudah duduk seharian.


"Uhh!! Aku benar-benar sangat lelah sekali," ucap Kania.


Namun karena kelelahan mata nya mulai ngantuk namun dia belum mandi sama sekali.


Kania memaksakan diri untuk berjalan ke kamar mandi, selepas mandi dia berbaring kembali ke tempat tidur, tidak menunggu lama dia tertidur dengan sangat nyenyak sekali.


Di restoran seorang pelayan menghampiri Vincent.


"Maaf pak, restoran sudah mau tutup."


Vincent menghubungi Kania namun tidak di jawab, Vincent menghubungi Ulfa.


Ulfa yang baru saja sampai di rumah melihat handphone nya berbunyi dia langsung menjawab nya.


"Halo Paman."


"Maaf ganggu kamu, saya ingin tau apa kamu sedang bersama Kania?" tanya Vincent.


"Loh bukannya Kania sudah pulang dari tadi paman? dia sudah tidak dengan kita."


"Oohh ya sudah kalau begitu, terima kasih."


"Sebaiknya aku pulang saja, seperti nya dia benar-benar tidak ingin datang ke sini."


Vincent memutuskan untuk kembali ke rumah. Dia sudah sangat yakin kalau Kania sudah di rumah.


Vincent sampai di rumah dia melihat mobil Kania, ia hanya bisa menghela nafas panjang.


Dia melihat rumah sangat sepi, dia langsung ke kamar namun sebelum ke kamar dia ingin melihat Kania.


Vincent membuka pintu kamar Kania dan benar saja Kalau Kania sudah tertidur pulas.


Keesokan harinya...


Vincent dan Mami nya sedang sarapan bersama di meja makan.

__ADS_1


"Mami sudah membicarakan pertunangan kamu dengan Heni." ucap Mami nya tiba-tiba.


"Apa maksud Mami? aku sudah bilang kalau aku tidak mencintai Heni, aku mencintai Kania."


"Vincent, apa kata orang kalau tau kamu dengan Kania ada hubungan? Jangan membuat keluarga malu."


"Kenapa harus malu? Kania bukan keponakan kandung ku, aku akan tetap memilih untuk bersama dia," ucap Vincent.


"Kamu berani melawan orang tua kamu sendiri hanya karena perempuan itu?"


"Orang tua? apa kah mami pantas menjadi orang tua ku? apa kah Mami perduli dan mengerti kepada ku? Mami tidak pernah perduli, mami hanya perduli kepada perasaan Mami sendiri!"


"Apa pun yang terjadi aku akan tetap memilih Kania dan tidak akan pernah bersama orang lain, aku memilih untuk pergi dari rumah ini bersama Kania."


"Vincent, jangan keras kepala kamu!"


"Maafin aku Mih."


Vincent pergi meninggalkan meja makan, sementara Kania yang mendengar kan perdebatan itu hanya bisa diam.


Vincent keluar dari rumah dengan perasaan marah.


Singkat cerita Kania tiba di kantor sudah jam Tiga sore dia sangat berterimakasih kepada Tomi yang bisa menggantikan nya untuk sebentar.


Namun sampai di sana dia kaget melihat Heni di ruangan Vincent.


"Kamu baru saja datang?" tanya Heni.


Kania mengangguk memasang wajah kaget.


Kania mengambil beberapa surat dari atas meja Vincent setelah itu keluar.


"Bagaimana aku bisa percaya dan berbaikan kepada paman Vincent sementara saja sekarang Heni dan paman Vincent sudah sangat dekat bahkan dia sangat berani masuk ke ruangan paman Vincent sendiri." batin Kania.


Namun walaupun seperti itu dia tidak akan terlalu memikirkan itu di saat bekerja, dia akan menyibukkan diri nya sendiri dengan pekerjaan agar tidak terlalu sedih dan pusing memikirkan hal itu.


Di Tempat lain Yuda mengantarkan Ulfa pulang seperti biasa.


"Ulfa malam ini kamu mau ikut aku makan malam di luar?" tanya Yuda.


"Ada Kania dan juga yang lain nya juga? Ada tugas lagi?" tanya Ulfa.


"Enggak, ini hanya makan malam kita berdua saja."


"Tapi seperti nya malam ini aku ingin istirahat dulu."


"Kalau begitu malam Minggu saja."


"Malam Minggu? Bukan nya biasanya kamu selalu pergi bersama teman-teman mu?" tanya Ulfa.


Yuda menggeleng kan kepala nya.


"Ya sudah kalau begitu besok saja, Kalau begitu aku masuk dulu yah."


Ulfa meninggal kan Yuda dan setelah Ulfa masuk ke dalam rumah, Yuda pulang.

__ADS_1


__ADS_2