
Kania menolak, namun Vincent memaksa Kania untuk Makan, dia janji tidak akan menggangu dan membawa Saska pergi.
Vincent tentu sangat merasa bersalah kepada istrinya, dia pun akan melakukan apapun itu untuk mendapatkan maaf dari istri nya itu.
Vincent duduk bersama Saska di ruang tamu, sesekali dia melihat istrinya makan yang meja makan.
Vincent sebenarnya belum ingin pergi bekerja, namun dia sudah cukup lama berlibur dan akhirnya dia memutuskan membawa Saska ke kantor.
Dia meminta Staf menjaga Saska. Melihat bos nya datang membawa anak bayi membuat semua karyawan heran.
"Jaga dengan baik, jangan sampai dia kenapa-napa." ucap Vincent kepada staf nya.
"Baik pak, bapak bisa percaya kepada saya menjaga anak tampan ini," ucap Staf.
Vincent sedikit ragu, namun dia sebentar lagi ada meeting.
Sementara di rumah Kania sangat pusing, dia tidak berhenti mual-mual. Dia mau minta tolong namun tidak tau mau sama siapa.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Saat di buka ternyata Jeki.
"Kania," ucap Jeki. Kania terlihat sangat lemas sekali, dia hampir saja pingsan, namun Jeki segera menangkap nya.
"Kania, kamu kenapa?" tanya Jeki.
"Panggil dokter," ucap Kania.
Jeki menelpon Vincent, namun tidak di jawab, melihat Kania semakin lemas, dia juga jadi panik.
"Aku minta maaf," ucap Jeki dia menggendong Jeki ke dalam mobil dan membawa ke klinik terdekat.
Jeki menunggu di luar, tiba-tiba handphone nya berdering.
"Ada apa?" tanya Vincent.
"Istri mu masuk rumah sakit," ucap Jeki.
"Jangan bercanda, istri ku di rumah dan dia baik-baik saja, mana mungkin dia masuk rumah sakit."
"Sebaiknya kamu datang ke sini sekarang," ucap Jeki.
Mendengar nada Jeki yang sangat serius, Vincent pun percaya.
Vincent segera ke klinik. "Dimana Kania? bagaimana bisa dia masuk rumah sakit?" tanya Vincent.
"Aku tidak tau, setibanya di rumah mu dia sudah sangat pucat dan juga tiba-tiba mau pingsan."
Vincent memberikan Saska dia langsung masuk ke dalam melihat istrinya.
"Saska.. Kamu sehat nak?" tanya Jeki.
"Kamu pasti sangat merindukan Tante Minhui kan? Om juga sangat merindukan dia," ucap Jeki.
__ADS_1
"Sekarang Om sangat menyesal melakukan ini kepada nya, om sangat ingin menebus semua kesalahan Om," ucap Jeki.
Jeki memeluk Saska. Seperti nya Saska bisa merasakan kesedihan Jeki dia juga anteng di peluk oleh Jeki sehingga kedua nya ketiduran di kursi.
"Sayang.. Kenapa kamu bisa sakit seperti ini?" tanya Vincent.
"Apa kamu salah makan? Di mana dokter nya?" tanya Vincent.
"Aku mau pulang," ucap Kania.
"Sebentar yah, aku bertanya ke dokter nya dulu," ucap Vincent.
Vincent mencari dokter. "Ada apa dengan istri saya Dok?" tanya Vincent.
"Anda bisa bertanya langsung kepada istri anda, karena istri anda tidak mengijinkan saya menjelaskan kepada bapak."
"Kenapa?" tanya Vincent. "Maafkan saya."
Vincent merasa kesal, karena dokter itu tidak mau menjelaskan nya dia semakin curiga ada apa dengan istri nya.
Sesampainya di rumah dia membantu Kania berjalan ke kamar nya.
"Sebenarnya ada apa dengan kesehatan kamu? kenapa kamu meminta dokter untuk diam dan tidak boleh jujur kepada ku?" tanya Vincent.
Kania membuka tas nya dia memberikan hasil pemeriksaan dokter kepada nya.
"Apa ini?" tanya Vincent.
Vincent membaca nya dengan seksama dan melihat hasil USG dan hasil positif nya.
"Alhamdulillah ya Allah," ucap Vincent langsung memeluk Kania.
Vincent menatap wajah istri nya. "Kamu gak senang yah?"
"Aku minta maaf karena lalai sehingga seperti ini, seharusnya aku tetap menggunakan pengaman."
"Mas Vincent seharusnya tidak perlu bahagia, mas sudah memiliki anak dari orang lain. Keinginan mas mempunyai anak sudah terkabul kan."
"Kamu ngomong apa sih sayang? Aku justru sangat bahagia karena kamu hamil, aku sangat menginginkan ini."
Kania menatap Vincent. "Kalau bisa aku tidak ingin memiliki anak," ucap Kania.
"Kania... Kamu kenapa berbicara seperti itu? Ini rejeki untuk kita berdua, kita harus mensyukuri nya," ucap Vincent.
Kania diam. "Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saya yah, kamu pasti ngantuk habis minum obat."
Vincent menyelimuti istri nya dan keluar dari kamar.
"Bagaimana dengan istri mu?" tanya Jeki.
Vincent duduk di samping Jeki.
__ADS_1
"Kania hamil," ucap Vincent. "Bagus dong, kenapa kau kalah bersedih?" tanya Jeki.
Vincent hanya diam saja. "Justru sangat bagus dia hamil, ini adalah cara nya agar kamu berdamai dengan nya."
Vincent mengangguk. "Kau benar," ucap Vincent.
"Untuk apa kau ke sini mencari ku? Apa kau mau menjemput Saska?" tanya Vincent.
Jeki menggeleng kan kepala nya. "Aku butuh bantuan mu mencari keberadaan Minhui, dia berada di kota XXX, hanya saja aku tidak tau di mana tempat tinggal nya."
Vincent menelepon teman nya yang kebetulan ada di sana dan meminta untuk membantu Jeki.
"Terimakasih banyak bro, aku titip Saska."
"Baiklah, semoga kau segera menemukan Minhui."
"Ketika wanita sudah sakit hati, mereka tidak akan memikirkan apapun lagi," batin Vincent.
"Seharusnya ini adalah menjadi kabar bahagia bagi keluarga ku dan kebahagiaan untuk aku dengan Kania. Tapi aku menghancurkan semua nya."
Di tempat Sarah...
"Apa yang kamu Kaja Sarah?" tanya Fadil melihat Sarah mengumpulkan semua pakaian nya.
"Aku mau pergi dari sini, aku tidak ingin tinggal di rumah pembelian pria itu."
"Kamu mau Kemana? Apa kamu memiliki tujuan untuk pergi?"
"Lebih baik aku menjadi orang gelandangan di luar sanak."
Semenjak ingatan nya kembali, di Sehat sekarang dia sangat keras kepala dan tidak mau mendengar kan apa saja perkataan Fadil.
Fadil hampir menyerah namun kalau bukan dia siapa lagi yang akan merawat Sarah.
"Sarah... Kamu bisa tinggal di rumah ku," ucap Fadil sambil memeluk Sarah.
"Lepaskan aku, aku tidak mau tinggal di rumah siapapun, aku akan tinggal di jalanan."
"Sarah... Kenapa kamu seperti ini? Kamu masih memiliki aku, aku akan selalu ada di sini untuk kamu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu."
Sarah menatap wajah Fadil. "Ada aku di sini, kamu baik-baik saja sekarang."
Sarah kembali tenang. "Kamu jangan takut, tidak ada orang yang akan menggangu kamu lagi."
"Aku minta maaf.." ucap Sarah dia kembali duduk tenang, Fadil memberikan nya minum.
"Jangan memaksa diri mu, jangan memikirkan semua nya. Sekarang mari kita lupakan yang terjadi dan ayo kita fokus pada hubungan kita."
"Hubungan?" tanya Sarah. Fadil mengangguk. "Aku mencintai kamu, aku ingin bersama kamu, aku sudah mencintai kamu cukup lama."
Sarah Menatap bingung. "Aku sudah mengatakan ini sebelumnya kepada kamu, aku sangat mencintai kamu, aku menerima kamu apa adanya."
__ADS_1
Fadil langsung mencium bibir Sarah. Awalnya Sarah tidak membalas, namun perlahan dia mulai membalas nya.