Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 9


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu aku pulang sama kamu." ucap Kania. Yuda tersenyum.


"Kita pergi saja Tomi." ucap Vincent. Kania melihat mobil Paman nya lewat dari depan mereka.


"Itu kan mobil Paman kamu." ucap Yuda. Kania tersenyum dan mengangguk.


Tidak beberapa lama Kania sampai di rumah dia melihat rumah sangat sepi tidak ada siapa-siapa.


"Bagus deh kalau dia belum pulang." ucap Kania. Namun baru saja mau menutup Pintu tiba-tiba Tomi datang.


"Kania! Kania!" ucap Tomi membuat Kania terkejut.


"Ada apa Tomi?" tanya Kania.


"Kamu harus ikut aku sekarang." ucap Tomi.


"Ada apa? Aku baru saja pulang dan mau istirahat." ucap Kania.


"Pak Vincent.. Pak Vincent sekarang pergi ke lapangan sirkuit." ucap Tomi. "Lalu kenapa?" tanya Kania masih cuek.


"Kania kamu tau kan kalau pak Vincent pernah kecelakaan saat berlomba. Dia sekarang ke sana untuk berlomba." ucap Tomi.


"Kenapa kamu tidak mencoba melarang nya?" tanya Kania dengan santai.


"Aku sudah mencoba melarang nya namun pak Vincent sama sekali tidak mendengar kan aku. Aku mohon kamu bujuk pak Vincent agar tidak bertanding." ucap Tomi.


Kania menatap Tomi. "Paman sudah dewasa. Dia tau mana yang baik dan mana yang buruk. Terserah dia saja mau melakukan apapun yang dia mau. Sekarang aku mau istirahat." ucap Kania.


Tomi terdiam dengan jawaban Kania.


"Ini sangat aneh sekali. Kania sangat melarang Kalau pak Vincent balapan motor namun sekarang kenapa dia tiba-tiba acuh saja." batin Vincent.


Kania langsung mandi agar penat nya hilang.


"Tidak terasa ujian sudah selesai, semoga saja nilai ku Bagus dan aku di ijinkan ke luar negeri mengunjungi opa, Oma dan juga orang tua ku, aku sudah sangat merindukan mereka." ucap Kania.


"Mana Kania?" tanya Vincent yang menunggu Tomi dari tadi di sirkuit.


"Humm itu pak, Kania..."


"Sudah ku duga dia tidak akan perduli. Sekarang pakai baju itu dan lawan saya!" ucap Vincent.


"Tapi pak..." Tomi ketakutan.


Vincent memaksa nya namun Tomi tidak mau karena takut.


Namun tiba-tiba saja rombongan Yuda baru datang.


"Itu kan laki-laki yang pulang sama Kania pak, dia anak motor juga?" ucap Tomi.


"Hei anak muda!" ucap Vincent.


Yuda mendekati Vincent.


"Iyah paman!"

__ADS_1


"Jangan panggil saya Paman kamu!" ucap Vincent. Yuda terdiam.


Vincent melihat ke arah motor Yuda.


"Akhir-akhir ini saya melihat hubungan kamu dengan keponakan saya cukup baik, namun saya tidak akan tinggal diam karena laki-laki seperti kamu tidak pantas dengan Kania."


"Tapi paman.."


"Saya akan menantang kamu, kalau kamu bisa mengalahkan saya, saya akan membiarkan Kamu mendekati keponakan saya!" ucap Vincent.


"Tapi kalau kamu kalah. Kamu harus meninggal keponakan saya." ucap Vincent.


"Yuda masih mengalami cedera Pak, dia belum bisa ikut bertanding." ucap teman Yuda.


"Saya setuju, saya pasti akan menang." ucap Yuda.


"Anak muda yang sangat percaya diri." ucap Vincent memandang sinis.


"Kamu yakin Yuda?" tanya teman nya. Yuda mengangguk.


Tomi mengambil foto mereka dan mengirim kan nya kepada Kania.


"Kania kamu harus cepat ke Sini, pak Vincent mengajak Yuda berlomba." ucap Tomi.


Kania yang baru saja selesai mandi melihat pesan dari Tomi.


Kania panik dia langsung berangkat ke lokasi.


Sampai di lokasi ternyata sudah mau di mulai.


"Paman apa-apaan ini?" tanya Kania marah.


"Kania aku tidak apa-apa. Ini hanya pertandingan biasa." ucap Yuda.


"Hentikan! Ini sangat berbahaya!" ucap Kania.


Yuda terdiam.


"Hentikan ini paman!"


"Tidak bisa di hentikan karena Paman harus memastikan kalau pria yang mendekati kamu benar-benar Pria sejati atau tidak." ucap Vincent.


"Jangan seperti anak kecil Paman! Paman membuat ku malu!" ucap Kania.


"Sudah Kania tidak apa-apa." ucap Yuda.


"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu baru saja cedera karena aku. Aku takut kalau terjadi sesuatu."


"Kaki ku sudah sembuh kok." ucap Yuda.. Melihat Kania sangat mengkhawatirkan Yuda membuat Vincent cemburu.


"Jangan membuang-buang waktu lagi." ucap Vincent.


Kania tidak bisa melarang mereka akhirnya membiarkan mereka melanjutkan pertandingan.


Kania terlihat sangat khawatir. Tidak ada yang tau dia mengkhawatirkan Vincent atau Yuda.

__ADS_1


Pertandingan semakin lama semakin sengit. Vincent mencoba untuk menutupi jalan Yuda. Dia mau bermain curang namun Yuda cukup Lihai.


Tidak beberapa lama akhirnya sudah dekat finis. Kemungkinan besar Vincent akan menang, namun tiba-tiba saja ada gangguan di bagian kepala nya pusing mendadak dan membayangkan kecelakaan nya Beberapa bulan yang lalu membuat dia tidak fokus.


Dan Yuda berhasil mencapai Finis terlebih dahulu. Kania sangat senang dia langsung menyusul Yuda memastikan keadaan Yuda baik.


Vincent sangat marah dia meninggalkan sirkuit. Tomi langsung mengikuti nya.


"Aarrrgghh!!! Siapa pria itu yang berhak menyentuh Kania? Aku sudah sudah membesar kan Kania, aku yang sudah merawat nya." ucap Vincent marah sampai Tomi tidak berani mendekati nya.


Waktunya pulang. Kania pulang bersama Yuda.


"Aku minta maaf yah Kania." ucap Yuda.


Kania menatap tajam ke arah Yuda.


"Untuk apa minta maaf?" Yuda menunduk kan kepala nya.


"Kamu baru saja cedera karena menyelamatkan aku dari serempetan mobil dan kaki mu belum sembuh, bagaimana aku tidak khawatir?" ucap Kania.


"Awalnya aku hanya ingin latihan, namun paman mu sudah ada di sana, aku tidak bisa menolak nya." ucap Yuda.


Kania menghela nafas panjang.


"Pokoknya aku tidak mau kejadian ini terulang lagi. Jangan sampai!" ucap Kania.


"Aku janji tidak akan mengulangi nya lagi." ucap Yuda.


Yuda sudah pulang ke rumah nya, Kania juga langsung pulang ke rumah nya.


Sampai di rumah dia melihat Vincent duduk di sofa ruang tamu.


"Kania.. Kania paman minta maaf. Paman tidak bermaksud..."


"Sudah! Aku tidak mau mendengar penjelasan paman.


Semakin hari sifat Paman semakin tidak benar. Seperti anak kecil saja" ucap Kania.


"Paman melakukan ini demi kamu, Yuda bukan laki-laki yang baik untuk kamu."


Kania menatap wajah paman nya.


"Lalu laki-laki yang baik seperti apa? Seperti paman?" ucap Kania membuat Vincent langsung terdiam.


"Paman sebaiknya jangan melakukan ini lagi kalau tidak ingin aku marah." ucap Kania langsung pergi namun di tahan oleh Vincent.


"Kamu marah karena Paman kalah yah?" tanya Vincent.


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak marah karena Paman kalah, aku marah karena Paman tidak menepati kata-kata paman." ucap Kania.


"Paman bilang tidak akan ikut campur dengan urusan ku, namun paman setiap hari membuat ku kesal." ucap Kania.


"Paman..."

__ADS_1


"Paman! Paman! Paman! terus saja mengatakan kalau paman melakukan itu karena perduli kepada ku, itu semua bohong! Aku sudah terlanjur kecewa dan aku sangat menyesal karena pernah mencintai pria seperti Paman!" ucap Kania.


__ADS_2