
Dia mengabaikan panggilan dari Tomi dan lanjut tidur. Sebelum tidur dia memeriksa badan anak nya terlebih dahulu.
"Kenapa masih panas?"batin Vincent.
"Tapi ini sudah lebih baik dari tadi malam, dia juga sudah bisa tidur," batin Vincent.
Kania bangun hendak berangkat ke kampus, namun dia melihat rumah yang sangat sepi dari tadi.
Kania penasaran apa Vincent sudah berangkat bekerja apa belum.
Dia mengintip ke kamar yang di tempati oleh Vincent.
"Mereka masih tidur," ucap Kania.
"Apa semalaman dia bergadang menjaga anak itu?" batin Kania.
Dia kembali menutup pintu sebelum Vincent menyadari nya.
Kania mengelus perut nya. "Kenapa harus memikirkan mereka sih? Aku fokus sam diri ku sendiri saja sudah lebih baik," ucap Kania.
"Tapi sudah sangat lama aku tidak melayani suami ku, aku sedang hamil aku tidak mau mengajarkan hal yang tidak baik untuk anak ku."
Mau tidak mau Kania memaksa kan diri untuk memesan makanan dari luar untuk sarapan suami nya.
Namun dia kefikiran dengan Saska. "Apa dia akan makan bubur? tapi dimana beli bubur di sini?" batin Kania.
Dia berjalan ke arah dapur. "Seperti nya bubur seperti ini sudah bisa dia makan."
Setelah semua nya sudah selesai dia langsung berangkat ke kampus karena Ulfa sudah menunggu nya di depan kampus.
"Kamu lama banget sih, kamu gak mikirin apa kami sudah lama di sini," ucap Ulfa.
"Aku minta maaf," ucap Kania.
"Oh iya, nih untuk kamu sesuai permintaan kamu," ucap Yuda memberikan kue.
"Terimakasih banyak yah, aku akan membayar nya," ucap Kania.
"Tidak perlu, kamu makan saja, semoga kandungan kamu sehat."
"Terimakasih yah," Kania memakan kue itu.
Namun seperti biasa dia tidak akan banyak karena hanya ingin mencicipi nya saja.
Vincent bangun karena mata hari yang silau masuk ke jendela kamar nya.
Dia sangat kaget melihat sudah jam sepuluh pagi.
"Ya ampun kenapa aku bisa ketiduran?" dia langsung membangun kan Saska.
"Ayo bangun nak, kamu harus makan setelah itu minum obat."
Namun Saska masih tetap panas, dia sangat lemas.
__ADS_1
Vincent membawa Saska keluar. Dia melihat makanan di atas meja.
Bubur untuk Saska juga ada. Dia menyuapi Saska.
Walaupun lama namun Saska makan nya cukup banyak.
Vincent memberikan Saska obat. Saska masih tetap rewel dia mau di gendong oleh Vincent terus.
Vincent belum bisa makan sama sekali.
"Dulu aku sakit karena sering merindukan mami ku, apa dia merindukan Sarah?" batin Vincent.
Dia membuka handphone nya mencari foto Sarah agar Saska berhenti menangis.
Namun tetap saja dia menangis, dia mencari foto Jeki namun tetap saja Saska menangis.
"Lalu kamu mau apa? Apa kamu mau jalan-jalan?" tanya Vincent.
"Minhui, apa jangan-jangan Minhui yang membuat nya sakit," akhirnya dia mencari foto Minhui.
Menunjuk kan foto Minhui bukan diam, Saska malah tambah nangis sambil nunjuk ke arah foto itu.
"Seperti nya Minhui juga merindukan Saska, tapi kenapa dia masih belum mau pulang?" batin Vincent.
Sepanjang hari Vincent menahan lapar karena Saska.
Jam dua siang Kania pulang, dia melihat Vincent yang sedang menggendong Saska.
"Semua nya baik-baik saja," ucap Kania.
"Oh iya, apa kamu yang masak bubur untuk Saska? dia sangat suka dan makan banyak."
Kania menoleh ke arah Saska yang tidak berhenti merengek dan wajah nya sangat merah.
"Dia masih demam, dia tidak mau diam karena masih panas."
"Kenapa tidak membawa nya ke rumah sakit agar di periksa?" tanya Kania.
"Dokter bilang dia akan sembuh setelah minum obat," ucap Vincent.
"Oohh," ucap Kania dia langsung pergi ke kamar.
Vincent menghela nafas panjang. Dia duduk sambil melepas kan Saska dari gendongan nya.
Wajah nya sudah sangat prustasi karena dia sudah sangat lelah.
Kesabaran nya sudah hampir habis karena Saska benar-benar membuat nya lelah.
Kania keluar dia melihat Vincent membiarkan Saska menangis sementara dia berbaring mengistirahatkan badan nya.
"Ternyata mengurus anak jauh lebih melelahkan dari pada bekerja," batin nya.
Dia heran kenapa tidak terdengar suara tangisan Saska, dia baru sadar Saska sudah tidak di dekat nya dia mencari dan ternyata Kania membawa nya makan.
__ADS_1
Ada rasa senang, ada rasa sedih ketika melihat Saska di Gendong oleh Kania.
Tidak beberapa lama Saska sudah tidur, badan nya sudah lebih enak setelah Kania membersihkan tubuhnya, dan mengoleskan minyak kayu putih dan memberi nya susu.
"Terimakasih yah," ucap Vincent kepada Kania.
"Lain kali jangan membuat anak kalau tidak tau caranya merawat nya," sindiran yang begitu kasar kepada Vincent.
Dia melewati Vincent begitu saja. Malam hari nya..
Badan Saska sudah lebih dingin, Kania memijit-mijit badan Saska sedikit dengan minyak kayu putih.
Vincent hanya bisa diam, melihat Kania.
"Sudah selesai, tidak sakit kan?" tanya Kania dia memakaikan kembali pakaian Saska.
Vincent memberikan susu. "Seperti nya dia merindukan seseorang, mungkin ibu nya sebaiknya berikan dia kepada ibu nya," ucap Kania.
"Bukan Sarah, tapi Minhui."
"Kalau begitu berikan dia kepada mbak Minhui."
"Minhui sampai sekarang belum pulang, Jeki belum menemukan dia ada di mana."
Kania kebingungan kenapa Minhui bisa pergi, Vincent menceritakan semua nya.
Kania hanya bisa menghela nafas panjang mendengar itu.
"Aku tidak tau apa yang kalian pikirkan, kenapa kalian sangat mudah menyakiti hati perempuan."
Vincent mendengar itu hanya bisa diam saja, dia tidak bisa mengatakan apapun selain diam.
"Saska sudah tidur, sebaiknya bawa dia tidur agar bisa istirahat dengan baik."
"Seperti nya dia nyaman bersama kamu, aku takut kalau bersama ku dia akan menangis sepanjang malam."
Kania akhirnya membawa Saska ke kamar. Vincent mau masuk juga namun di hentikan oleh Kania.
"Jangan berfikir aku sudah memaafkan kamu dan menerima semua ini, aku melakukan ini karena aku akan menjadi seorang ibu dan akan memiliki anak."
Vincent menunduk kan kepala. "Baiklah, aku minta maaf, aku akan tidur di kamar sebelah kalau butuh sesuatu kamu Panggil saja."
Kania langsung menutup pintu. Dia membaringkan tubuh Saska dengan lembut di kasur. Cukup lama dia menatap wajah Saska yang terlihat kurus walaupun baru dua hari sakit.
"Untung saja kamu mirip dengan Mas Vincent, kalau mirip dengan perempuan itu mungkin aku tidak akan pernah menyentuh mu," ucap Kania.
"Huff kenapa aku harus membenci anak ini? ini bukan salah nya, dia tidak tau apa-apa," ucap Kania.
Kania berbaring tidak lupa menyelimuti Saska.
Sementara Vincent di kamar nya cukup lega melihat anak nya sembuh.
Dia menghubungi Jeki menanyakan keberadaan nya sekarang ada di mana.
__ADS_1