
Kania melihat suami nya sebentar, dia melihat Vincent sangat asyik bermain di kasur bersama Saska.
Dia tidak ingin mengganggu nya itu sebab nya dia tidak jadi masuk.
Kania menunggu sampai Saska keluar sendiri. Sampai sore Jeki dan Minhui di sana. Akhirnya mereka pulang.
"Humm seperti nya Vincent masih mau sama Saska, apa boleh?" tanya Jeki kepada Kania.
Minhui terdiam sejenak, tidak mungkin dia menolak karena itu adalah anak suami nya.
"Baiklah, tidak apa-apa."
"Kami yakin gak apa-apa Kania? Aku bisa tinggal di sini merawat Saska sampai Vincent sembuh."
Namun Jeki malah keberatan kalau Minhui di sana. Namun kania mengatakan kalau dia tidak apa-apa, dia bisa menjawab Saska sendirian.
Dia juga berharap suami nya cepat sembuh. Mungkin kalau dia di posisi Vincent pasti ingin bersama anak nya.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka pulang. "Kamu bisa telpon kami kalau Vincent sudah sembuh."
"Kamu apa-apaan sih bilang mau tinggal di rumah Vincent sampai Vincent sembuh?" ucap Jeki kesal setelah sudah di dalam mobil.
"Apa yang salah? lagian aku berniat membantu berbuat baik kepada Kania."
"Tidak seperti itu juga Minhui! Jangan bilang kalau kamu mengkhawatirkan Vincent juga kan?" tanya Jeki.
"Jangan ngajak berantem deh, aku sedang tidak mood mau ribut dengan kamu."
"Aku tidak bermaksud mengajak kamu ribut, kenyataan nya seperti itu kan?" ucap Jeki.
"Dia adalah mantan kamu, mau bagaimana pun kalian pernah menjalin hubungan, aku tidak suka kamu perduli kepada nya."
"Terserah kamu saja deh, aku lagi malas ribut."
"Lihat Mamah kamu nak, dia sangat pintar mengalihkan pembicaraan," ucap nya kepada perut Minhui.
Mereka meninggalkan Rumah Vincent. Sementara Kania lupa memberikan hadiah yang di beli nya sebelum nya untuk Minhui.
"Huff karena asik bercerita aku sudah lupa memberikan ini."
"Ah sudahlah masih ada hari esok," ucap Kania.
Dia sudah lama meninggal kan Vincent dengan Saska dia masuk ke kamar.
"Dia sudah tidur?" tanya Kania. Vincent mengangguk.
"Ayo Makan dulu, setelah itu makan obat Sore agar cepat sembuh."
"Perasaan tadi sudah minum obat, sekarang minum obat lagi, pahit sayang..." ucap Vincent mengeluh.
"Bagaimana kamu bisa sembuh kalau tidak minum obat, ini saran dari dokter."
"Tapi aku mau muntah minum itu, aku tidak mau."
"Kamu tidak malu di samping anak kamu seperti ini?" tanya Kania.
__ADS_1
Vincent menoleh ke arah Saska.
"waktu Saska sakit saja dia tidak sulit minum obat, tidak seperti Bapak nya," ucap Kania.
"Kamu tidak bisa membandingkan aku dengan anak kecil."
"Iyah tidak bisa di bandingkan karena mas melebihi anak kecil!"
Vincent langsung cemberut. "Ayo makan, kalau tidak mau aku tidak akan mengurus mas Vincent lagi kalau tidak sembuh besok."
Vincent menghela nafas panjang. Akhirnya dia mau walaupun sedikit. Setelah minum obat Kania tersenyum menatap wajah Vincent.
"Makanya lain kali kalau bekerja punya aturan, aku yakin di kantor mas tidak istirahat dan juga kurang minum dan makan."
"Aku harus memikirkan perusahaan, aku tidak mau perusahaan berantakan."
"Iyah aku tau, tapi kalau kamu sakit semua nya akan jauh lebih berantakan."
Vincent Menatap istri nya. "Apakah aku boleh mandi?" tanya Vincent.
"Belum bisa, badan kamu masih panas."
"Tapi aku sudah bau keringat, bau obat dan semua nya campur aduk, aku takut kamu sama Saska tidak nyaman."
Kania menghela nafas panjang. Dia tidak tahan melihat Suami nya yang terlalu banyak permintaan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membersihkan tubuh mas dengan kain dan air hangat."
Tidak beberapa lama Kania kembali dari kamar mandi, dia mulai membersihkan tubuh suami nya.
Vincent tidak berhenti menatap wajah istri nya. "Apa kamu masih mengingat dulu waktu kecil? Aku sering membersihkan tubuh kamu. Sekarang berbalik kamu yang mengurus ku."
Kania mengangguk. "Aku ingat, kalau waktu bisa di putar kembali mungkin aku tidak akan mau membiarkan kamu menyentuh tubuh ku."
Vincent menghela nafas panjang.
"Kenapa?" tanya nya.
"Aku tidak mau saja," ucap Kania.
Vincent menghela nafas panjang, dia mau mencium bibir Kania namun Kania langsung menghindar.
"Sikat gigi dulu," ucap Kania. Setelah selesai Vincent kembali berbaring. Dia kedinginan dan langsung memakai selimut yang tebal.
"Apakah Saska tidak pulang? Kenapa sudah malam Jeki dan Minhui belum mengambil nya?"
"Mereka sudah pulang, mereka meninggalkan Saska agar kamu cepat sembuh."
"Tapi dia akan membuat kamu semakin kesulitan,," ucap Vincent.
"Sudah, sebaik nya kamu tidur."
"Tapi.."
Tiba-tiba Saska bangun, seperti biasa anak kecil kalau bangun dia pasti sangat rewel.
__ADS_1
Vincent mau menggendong nya namun di tahan oleh Kania.
"Jangan menyentuh nya dulu, badan mas masih panas," ucap Kania langsung menggendong Saska.
Vincent terdiam seribu kata melihat istrinya menggendong anak nya itu.
"Aku tidak mimpi kan? Aku tidak berhalusinasi kan?" batin Vincent.
"Seperti nya dia lapar, aku akan membawa nya ke luar, mas Vincent istirahat, aku masuk ke sini mas sudah harus tidur!"
"Aku ikut yah, aku bosan sendirian di sini."
Namun Kania memasang wajah galak.
Kania keluar membawa Saska. Untung saja Saska bukan anak yang sudah dekat dengan orang lain.
Jeki dan Minhui sampai di rumah. Jeki menemani Minhui masak di dapur.
Namun Jeki menggoda Minhui. "Minhui..." ucap Jeki Saat Minhui menoleh ke arah Jeki dengan cepat Jeki langsung mencium bibir Minhui.
"Apa yang kamu lakukan? ini lagi masak," ucap Minhui.
Namun Jeki tidak perduli.
Minhui tidak bisa terus menolak nya, Jeki mau membawa Minhui ke kamar namun tiba-tiba handphone nya berdering.
"Hufftt, siapa sih yang berani ganggu!" ucap Jeki sangat kesal.
"Kania," ucap Jeki.
"Mungkin Saska," ucap Minhui langsung menjawab.
Dan benar saja seperti nya Saska mencari Minhui. Setelah melihat Minhui Saska kembali senang.
Jeki yang tadi nya sudah di puncaknya, sekarang sangat kesal karena ada yang ganggu.
Walaupun Minhui sedang hamil, hasrat nya semakin tinggi. Dia melihat Minhui sangat menggoda.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. "Jangan coba-coba menyentuh ku!" ucap Minhui langsung.
"Iyah, aku minta maaf."
Minhui Menatap kesal.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga, mereka langsung makan bersama.
"Apakah kamu mau pindah dari rumah ini?" tanya Jeki.
"Mau pindah kemana?" tanya Minhui.
"Ke tempat yang sebelumnya sudah aku beli, sayang kalau tidak di tempati."
"Aku akan melahirkan, Saska butuh tempat yang luas untuk bermain, rumah ini sudah sangat cocok untuk kita."
"Tapi rumah ini banyak kenangan buruk, aku ingin memperbaiki semua nya dengan kamu di rumah baru kita." ucap Jeki.
__ADS_1