
Kania berbaring tidak lupa menyelimuti Saska.
Sementara Vincent di kamar nya cukup lega melihat anak nya sembuh.
Dia menghubungi Jeki menanyakan keberadaan nya sekarang ada di mana.
Namun ternyata Jeki sampai sekarang belum menemukan di mana keberadaan Minhui.
Jeki duduk sendirian di salah satu Cafe. "Aku janji setelah kamu kembali, aku akan berubah, aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi, aku mohon kembali," ucap Jeki.
Jeki melihat sudah jam sepuluh malam, akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah.
Namun saat menuju ke dalam mobil dia tidak sengaja melihat perempuan yang mirip dengan Minhui. Dia mencoba mengejar nya namun ternyata hanya halusinasi nya saja.
Dia masuk ke dalam mobil, tiba-tiba dia melihat mobil putih di kendarai oleh pria dan ada wanita di samping nya dan sangat mirip dengan Minhui.
Awal nya dia berfikir itu hanya halusinasi nya saja, namun dia sangat yakin kalau itu adalah Minhui.
"Itu pasti Minhui, aku tidak mungkin salah, aku harus mengikuti mobil itu," ucap Jeki.
Namun saat memasuki jalan raya mobil itu hilang. "Aku yakin dia pasti tinggal di sekitar sini, aku tidak boleh menyerah," ucap Jeki.
Minhui dan Fikri baru saja sampai di rumah. "Kamu langsung istirahat saja, lain kali jangan melakukan hal yang aneh-aneh lagi," ucap Fikri.
Hari ini Minhui membersihkan rumah Fikri. Sehingga membuat perut nya sakit mereka baru saja pulang dari rumah sakit.
"Aku minta maaf sudah merepotkan kamu."
"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, kamu cukup jaga kesehatan saja sudah membuat ku senang."
Minhui menatap Fikri. "Aku janji tidak akan merepotkan kamu lagi," ucap Minhui.
"Seandainya kamu tau Minhui, aku tidak merasa keberatan kalau kamu merepotkan aku, aku akan melakukan apapun demi kamu," ucap Fikri dalam hati.
"Ah sudahlah," Fikri juga masuk ke dalam kamar nya.
Minhui tidak mandi karena sudah sangat malam, dia langsung tidur.
"Aku sangat merindukan Saska, aku tidak berhenti memikirkan nya sampai sakit seperti ini, apa sekarang dia baik-baik saja?" batin Minhui.
Keesokan harinya...
"Minhui," Panggil Fikri.
"Iyah kenapa?" tanya Minhui.
"Ambil lah ini, kamu pasti mau membeli beberapa keperluan kamu, dan juga jangan lupa membeli baju yang lebih longgar agar Kam nyaman," ucap Fikri memberikan uang kepada Minhui.
"Gak usah Fikri, aku masih bisa pakai yang lama."
"Ambillah ini kalau kamu menghargai aku," ucap Fikri.
__ADS_1
"Kamu bisa naik taksi keluar, aku mungkin akan pulang lebih lambat hari ini, jangan memaksakan diri melakukan hal yang berat-berat," ucap Fikri.
Minhui mengangguk. "Terimakasih banyak yah Fikri," ucap Minhui.
Fikri tersenyum. "Ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu yah," ucap Fikri.
Setelah Fikri pergi Minhui langsung mandi. Dia akan keluar hari ini membeli apa saja yang dia butuhkan.
"Fikri sangat baik kepada ku dari dulu, aku sangat jahat sekali tidak membalas perasaan nya."
"Tapi semua nya sudah terlambat, aku lebih memilih pria yang aku cintai dari pada pria yang mencintai ku dengan tulus."
"Kalau seperti ini tidak mungkin aku berhubungan dengan nya, aku sudah hamil anak orang lain walaupun dia mau menerima nya tapi tetap saja aku merasa bersalah."
Minhui sudah pergi ke tempat yang akan dia tuju.
Sebelum membeli pakaian dia membeli makanan yang dia mau terlebih dahulu. Tidak beberapa lama dia pergi ke toko baju.
"Perut ku semakin hari semakin besar, aku sangat kesulitan," batin Minhui.
Dia terus memilih sampai mendapatkan beberapa. Tidak beberapa lama dia keluar dari sana.
Karena masih ada sisa uang nya dia ingin membeli pakaian anak nya persiapan untuk lahiran.
"Mbak, untuk anak yang baru lahir apa saja yah?" tanya Jeki yang ternyata ada di sana juga.
Minhui belum menyadari itu, dia masih melihat-lihat pakaian anak bayi.
Jeki menarik tangan Minhui. Minhui sangat kaget ketika Jeki menarik tangan nya.
"Akhirnya aku menemukan kamu," ucap Jeki. Minhui menepis tangan Jeki, dia mau kabur namun dengan cepat Jeki menahan Minhui.
"Minhui, aku sudah mencari kamu berminggu-minggu, aku minta maaf."
"Lepas kan aku!" ucap Minhui.
"Apa yang bapak lakukan kepada wanita hamil? jangan jadi laki-laki yang Jahat!" ucap orang yang melihat Jeki menahan tangan Minhui.
"Dia adalah Istri saya," ucap Jeki.
"Enggak! Saya bukan istri nya pak, bawa saya pergi dari dia, dia adalah orang jahat saya sangat takut," ucap Minhui.
"Minhui.... aku minta maaf, aku datang ke sini mau menjemput kamu, aku minta maaf..." Jeki mengikuti Minhui namun di tahan oleh orang-orang di sana.
Jeki tidak berdaya, bisa melihat Minhui sehat saja sudah membuat nya senang.
Minhui sampai di rumah.
"Kenapa dia tau aku di sini?" batin Minhui.
Karena takut dia langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
__ADS_1
Sementara Jeki pulang ke apartemen nya.
"Aku tidak bisa memaksa nya, kelihatan nya dia sangat takut melihat ku," batin Jeki.
"Saya sudah menemukan rumah nya Pak," ucap orang yang membantu nya suruhan Vincent.
"Dengan siapa dia di sini?" tanya Jeki.
"Seorang pria yang seumuran dengan Minhui juga pak,"
"Jadi aku tidak salah lihat tadi malam," batin Jeki.
Di rumah Vincent. Saska sudah tidak panas namun masih lemas dan masih belum mau makan banyak.
Vincent memilih bekerja dari rumah untuk sementara. Sementara Kania masih tetap kuliah seperti biasa.
Di sore hari nya Kania baru saja pulang. Dia melihat Vincent bekerja di meja ruang tamu sambil menemani Saska.
"Kenapa harus dia sih? Kenapa gak beli sendiri saja?" batin Kania karena dia ingin Vincent membeli nya eskrim kesukaan nya.
Dia sudah mencoba membeli sendiri dari luar tadi, namun tetap saja tidak puas.
"Kamu sudah pulang?" Vincent tersenyum melihat Kania.
"Bagaimana keadaan Saska?"
"Dia sudah jauh lebih baik sekarang," ucap Vincent.
"Bagus deh kalau begitu," ucap Kania.
"Apa aku boleh minta tolong?" tanya Vincent sedikit takut.
"Persediaan Pampers Saska sudah habis, susu dan juga sabun nya sudah habis, aku tidak mungkin membawa dia keluar."
"Bisa kan aku tinggal Saska sebentar? kamu mau apa? aku pasti beliin."
"Pas banget," batin Kania.
"Beli eskrim kesukaan ku," ucap Kania. Vincent tersenyum sambil mengangguk.
"Baiklah kalau begitu," ucap nya dia langsung berangkat.
Kania melihat Saska. Setelah Vincent pergi dia duduk dekat Saska memeriksa badan Saska.
"Syukurlah kamu sudah sembuh, jangan rewel lagi."
Saska minta gendong oleh nya. Kania menggendong nya dan membawa ke kamar.
"Seperti nya dia belum tidur siang," ucap Kania dia langsung menidurkan Saska.
Dan benar saja tidak lama Saska langsung tidur.
__ADS_1