
"Jadi kamu sekarang kekasih saya?" tanya Vincent.
"Iyah." jawab Kania.
"Kalau begitu berhenti panggil saya dengan sebutan paman."
"Lalu aku harus panggil apa?" tanya Kania.
"Panggilan untuk sepasang kekasih."
Kania tersenyum.
"Tapi aku mohon jangan ada yang tau tentang hubungan kita," ucap Kania.
"Kenapa?"
Kania diam tidak menjawab, Vincent juga langsung paham.
"Kamu tidak perlu terlalu memikirkan nya, sekarang kamu harus fokus pada pendidikan kamu dan juga, saya," ucap Vincent sambil tersenyum.
Kania mengangguk sambil tersenyum.
Setelah selesai minum akhirnya mereka memilih untuk kembali ke rumah karena sudah terlalu malam, Kania juga besok ada kuliah.
"Malam ini Paman tidak boleh tidur di sini."
"Kenapa?" tanya Vincent bingung karena Kania menghalangi jalan masuk ke dalam kamar nya.
"Aku mau Paman tidur di kamar paman sendiri sekarang dan jangan coba-coba masuk ke sini."
"Kania.. bukan kah kita sudah menjadi kekasih?"
"Justru karena itu, aku mau Paman tidur di kamar yang berbeda dan Paman juga harus menjaga sikap mulai sekarang."
Vincent menghela nafas panjang.
"Baiklah.. Saya akan menuruti permintaan kamu karena saya lagi senang, walaupun setengah sedih."
Kania tertawa kecil mendengar nya. Dia mendekati Vincent.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Vincent karena Kania semakin mendekati nya.
Kania mencium bibir Vincent dengan singkat membuat Vincent tertegun sejenak.
"Selamat malam dan selamat tidur."
Kania langsung berlari masuk ke dalam kamar nya karena sangat malu.
Vincent memegang bibir nya yang di cium oleh Kania.
Dia senyum-senyum.
"Kamu sangat curang Kania, bagaimana bisa kamu mencium saya sementara saya belum mencium kamu, kamu mencuri ciuman saya."
"Siapa yang terlebih dahulu mencuri ciuman dan paman lah yang mengajari aku."
Mendengar itu Vincent semakin malu dia langsung masuk ke dalam kamar nya.
Keesokan harinya...
"Aku yakin pasti Paman belum bangun," ucap Kania sambil keluar dari kamar nya sudah berpakaian rapi.
Namun dia sangat kaget karena melihat Vincent memasak di dapur.
"Wahh wangi sekali, Paman masak apa?"
Vincent terkejut karena Kania tiba-tiba datang.
"Ya ampun Kania, kamu membuat saya terkejut saja."
Kania tersenyum.
"Paman yakin bisa masak?"
__ADS_1
"Saya sudah belajar masak sendiri setelah tinggal di apartemen."
"Serius?"
Vincent mengangguk.
"Wahh akhirnya aku bisa merasakan masakan paman."
"Sssstt!!!! Apa?" Vincent memasang wajah kesal.
"Humm maksud aku pa, pacar aku sendiri," ucap Kania sangat malu sekali.
Vincent tersenyum mendengar itu.
"Nah gitu dong, mulai hari ini kamu harus panggil saya dengan sebutan sayang."
"Sayang? aku rasa panggilan itu sangat aneh, aku belum terbiasa."
"Ssttt!!!"
"Baiklah aku akan belajar tapi untuk sementara paman dulu dan ketika di luar aku akan panggil paman."
"Setuju! Dan jika teman-teman baru atau yang berniat jahat kepada kamu, kamu harus mengatakan kalau saya pacar kamu."
"Hampir seluruh kampus tau kalau Paman adalah paman aku."
Vincent menghela nafas panjang.
"Humm baiklah."
Vincent sedikit memaksa dengan ekspresi wajah nya.
Setelah beberapa lama Akhirnya masakan selesai.
"Kelihatan nya sih enak, tapi aku takut rasanya."
"Kamu tau saya belajar masak karena kamu, saya tidak ingin menyusahkan kamu terus untuk masak kepada saya, anggap saya pagi ini perayaan hari pertama kita pacaran."
Kania tersipu malu mendengar nya.
Kania mulai mencicipi nya, wajah Vincent sangat serius menunggu jawaban Kania.
"Bagaimana? apa itu enak?"
"Humm masih kurang pas, yang ini keasinan dan yang ini terlalu lembek."
"Tapi ini sudah cukup baik."
Mendengar itu Vincent tersenyum.
"Aku akan memakannya."
Vincent mengangguk.
Setelah selesai sarapan Kania berangkat ke kampus.
"Hari ini kamu ada kegiatan apa?" tanya Vincent sebelum Kania berangkat.
"Hanya kuliah saja."
"Bagus deh kalau begitu, segera lah pulang saya mau ngajak kamu makan di luar."
"Apa sebaik nya jangan di luar dulu? Aku masih malu."
"Tenang saja, kamu bisa bersikap seperti biasa."
"Paman tidak ke kantor?"
"Saya akan ke kantor siang nanti, mungkin hanya sebentar."
"Bagaimana dengan tentang perusahaan..."
"Kalau tentang itu saya dengan team masih memikirkan jalan keluar nya."
"Aku berdoa dan selalu berharap kalau Paman pasti bisa memiliki nya lagi."
__ADS_1
Vincent mengangguk.
"Terimakasih, kalau begitu kamu berangkat lah, saya juga akan siap-siap." Kania pun segera berangkat ke kampus.
"Ekhem-ekhem!!" Yuda melihat Kania yang baru saja lewat.
"loh Yuda kamu ngapain di sini?" tanya Kania.
"Kelihatan nya kamu senang banget, ada kabar bahagia?" tanya Yuda.
Kania mendekati Yuda.
"Aku setiap hari seperti ini, kamu sendiri ngapain di sini?"
"Aku sedang menunggu Ulfa."
"Loh Ulfa belum datang?" tanya Kania.
"Belum."
"Nah itu dia."
"Kania..." panggil Ulfa.
"Seperti nya ada yang berbeda dengan kamu hari ini," ucap Ulfa.
Kania tersenyum.
"Senyuman kamu, ada kabar bahagia yah?" tanya Ulfa.
"Enggak ada kok, aku hanya ingin tersenyum saja hari ini, ayo kita masuk ke dalam."
Ulfa menoleh ke arah Yuda, Yuda menggeleng kan kepala nya.
Vincent berangkat ke kantor. Dan benar saja sudah sangat banyak wartawan yang menunggu nya, dia sama sekali tidak melayani nya.
Dia masuk ke dalam dan bertemu semua staf nya termasuk Tomi.
"Selamat siang Pak."
"Selamat siang semua nya, saya senang bisa bertemu dengan kalian semuanya hari ini di sini."
"Kalian sudah mendengar berita itu bukan?" tanya Vincent. Mereka mengangguk sambil memasang wajah sangat sedih.
"Perjuangan kita belum sia-sia, kita masih bisa mendapatkan perusahaan itu."
"Bagaimana bisa Pak? Sekarang perusahaan sudah di ambil oleh direktur Je dan juga semua data-data sudah ada di tangan mereka."
Vincent terdiam sejenak.
"Semua nya tidak perlu khawatir, kita percaya saja kalau kita bisa mendapatkan PT Wir Asia agar semua nya normal," ucap Tomi.
"Sekarang para karyawan yang di sana sudah sangat banyak di pecat Pak, dan sekarang pendapatan kami juga berkurang, kami sudah bekerja Siang malam untuk itu," protes para karyawan.
"Tenang semua nya, kita bisa mengatasi ini."
"Hei semua nya baca lah berita terbaru, PT itu akan di ganti nama."
Vincent mendengar itu sangat terkejut sekali.
"Semua nya tenang, kami akan membicarakan ini terlebih dahulu."
Mereka semua bubar. Vincent masuk ke ruangan nya.
"Kalau seperti ini bisa jadi perusahaan ini dalam bahaya juga Pak," ucap Tomi.
"Bukan hanya itu yang saya pikirkan Tomi, banyak karyawan kita yang di pecat dan sekarang kita memiliki kerugian yang cukup tinggi."
"Di tambah lagi itu adalah warisan orang tua saya."
Vincent sangat pusing, di tambah lagi karyawan yang semakin membuat nya kefikiran.
Vincent tidak akan membiarkan semua karyawan nya terlantar begitu saja.
"Saya akan membantu Bapak, saya sangat paham di posisi Bapak seperti apa." ucap Tomi.
__ADS_1