Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 62


__ADS_3

"Kania..." seketika Vincent sangat lemas mendengar kata-kata itu.


"Kamu ingat yah Kania, sampai kapan pun saya tidak akan membiarkan hubungan kita selesai begitu saja,"


"Aku tidak tahan Paman, aku tidak bisa seperti ini terus. Aku sangat sakit melihat paman pergi bersama wanita itu, menghabiskan waktu luang bersama dia bahkan tidak pernah keluar bersama ku lagi."


"Sedikit lagi Kania, sedikit lagi kamu harus bersabar, setelah perusahaan PT Wir Asia kembali ke tangan saya, semua nya akan kembali baik-baik saja."


"Paman aku tidak bisa, aku tidak bisa seperti ini terus."


"Kania apa kamu tidak bisa mengerti saya? Saya sangat membutuhkan kamu di sini bersama saya sekarang, saya membutuhkan kamu."


Vincent memohon agar Kania tidak meninggalkan nya.


Kania menghela nafas panjang.


"Saya berjanji setia PT Wir Asia kembali saya akan memperbaiki hubungan kita dan fokus pada hubungan kita dan juga saya akan berbicara dengan mami dan juga mamah sama papah."


Kania tiba-tiba menangis. Vincent langsung memeluk nya.


"Kania saya mohon jangan berfikir yang negatif seperti ini, kita fokus sama pekerjaan kita."


Vincent mengelus pipi Kania, meminta nya berhenti menangis.


Setelah selesai berbicara dengan Vincent Kania memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.


"Kania kamu kenapa?" tanya Tomi karena Kania masuk ke ruangan nya sudah cemberut dan mata nya sembab.


Kania tiba-tiba menangis dan Tomi langsung memeluk nya berusaha untuk menenangkan dia.


"Kania tenang kan diri kamu dulu, nih coba minum dulu." ucap Tomi sambil memberikan air putih.


Kania sudah mulai tenang dia menatap Tomi.


"Coba ceritakan ada apa?" tanya Tomi.


Kania diam saja karena dia tidak bisa menceritakan yang sebenarnya walaupun sebenarnya dia butuh teman curhat selain Ulfa.


"Ya udah kalau kamu belum bisa cerita, tenangin diri kamu dulu."


Tiba-tiba Fani masuk.


Dia melihat Tomi yang sedang menenangkan Kania.


"Ada apa?" tanya Fani.


"Tidak apa-apa, kamu ada perlu apa?" tanya Tomi.


"Humm aku mau ngajakin kamu makan di kantin."


"Humm seperti nya aku tidak bisa meninggalkan Kania, kamu pergi sendiri saja yah, jangan lupa beli juga untuk ku."


Fani mengangguk. Tomi masih berusaha menenangkan Kania yang ada di pelukan nya.


"Fani!" panggil Vincent.


Fani berhenti melihat ke arah Vincent.


"Iyah pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu mau kemana?"


"Saya mau beli makan siang Pak."


"Kebetulan banget, saya titipkan juga yah."

__ADS_1


Fani langsung mengangguk.


"Baiklah pak."


Fani pergi.


Vincent melihat ke arah ruangan Tomi dan Kania.


Menghela nafas berat tidak sanggup mau masuk melihat Kania.


Di malam hari nya Vincent pulang bersama Kania karena Vincent memaksa Kania pulang dengan nya.


"Mami malam ini akan nginap di rumah teman nya, Ulfa juga pulang ke rumah nya malam ini karena keluarga nya datang." ucap Vincent.


"Loh kok Ulfa gak ngomong sih sama aku?" ucap Kania dalam hati.


Tidak di jawab oleh Kania dia sudah sangat lelah sehingga tidak ingin memikirkan apapun lagi.


Vincent mengikuti Kania ke kamar nya. Sampai di kamar Kania langsung berbaring.


"Sebaiknya kamu pergi mandi agar lebih segar."


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Aku ingin tidur saja."


"Ayo cepat mandi, setelah ini kita bicarakan masalah kita."


"Aku mau tidur, aku tidak mau mandi."


"Kania.. Kamu sudah beraktivitas seharian di luar."


"Tidak bisa kah langsung tidur saja?"


Vincent menggeleng kan kepala nya.


Kania menghela nafas dia menatap Vincent.


"Aku sangat letih sekali, aku tidak bisa bekerja seperti ini setiap hari nya."


"Jangan menyerah, bagaimana kamu menjadi pemimpin yang baik kalau seperti ini?"


"Aku tidak ingin jadi pemimpin."


"Sekarang berhenti membuat banyak alasan dan segera lah mandi."


"Soal tadi.."


"Sudah saya bilang mandi dulu baru kita membicarakan tentang itu."


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Aku ingin tau apakah setelah PT Wir Asia kembali, paman akan pindah?" tanya Kania.


Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Saya akan tetap di sini bersama kamu, hanya saja mungkin waktu saya akan lebih banyak di PT Wir Asia dan Perusahaan CIA Group akan di tangani oleh kamu."


"Saya sangat yakin kalau kamu bisa."


Kania menatap mata Vincent.


"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?"


"Sebelum saya menjadikan kamu pemimpin di perusahaan saya ingin mengumumkan hubungan kita."

__ADS_1


"Aku yakin tidak akan semudah itu paman."


"Saya paham, saya akan mencoba cari jalan keluar nya."


"Sudah berhenti memikirkan hal itu, saya minta kamu fokus kepada saya, pekerjaan kamu dan juga kuliah kamu."


Kania mengangguk mengerti.


"Kalau begitu pergi mandi sana."


Kania mendekati Vincent memeluk nya.


"Bawa aku ke kamar mandi."


Vincent menggendong Kania di punggung nya.


Namun Kania malah mencium leher Vincent, mencium telinga dan mencoba menggoda Vincent.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Vincent.


"Apakah paman masih ingin mandi sekarang?" tanya Kania terus menggigit telinga Vincent dengan lembut.


"Kalau begitu kita tidak perlu mandi."


Vincent menurun kan Kania dan kedua nya naik ke tempat tidur.


Vincent mencium bibir Kania dengan sangat lembut, Kania membalas nya dengan sangat lembut sehingga keduanya terbuai.


Pagi hari nya Kania terbangun karena mendengar suara Bu Mona dari luar pintu seperti nya dia sedang berbicara dengan seseorang.


"Bu Mona! Kenapa dia sangat cepat datang?" batin Kania.


Kania melihat Vincent yang masih tidur di samping nya.


"Paman bangun, paman bangun."


"Apa sayang? Saya masih sangat ngantuk."


"Bu Mona sudah datang, bagaimana ini?" tanya Kania sangat panik.


Vincent menarik Kania agar tidur lagi bersama nya.


"Paman ayo bangun, bagaimana kalau Bu Mona tau paman tidur di sini?"


Vincent membuka mata nya menatap wajah Kania sambil tersenyum.


"Sebentar lagi mami pasti pergi, dia hanya mengambil beberapa barang nya yang ketinggalan karena hari ini dia dan Heni akan jalan-jalan."


Tidak beberapa lama suara di luar hilang Kania memeriksa nya keluar dan ternyata Bu Mona pergi.


"Hufff akhirnya.." Kania bernafas lega, dia sangat takut ketahuan kalau tidur bersama dengan paman nya.


"Aku seperti wanita simpanan paman saja kalau seperti ini." ucap Kania duduk di pinggir kasur.


Vincent mendekati Kania memeluk pinggang nya.


"Apa kamu mau langsung menikah dengan saya?"


"Plokk!!!" Kania memukul pundak Vincent.


"Auhh, sakit sayang."


"Jangan aneh-aneh deh paman, pacaran seperti ini saja sudah membuat ku takut, apalagi Ijin mau nikah."


Vincent mengelus rambut Kania.

__ADS_1


"Sebaiknya Paman kembali ke kamar paman, aku mau siap-siap ke kampus."


"Ini masih jam enam, apa kamu tidak bisa memeluk saya sebentar saja?" tanya Vincent yang selalu manja ketika bersama Kania.


__ADS_2