
Jeki pergi tidur. Sementara Shela kembali tidur di kasur nya.
Keesokan harinya...
"Tumben banget telat datang?" tanya Shela kepada Saska karena dia sudah menunggu di depan gerbang dari tadi.
"Nganterin Arka jemput motor nya ke bengkel," Ucap Saska.
"Oohh," ucap Shela.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Saska. Shela mengangguk.
"Udah kok kak, kakak sudah sarapan?" tanya Shela.
"Udah kok," ucap Shela.
Mereka berjalan masuk ke dalam.
"Shela..." Panggil Dewi. Shela menoleh ke arah Dewi yang baru saja datang.
"Eh ada kak Saska juga. Pagi kak Saska," sapa Dewi.
"Pagi..." jawab Saska sambil tersenyum.
"Aku dengar-dengar Minggu depan kakak kelas sudah pada libur yah? Yah aku gak bisa ketemu sama crush aku lagi," ucap Dewi.
"Masih bisa kok, masih ada kegiatan sekolah yang lain nya," ucap Saska.
"Ya udah kalo begitu kami masuk kelas dulu yah kak," ucap Shela.
"Aku titip salam sama teman kakak yah, kakak tau lah siapa," ucap Dewi dan masuk ke dalam kelas mereka. Saska hanya bisa tersenyum.
Kakak kelas sudah tidak ada pelajaran. Di jam istirahat seperti biasa Saska akan menunggu Shela di perpustakaan karena mereka sudah janji mau membaca buku di sana.
Namun ternyata Shela tidak bisa karena Dewi memaksa nya untuk menemani nya ke kantin.
Sepulang sekolah, Saska dan Shela mencari kesempatan dan keluar langsung dari sekolah.
"Huff, untung saja tidak ada komentar yang melihat kita," ucap Saska.
"Kata siapa?" ternyata Arka dan Mita sudah lebih dulu di luar.
"Eh kalian kok bisa sini?" tanya Shela.
"Kak Saska ngajakin double date hari ini," ucap Arka. Shela menoleh ke arah Saska.
"Ini maksudnya apa?" tanya Shela. "Aku minta maaf gak bilang dulu sama kamu, kalau kamu gak mau gak apa-apa kok."
__ADS_1
"Kapan lagi bisa seperti ini Shela, jangan nolak, apa lagi bentar lagi kak Saska sudah sibuk dengan urusan sendiri," ucap Arka.
"Aku tidak bilang kalau aku tidak mau, hanya saja kalian sudah tau emang nya mau kemana?" tanya Shela.
"Huff Mita tau tempat yang enak untuk nge date," ucap Arka.
"Mau yah?" ucap Saska. Shela mengangguk.
Dia langsung masuk ke dalam mobil Saska dan duduk di samping Mita karena mereka naik mobil.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di sebuah taman bermain cukup ramai dan Shela baru tau tempat itu. Arka dan Saska juga baru tau sehingga mereka kagum dengan tempat yang ramai pengunjung karena bagus.
Banyak spot foto, banyak penjual barang-barang unik, benda-benda yang cantik, mainan, aksesoris semua nya terlihat sangat menarik.
Shela yang sangat hobi dengan tempat seperti itu sangat bahagia sekali melihat nya.
Dia juga akan mencoba wahana yang sangat menantang di mata nya.
Mereka membeli tiket untuk naik ke wahana kora-kora. Namun Saska ketakutan membuat Shela tertawa.
Tidak hanya di situ saja, Mita dan Shela sangat bersemangat ingin naik wahana ayunan putar, masih banyak yang lain nya.
Namun setelah menghabiskan tiket, Saska pusing dia tidak mau naik lagi, mereka mencari makanan untuk makan terlebih dahulu.
Setelah selesai makan, Shela mengajak Saska membeli beberapa barang-barang yang di jual di sana.
"Kiyowooooookkk..." ucap Saska sangat gemas ketika Shela tersenyum sehingga pipi tembem nya membuat makin imut.
Saska meminta Shela memilih topi untuk nya. Setelah dapat mereka pindah lagi.
Tidak terasa hari semakin gelap. Taman itu terlihat semakin cantik ketika lampu-lampu warna warni hidup.
"Wahhh," Shela mengambil foto, namun ternyata Saska mengambil foto Shela diam-diam.
s
Arka melihat dari tadi Shela dan Saska terlihat sangat bahagia sekali. "Kenapa sih dari tadi kamu merhatiin mereka?" tanya Mita sambil duduk menikmati minuman mereka berdua.
"Aku baru melihat kak Saska sangat bahagia seperti itu, dia tidak mudah tertarik kepada pada orang lain bahkan kepada perempuan."
"Humm bagus dong," ucap Mita.
"Iyah, aku juga senang melihat nya," ucap Arka.
Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari mamah nya. Sebelum mamah nya marah besar mereka harus segera pulang.
Beberapa jam kemudian sudah sampai di rumah, sudah mandi.
__ADS_1
Saska seperti biasa akan membantu Mamah nya di dapur.
"Sebentar lagi perpisahan, kamu sudah bisa libur kan?* tanya Kania.
"Iyah mah, kenapa?" tanya Saska.
Kania menoleh ke arah Vincent, "Papah sama Mamah mau kamu belajar di perusahaan bantu-bantu Papah."
"Kan aku belum bisa apa-apa lah," ucap Saska. "Nanti Papah ajarin. Papah sudah tua, kamu harus bisa mengganti kan Papah."
Saska tidak bisa menolak permintaan orang tua nya, dia hanya bisa mengangguk dan menginyakan.
"Papah sudah memilih universitas untuk kamu, Papah yakin kamu betah dan juga kamu bisa belajar banyak tentang perusahaan di sana."
"Iyah pagi," ucap Saska.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan. Arka menghampiri Saska yang sedang membaca buku di balkon lantai dua.
"Apa kakak gak mau gitu Milih jurusan sendiri, atau jurusan yang Kakak mau? masa Mamah sama Papah yang nentuin terus sih?" tanya Arka yang tidak terima.
Saska tertawa mendengar adik nya itu. "Kakak mau jurusan itu juga kok," ucap Saska.
"Bohong! Aku tau kakak pasti ingin jadi arsitek kan?" ucap Arka. "Itu hanya kelebihan kakak saja, sebenarnya mengikuti jejak papah tidak ada salah nya."
"Huff aku bingung deh sama kakak, apa saja di iyain. kalau seperti ini mamah sama Papah akan terus membandingkan kita berdua dan aku harus mengikuti kakak."
"Kita harus patuhi orang tua kita dek, kalau bukan karena mereka mana mungkin kita ada di dunia ini."
Arka menghela nafas panjang dia duduk di samping Saska.
"Aku pusing, untung saja aku masih kelas satu jadi tidak banyak tuntutan. Bagaimana kalau kita main game saja kak?" tanya Arka.
Saska mengangguk. Mereka segera ke kamar Arka dan menghabis kan waktu main game.
Di rumah Serli. "Sayang... apa yang kamu pikirkan?" tanya Jeki melihat istrinya duduk termenung di ruang TV.
"Enggak ada kok, aku lagi fokus Nonton TV."
"Laura lagi sama Shela?" tanya Jeki. Minhui mengangguk.
"Kenapa wajah kamu terlihat sangat murung? Apa kamu mempunyai masalah?"
"Aku hanya kefikiran bagaimana keadaan Mamah sama Papah sekarang."
"Kenapa kamu memikirkan mereka yang sama sekali tidak memikirkan kamu dan bahkan tidak mau menerima kamu?" tanya Jeki.
"Walaupun seperti itu tapi mereka adalah orang tua ku. sekarang mereka sudah sakit-sakitan dan tidak ada satu pun anak nya yang mengurus nya di rumah."
__ADS_1
"Apa kamu mau menjenguk mereka?" tanya Jeki.