
Bu Mona keluar dari ruangan Vincent.
"Paman apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali tidak mengerti apapun." ucap Kania.
Melihat Kania panik Vince tertawa.
"Kenapa paman tertawa? aku serius!"
"Waktu di depan ibu saya kamu sangat tegar, tegas dan tidak takut, setelah dia pergi kamu langsung merengek seperti anak bayi."
"Apa aku terlihat seperti itu?"
Vincent mengangguk.
"Terlihat sangat menggemaskan, karena itu saya ingin mencium pipi kamu."
"Paman aku serius."
Vincent tersenyum dia mendekati Kania yang berdiri tidak jauh dari Meja di duduk di meja menatap Kania dari atas sampai ke bawah.
"Belajar pelan-pelan, nanti kamu pasti akan tau dan mulai paham."
"Tapi Paman."
"Kebanyakan tapi, kamu tidak akan mengerti, kata mami benar, kamu sudah harus mulai belajar."
Kania duduk dia melihat barang-barang Vincent yang ada di atas meja.
"Apa nanti kalau aku sudah bisa paman akan kembali mengurus perusahaan paman?" tanya Kania.
Vincent mengangguk.
"Kalau begitu aku tidak akan belajar, aku tidak ingin paman pergi."
"Sayang jangan seperti itu, kamu mau buat saya dan juga Omah Opah bangga gak?"
"Aku mau hanya saja aku takut kalau paman tidak ada di sini!"
Vincent tersenyum. "Saya tidak akan pergi meninggalkan kamu, saya hanya kembali mengurus perusahaan peninggalan orang tua saya."
Kania mengangguk paham.
"Paman janji tidak akan meninggal aku?"
Vincent mengangguk, "Saya janji."
Kania langsung memeluk Vincent.
"Tok!! Tok!! Tok!!
Ketukan pintu membuat Kania kaget dia langsung melepaskan pelukan nya dari Vincent.
"Masuk!"
"Selamat Siang pak, saya ke sini karena permintaan Bu Mona, saya di minta mengantarkan barang-barang ini untuk Kania."
Vincent melihat meja kerja, kursi, laptop, komputer.
"Ini untuk apa?"
"Seperti nya ini untuk kamu mulai belajar Kania."
"Aku satu ruangan dengan Paman?" tanya Kania.
__ADS_1
"Iyah, agar kamu lebih cepat paham."
Kania terlihat sangat senang sekali, begitu juga dengan Vincent.
"Oke baiklah, kalau begitu kapan aku mulai bekerja?" tanya Kania.
"Setiap hari setelah kuliah kamu selesai." ucap Bu Mona masuk.
Kania yang awalnya bersifat manja melihat Bu Mona dia langsung tegas.
"Baik Bu."
Bu Mona tersenyum tipis.
"Aku tidak yakin dengan anak dan cucu kesayangan seperti dia bisa menjadi pemimpin," batin Bu Mona.
Kania belum mulai bekerja hari ini jadi dia bisa pulang lebih cepat.
"Ulfa apa kamu berfikir sebaik nya aku menikah saja dengan paman Vincent?" tanya Kania di saat mereka lagi di toko eskrim.
"Uhuk!! Uhuk!! Tiba-tiba Ulfa batuk mendengar Kania mengatakan itu.
"Apa yang kamu maksud Kania?" tanya Ulfa.
"Kenapa kamu terkejut seperti itu? aku hanya berandai saja."
"Apa kamu sudah siap menerima resiko menikah dengan paman kamu sendiri?"
Kania menghela nafas panjang, dia menatap kosong ke depan sambil memasukkan eskrim ke dalam mulut nya.
"Aku siap sih, hanya saja aku tidak tau bagaimana dengan keluarga ku."
"Kenapa kamu begitu ingin cepat menikah dengan paman Vincent sementara lulus kuliah saja kamu belum."
Ulfa bingung harus mengatakan apa, dia juga sudah tau betapa Kania Mencintai pria yang sudah membesar kan nya dengan penuh kasih sayang.
"Eh ngomong-ngomong kenapa kamu sama sekali tidak sedih orang tua kamu sudah meninggal?" tanya Ulfa.
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Aku sangat sedih, aku juga sangat kaget, hanya saja aku tidak perlu menunjukkan nya karena takut paman Vincent dan Omah terbebani."
"Apa kamu tidak penasaran mereka meninggal karena apa?"
"Di usia delapan tahun aku masih sempat bertemu dengan mereka, mereka menitip kan aku kepada paman Vincent berpamitan mau berangkat bekerja di luar."
"Setelah itu?" tanya Ulfa karena Kania tidak pernah menceritakan tentang orang tua nya kepada Ulfa.
"Kata Omah orang tua ku meninggal karena kecelakaan, aku tidak ingin tau lebih jelas karena aku takut aku akan sedih dan kefikiran."
"Kamu yang sabar yah Kania."
"Makasih Ulfa."
"Mamah... Papah... aku sudah mengikhlaskan Kalian, aku minta doa mamah sama Papah untuk kebahagiaan ku di dunia ini," batin Kania.
Walaupun kehidupan Kania cukup rumit, penuh dengan kebohongan namun dia bisa merasakan orang-orang sangat menyanyangi nya, hanya satu orang yang sangat membenci nya yang Kania sendiri tidak tau alasan nya sendiri apa.
Kania dan Ulfa pulang. Namun tersenyum Bu Mona sudah pulang.
"Kania apa pekerjaan kamu di rumah sampai rumah sangat kotor seperti ini? Apa kamu tidak pernah bersih-bersih?" tanya Bu Mona.
"Iyah Bu, aku akan membersihkan nya.".
__ADS_1
"Aku bantuin yah Kania," ucap Ulfa.
Mereka mulai bekerja membersihkan rumah.
"Baru kali ini kita membersihkan rumah bersama seperti ini, aku sangat senang deh," ucap Ulfa.
"Aku minta maaf yah, kamu jadi tidak nyaman di sini." ucap Kania.
Ulfa tersenyum. "Ayo kita lanjut lagi, sebelum paman Vincent pulang kita sudah harus selesai."
Bu Mona melihat Kania dan Ulfa bekerja sama.
Setelah beberapa lama akhirnya selesai Kania dan Ulfa istirahat.
"Apa kamu lelah Ulfa?"
"Cukup lelah Kania karena rumah ini sangat besar sekali."
Kania tersenyum.
"Kalau begitu aku akan traktir kamu Besok sebagai tanda terimakasih nya."
"Sungguh?" tanya Ulfa. Kania mengangguk.
Sudah malam Kania seperti biasa menunggu Vincent pulang.
Namun tidak terasa sudah jam sembilan malam Vincent tak kunjung ada tanda-tanda mau pulang ke rumah.
"Kok belum pulang sih? Kemana paman Vincent?" tanya Kania.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu belum tidur?" tanya Bu Mona.
"Aku lagi nungguin paman Vincent Bu."
"Dia belum pulang, sebaiknya kamu pergi tidur karena besok setelah selesai kuliah kamu harus mulai bekerja."
"Tapi Bu."
"Tidur saja!"
Kania mengangguk dia tidak berani melawan bu Mona dan langsung masuk ke dalam kamar.
Vincent baru pulang jam sepuluh malam, dia tidak melihat Kania menunggu nya.
"Kenapa kamu sangat lama pulang nya nak?" tanya Bu Mona.
"Loh mami belum tidur? Kania di mana?"
"Kamu baru saja pulang sudah nanyain Kania, sebaiknya kamu langsung istirahat saja."
Bu Mona langsung masuk ke dalam kamar nya.
Vincent melihat makanan di atas meja, dia sengaja tidak makan agar makan masakan Kania.
Setelah selesai makan dia baru masuk ke dalam kamar nya.
Tidak melakukan hal apapun lagi selain mandi dan langsung tidur.
Sementara di kamar Kania masih sibuk dengan buku nya.
"Aku tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana aku mulai bekerja Besok? Aku tidak boleh memalukan diri sendiri," batin Kania.
Namun perlahan-lahan Kania mulai mengantuk dan tertidur sambil duduk, untung saja Ulfa sadar dan membenarkan tidur Kania.
__ADS_1