
Jeki tersenyum. "Kalau bisa memilih dia pasti tidak mau memiliki Ayah seperti ku." ucap Jeki.
"Aku juga kalau bisa memilih, aku tidak ingin mengandung anak dari mu," Ucap Minhui sambil terus menyuapi Jeki.
Jeki tersenyum, tangan nya menyentuh perut Minhui.
"Maafin Mamah mu yah nak, dia memang berbicara cukup kasar tapi hati nya sangat baik, buktinya Papah di urus," ucap Jeki.
Minhui menghela nafas panjang. Setelah selesai makan Minhui mengurus Jeki. Karena rumah sudah ada yang ngurus jadi itu sangat mempermudah Minhui.
sepanjang hari Minhui sangat khawatir dengan keadaan Jeki yang tak kunjung sembuh, badan nya semakin panas.
Jeki tidak mau berobat, Minhui hanya memberikan obat dari apotik.
"Minhui....." panggil Jeki.
Minhui baru saja keluar tapi sudah di panggil.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Minhui.
Jeki menunjuk ke arah kepala nya.
Minhui memijit-mijit kepala Jeki sampai dia tertidur.. Namun tidur Jeki sama sekali tidak nyaman.
"Aku harus apa biar kamu sembuh? Kalau seperti ini terus ini akan semakin parah."
Jeki Menatap wajah Minhui. "Kalau kamu mencium ku, aku pasti sembuh," ucap Jeki.
"Serius Jeki! Aku tidak bercanda."
Jeki tersenyum. "Nanti pasti sembuh kok."
Minhui akhirnya mencium pipi Jeki dengan cepat.
"Belum terasa," ucap Jeki.
"Jeki!" ucap Minhui dengan kesal.
"Muach!! Muach!! Muachh!!" Minhui mencium Jeki sangat cepat bekali sampai Jeki tersenyum bahagia.
"Puas kamu sekarang?" ucap Minhui..Jeki mengangguk.
"Huff kepala ku terasa jauh lebih ringan sekarang, terimakasih yah," ucap Jeki.
"Jangan lebay deh," Minhui mau pergi tapi di tahan oleh Jeki.
"Mau kemana?"
"Aku harus menemani Saska,"
"Ada Bibik menjaga dia, aku ingin kamu di sini," ucap Jeki.
Minhui harus sabar menghadapi Jeki. Maklum lah kalau sakit seperti itu.
Sementara Vincent di depan kampus Kania sudah menunggu cukup lama, namun Kania tidak kunjung keluar.
"Ini sudah jam waktu pulang, kenapa sampai sekarang dia belum keluar juga?" batin Vincent.
__ADS_1
"Pak Vincent, bapak menunggu siapa?" tanya dosen.
"Saya menjemput istri saya Pak, apa Bapak melihat nya?" tanya Vincent.
"Loh bukannya dari tadi sudah pulang? sudah beberapa menit yang lalu Kania pulang bersama teman nya pak."
"Oohh udah pulang yah pak, ya sudah kalau begitu saya permisi dulu."
"Huff seperti nya dia masih kesal kepada ku sehingga menghindari aku."
Dia menghubungi nomor Kania, tidak beberapa lama Kania menjawab nya.
"Kamu di mana? Aku dari tadi sudah menunggu kamu di depan kampus."
"Aku tidak meminta mas untuk jemput aku," ucap Kania.
"Ya sudah kalau begitu kamu sekarang di mana?" tanya Vincent.
"Aku di luar bersama teman-teman ku, ada yang harus kamu lakukan," ucap Kania.
"Ada apa?" tanya Vincent.
"Kami sudah mau jalan, sebaik nya aku tutup dulu mas," ucap Kania.
Vincent menghela nafas panjang, dia kembali ke perusahaan dalam keadaan kesal.
"Bapak datang sendirian? Kania mana?" tanya Tomi.
"Kebetulan sekali kamu di sini, mari kita bicara," ucap Vincent.
Mereka berjalan ke lantai atas. Fani melihat itu.
"Ada apa pak?" tanya Tomi.
"Sebelum nya saya mau berterima kasih kepada kamu yang sudah mau menolong saya di perdebatan kami kemarin."
Tomi mengangguk. "Sama-sama Pak."
"Saya juga mau bilang sama kamu, kalau suatu saat nanti Kania bertanya tentang itu, katakan saja seperti kemarin."
Tomi terdiam sejenak. "Tunggu Pak, sebenarnya apa yang sedang Bapak sembunyikan? Kalau Kania tau dia pasti akan marah Pak."
"Apakah Bapak berhubungan lagi dengan mbak Sarah?" tanya Tomi.
"Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh, saya tidak memiliki hubungan lagi dengan Sarah. Hanya saja..."
"Katakan ada apa Pak, mau bagaimana pun Kania sudah seperti adik saya sendiri," ucap Tomi."
"Saya memiliki anak dari Sarah."
Deg...
Tomi Menatap Vincent seperti tidak percaya dengan yang dia dengar.
"Sarah depresi karena saya meninggalkan nya masa-masa hamil nya, pada saat itu saya tidak tau dia hamil."
"Dia berada di rumah sakit jiwa cukup lama karena aku, aku hanya ingin menebus kesalahan ku, dan mengurus anak ku."
__ADS_1
"Kenapa bapak tidak jujur saja kepada Kania?"
"Kalau kamu di posisi Kania, apa kamu akan menerima nya?" tanya Vincent.
Tomi terdiam, dia tau itu Fakta yang cukup sulit di terima.
Apalagi hubungan Kania dengan Vincent berbeda dengan orang lain. Karena Kania sebelum nya adalah keponakan Vincent.
"Jadi menurut mu, aku harus melakukan apa?"
"Apa menurut bapak menutupi semua nya seperti ini sudah membuat semua nya baik-baik saja?"
"Saya akan membantu Sarah sampai sembuh, sampai benar-benar sembuh sampai dia bisa menjaga anak kami."
Tomi bingung harus mengatakan apa karena dia juga pusing memikirkan itu.
Kalau Kania tau, mereka sudah tau kalau dia akan marah besar dan tidak akan menerima hal itu.
"Saya mohon agar kamu menyembunyikan nya dr Kania."
"Sebaiknya bapak mencari waktu untuk jujur, walaupun nanti Kania tidak menerima, tapi bapak tetap harus jujur."
Vincent mengangguk. "Saya mengerti, terimakasih pengertian kamu."
Di malam hari nya Vincent menunggu Kania pulang di sofa ruang tamu nya.
Dia melihat mobil istri nya masuk ke halaman rumah.
"Kenapa kamu baru pulang? Kamu juga tidak menjawab telpon ku," ucap Vincent.
"Aku tidak mendengar nya," ucap Kania.
Dia menyalim tangan suami nya. Vincent mengikuti nya ke dalam.
"Apa kamu lelah? Aku memesan makanan dari luar, ayo kita makan," ucap Vincent.
"Aku sudah makan dari luar, mas bisa makan sendiri saja," ucap Kania.
Vincent menahan tangan istrinya. "Sayang.. Kenapa kamu masih mengabaikan ku? Apa kamu masih marah?" tanya Vincent.
"Aku mau istirahat," Ucap Kania.
"Aku tau, aku salah karena tidak jujur sebelum nya sama kamu, tapi aku sudah minta maaf, aku tidak akan melakukan nya lagi," ucap Vincent.
Kania Menatap Vincent. "Aku minta maaf sayang, apa kesalahan ku sangat besar sehingga kamu mengabaikan ku seperti ini?" tanya Vincent.
"Aku tidak suka di bohongi mas, apapun itu aku tidak suka ketika mas berbohong."
Vincent memegang tangan istrinya. "Aku akan memaafkan Kamu, lain kali jangan melakukan nya lagi."
Vincent mengangguk. Vincent langsung memeluk istrinya.
"Aku ingin jujur Kania, tapi aku tidak siap kehilangan kamu, di abaikan saja seperti ini sudah membuat ku tersiksa," batin Vincent.
"Kamu sudah memaafkan aku kan? Sekarang ayo makan, sebenarnya aku masak sendiri bukan membeli nya."
Kania sebenarnya sudah makan, tapi dia harus menghargai kerja keras suami nya dan memakan nya bersama suami nya itu.
__ADS_1
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan, mereka pergi istirahat.
Vincent mengelus rambut istri nya sampai tidur. "Aku bisa gila kalau kehilangan kamu sayang," ucap Vincent mencium kening Kania.