Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 156


__ADS_3

"Gak apa-apa mah, anggap saja ini masakan pertama aku untuk Mamah setelah menikah dengan mas Vincent."


Bu Mona tersenyum. "Oke baiklah kalau begitu sayang," ucap Bu Mona.


"Oh iya, mamah mandi saja dulu, mamah pasti kelelahan."


Bu Mona tersenyum sambil mengangguk. Kania berjalan ke arah dapur.


"Ada apa sih dengan ku? Kenapa aku tidak berhenti memikirkan mas Vincent?" ucap Kania.


"Apa ada sesuatu yang terjadi? Aku merasa mengkhawatirkan sesuatu."


"Apa karena aku merindukan nya? Hufff ternyata jauh dari suami itu tidak lah enak."


Kania mengalihkan semua perhatian nya untuk memasak, mungkin dengan memasak dia bisa melupakan semua yang ada di pikiran nya.


Di rumah Jeki...


"Saska sudah tidur, kamu bisa balik ke kamar kamu," suruh Minhui kepada Jeki.


"Dia masih kurang enak badan, aku akan tidur di sini satu malam lagi," ucap Jeki.


Minhui melihat Saska. Dia menghela nafas.


Karena sangat mengantuk dia pun tidur di kasur membelakangi Jeki.


"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya Jeki. "Humm.."


"Apa kamu marah tentang tadi?" tanya Jeki.


"Tentang apa?"


"Tentang pertanyaan kamu tadi."


Minhui berbalik dia menatap Jeki.


"Kenapa aku harus marah? aku sudah pasrah ketika anak ini lahir aku akan pergi dari sini."


"Tidak bisa, anak ini juga anak ku."


"Aku yang mengandung nya, aku yang ingin dia hidup dan lahir ke dunia ini."


"Tapi dia adalah anak ku juga, aku juga ingin membesarkan nya."


Minhui menggeleng kan kepala nya. Jeki memegang tangan Minhui menatap nya.


"Aku minta maaf sudah sangat jahat selama ini sama kamu, aku benar-benar minta maaf."


Minhui menepis tangan Jeki. "Apa kamu pikir cukup dengan kata maaf setelah semua apa yang kamu lakukan?"


"Aku tau itu tidak akan cukup, tapi aku benar-benar menyesali semua nya."


"Sudah tidak berguna, aku juga tidak bisa menerima kamu lagi. Aku hanya membutuhkan pendamping selama aku hamil. Setelah aku melahirkan hubungan kita sudah tidak ada."


"Minhui, kenapa kamu berbicara seperti itu?"


"Kenapa? kamu tidak menerima nya, sekarang kita juga sudah tidak memiliki hubungan apapun."


"Kamu masih menjadi pacar ku, aku akan bertanggung jawab atas kehamilan kamu."

__ADS_1


"Aku bisa mengurus diri ku sendiri."


Tiba-tiba Saska menangis karena perdebatan mereka berdua.


"Dia sudah bangun karena kamu," ucap Minhui menyalahkan Jeki.


Jeki hanya diam saja. Saska di tepuk-tepuk dia pun lanjut tidur di antara mereka berdua.


Tidak beberapa lama Minhui juga tidur. Jeki sama sekali tidak bisa tidur karena badan nya sangat gelisah sekali.


Keesokan harinya...


"Kania... Kamu kapan Sampai di sini?" tanya Yuda. Kania tersenyum.


"Aku minta maaf baru bisa melihat keadaan Ulfa sekarang. Apa sekarang dia baik-baik saja?" tanya Kania.


"Ayo masuk ke dalam," Yuda di kontrakan Ulfa karena hanya Yuda yang bisa merawat nya.


"Dia masih demam tinggi, aku juga sudah membawa nya ke dokter namun tetap saja masih demam."


Kania menghela nafas panjang. Dia duduk di pinggir kasur.


Tiba-tiba Ulfa bangun. "Kamu akhirnya datang juga Kania," ucap Ulfa.


"Aku minta maaf yah baru bisa datang, kemarin mertua ku datang."


"Iyah gak apa-apa."


"Nih aku bawain makanan, obat dan juga banyak vitamin. Aku akan bantu kompres badan kamu."


Yuda keluar menyiapkan makanan untuk Ulfa, dan mengupas buah.


"Iyah Kania, sekarang Bibik ku dari kampung butuh bantuan ku, itu sebabnya aku butuh uang tambahan."


Kania menghela nafas panjang. "Kenapa sih mereka tidak mengerti keadaan kamu di sini?"


"Sudah lah, tidak apa-apa, anggap aja ini bantuan untuk keluarga ku sendiri."


Kania tersenyum dia memijit-mijit kepala Ulfa.


Tidak beberapa Yuda datang membawa makanan untuk Ulfa.


"Aku minta maaf yah sudah merepotkan kamu, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap Kania kepada Yuda.


"Tidak apa-apa Kania."


"Ya udah kalau begitu kamu bisa ke cafe sekarang, sekarang ada Kania yang menemani aku di sini," ucap Ulfa.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Yuda.


"Iyah, aku baik-baik saja kok."


Kania menyakinkan Yuda, akhirnya Yuda pergi.


Tidak beberapa lama akhirnya Yuda pergi ke Cafe.


"Kania, ada apa dengan mu? kenapa kamu terlihat sangat sedih?" tanya Ulfa.


Kania menggeleng kan kepala nya. "Gak apa-apa kok."

__ADS_1


"Kamu berani-beraninya menyembunyikan sesuatu dari ku."


"Bukan seperti itu," ucap Kania.


"Lalu?"


"Aku hanya merindukan suami ku."


"Humm, dia baru saja satu hari tidak pulang."


"Tapi aku merasa sangat sedih ketika di tinggal."


"Itu adalah hal wajar, kamu tidak perlu memikirkan nya lebih dalam, bagaimana kalau kamu sakit?"


"Enggak kok,"


"Oh iya ngomong-ngomong apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil?" tanya Ulfa.


Kania menggeleng kan kepala nya. "Belum. Seperti nya tuhan benar-benar mengabulkan doa ku, walaupun terkadang lupa menggunakan pengaman tapi sampai sekarang aku tidak hamil."


"Aku juga belum siap untuk punya anak secepat ini."


"Tapi cepat memiliki anak itu menyenangkan, kamu memiliki teman, katanya juga suami Akan tambah sayang dan pasti nya dia akan menghabis kan waktu bersama kita terus."


Kania tersenyum. "Kamu benar sih, tapi kamu tau kan kalau aku belum siap memiliki anak dari awal."


"Iyah-iyah aku tau."


"Oh iya ngomong-ngomong bagaimana dengan mbak Minhui?" tanya Ulfa.


"Aku sangat ingin tau kabar nya, tapi aku takut mas Vincent tau."


"Kalau kamu mau kesana, ajak aku juga."


"Bagaimana aku mengajak kamu, sementara kamu saja masih sakit seperti ini."


"Aku sakit karena merindukan kamu, sekarang aku sudah sembuh."


Kania tertawa. "Kamu bisa-bisa nya."


Ulfa memegang tangan Kania. Kania kebingungan. "Ada apa?" tanya Kania.


"Aku. berterimakasih kepada kamu sudah mau memberikan Yuda kepada ku, karena kalau tidak ada Yuda mungkin tadi malam aku sudah mati." ucap Ulfa mengingat tadi malam dia demam tinggi.


Kania tersenyum. "Jangan berbicara seperti itu, Yuda itu sudah menjadi milik kamu dari awal."


"Selain itu aku juga mau berterima kasih kepada Allah di berikan sahabat seperti saudara seperti kamu."


Mereka langsung berpelukan. "Aku juga sangat beruntung memiliki sahabat seperti kamu," ucap Kania.


Kania menemani Ulfa di kamar nya seharian. Menonton, main game, bercerita tidur bersama. Menghabiskan waktu seharian hanya di dalam kamar saja.


Tidak beberapa lama Yuda pulang tepat jam tiga Sore. Kania juga sudah bisa pergi karena Yuda sudah pulang.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu?" tanya Yuda setelah selesai mandi.


"Kepala ku masih sangat sakit sekali, badan ku juga lemas."


"Loh kok jadi sakit lagi? kata Kania kamu sudah sembuh," ucap Yuda.

__ADS_1


__ADS_2