Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 150


__ADS_3

"Saya tau kalau Bapak masih pengantin baru, saya juga paham bapak pasti ingin bersama istri terus, tapi Bapak tetap harus bekerja."


"Karena Istri Bapak memiliki banyak kebutuhan."


"Huff kamu tidak perlu menasehati saya, kamu urus saja hubungan kamu dengan Fani, segera nikahi dia."


"Kami berdua masih saling memantas kan diri pak, kami juga akan saling menjaga satu sama lain untuk saat ini karena belum kefikiran untuk menikah."


"Apa kamu normal?" tanya Vincent.


"Saya normal Pak."


"Apa sebelumnya kamu pernah melakukan nya dengan mantan-mantan mu?" tanya Vincent.


Tomi tertawa kecil. "Tidak mungkin lah pak, saya memiliki ibu, saya juga memiliki adik perempuan, saya tidak akan merusak perempuan hanya karena nafsu saja."


Vincent terdiam sejenak. "Saya tidak bermaksud apa-apa pak, tapi saya benar-benar sangat menjaga perempuan."


"Karena kalau kita melakukan hal yang tidak baik, di kemudian hari kita pasti akan mendapatkan masalah."


"Baiklah, kalau begitu mari kita mencari penginapan."


Vincent langsung mengalihkan pembicaraan.


"Tumben banget sih pak Vincent nanya tentang itu, apakah sekarang dia menyadari perbuatannya?" tanya Tomi dalam hati.


Keesokan harinya...


Kania sedang duduk sendiri di salah satu Cafe yang tidak jauh dari kampus nya.


"Ekhem-ekhem.." Ternyata Jeki juga ada di sana dia menghampiri Kania.


"Kak Jeki," ucap Kania kaget.


"Apa saya membuat kamu terkejut?"


"Sedikit kak, apa ada yang penting?" tanya Kania.


Jeki menggeleng kan kepala nya. "Saya hanya mampir membeli kopi, namun ternyata kamu di sini."


Kania tersenyum. "Humm ngomong-ngomong bagaimana kamu dengan suami mu?" tanya Jeki.


"Baik-baik saja kak."


"Oohh bagus deh."


"Kenapa kamu di sini sendirian? Apa kamu menunggu Vincent?"


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Aku hanya mau memeriksa tugas ku sebentar kak. Lagian mas Vincent sedang di luar kota," ucap Kania.


"Di luar kota?" tanya Jeki.


"Iyah."

__ADS_1


"Kasian banget kamu sudah di tinggal seperti ini."


Kania hanya tersenyum saja, dia melihat ke arah Jeki seperti mau menanyakan sesuatu tapi bingung.


"Apa kakak mau tanya tentang mbak Minhui kepada ku?" tanya Kania.


Jeki menghela nafas panjang. "Saya tidak tau kepada siapa saya harus bilang dan bertukar pikiran, saya butuh bantuan kamu memberikan saya saran."


"Saran apa kak?" tanya Kania.


"Apa yang harus saya lakukan ketika Minhui mual-mual? Hampir setiap hari nada nya sakit dan dia sangat jarang makan dan wajah nya sangat pucat."


Kania terdiam sejenak dia memikirkan nya karena dia tidak tau pasti nya.


"Bagaimana kalau kakak membawa periksa ke dokter terlebih dahulu?" tanya Kania.


"Tapi..."


"Mbak Minhui tidak akan menolak, kakak tidak pernah khawatir."


Jeki menggaruk kepalanya. "Ada apa lagi kak?" tanya Kania.


"Akhir-akhir ini saya tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan Minhui."


Kania tersenyum. Dia jadi ikut senang karena Jeki sudah mulai sadar.


"Tidak perlu khawatir kak kalau sudah di periksa oleh dokter, dokter akan menjelaskan nya nanti," ucap Kania.


Jeki tersenyum. "Baiklah kalau begitu Kania, terimakasih banyak."


"Oh iya, ini biar saya yang bayar."


"Tidak apa-apa, anggap saja sebagai tanda terimakasih."


Kania tersenyum. Setelah itu Jeki pun pergi.


"Seperti nya anak mbak Minhui membawa kebaikan untuk hubungan mbak Minhui dan kak Jeki, semoga saja kedepannya hubungan mereka semakin membaik."


Tiba-tiba handphone Kania berdering telepon dari suami nya kalau dia sudah sampai di rumah.


Kania langsung mengemasi semua barang-barang nya dan langsung pulang ke rumah.


"Mas Vincent..." Kania baru sampai dan langsung keluar dari mobil berlari ke pelukan suami nya.


"Aku sangat merindukan kamu mas," ucap Kania mencium Vincent.


"Ekhem-ekhem!!" ternyata Tomi masih ada di sana. Kania langsung melepaskan pelukannya.


"Eh kamu di sini juga? Bukan nya Mbak Fani sudah menunggu kamu?"


"Oh iya, aku harus segera menghampiri kekasih ku juga," ucap nya dan langsung pergi.


Vincent tersenyum. "Aku juga sangat merindukan kamu sayang," ucap Vincent mencium bibir Kania. Mereka masuk ke dalam rumah sambil berciuman.


Vincent membaringkan badan Kania di sofa karena sudah saling merindukan satu sama lain sehingga tidak sadar mereka di ruang tamu.

__ADS_1


"Tok!! tok!! tok!!" ketukan pintu kamar Minhui.


Jeki membuka pintu ternyata Minhui sedang tidur siang.


Satu jam kemudian dia bangun, dia heran kenapa kamar nya tiba-tiba rapi, semua nya sudah bersih dan juga wangi.


Dia keluar kamar namun ternyata di sebelah kanan arah tempat pencucian kain terbuka.


Minhui penasaran dia melihat dan ternyata Jeki sedang menjemur pakaian milik Minhui di sana.


"Apa yang kamu lakukan dengan pakaian ku?" tanya Minhui.


"Hum kamu sudah bangun? Aku tidak tahan melihat semua pakaian ini menumpuk di kamar mandi dan juga di kamar mu, bau yang menyengat dari pakaian bisa mempengaruhi kesehatan anak ku."


Minhui sangat malas mencuci pakaian nya, itu sebabnya sangat banyak kain yang menumpuk.


Sebenarnya dia tidak enakan, tapi dia juga senang melihat itu.


"Ini semua sudah selesai, tinggal menunggu kering."


Minhui hanya diam saja. Jeki mendekati Minhui dia melihat ke arah perut Minhui.


"Lain kali jangan pakai baju yang terlalu ketat."


"Kenapa? Pakaian ini sangat nyaman."


Jeki melihat perut Minhui semakin kelihatan walaupun belum terlalu besar.


"Seperti nya dia berkembang dengan baik," ucap Jeki. Minhui mengelus perut nya sambil tersenyum.


"Iyah, terkadang dia sudah bergerak menggelitik perut ku."


Jeki tidak memalingkan pandangannya dari perut Minhui.


"Kamu bisa menyentuh nya," ucap Minhui menarik tangan Jeki ke perut nya.


Jeki merasakan perut Minhui, namun dia langsung melepaskan nya.


"Kamu siap-siap lah, kita akan ke rumah sakit."


"Ngapain?" tanya Minhui.


"Memeriksa kandungan mu, USG untuk melihat perkembangan nya."


"Humm sebaiknya tidak perlu, aku tidak mau menyusahkan kamu karena anak ku."


"Anak itu juga anak ku, kalau dia sakit ketika lahir nanti itu akan menjadi masalah bagi ku."


Minhui menggeleng kan kepala nya. "Tidak apa-apa, aku sudah tau dari awal kalau kamu tidak akan pernah menganggap anak ini, aku juga tidak akan memaksa mu."


Jeki tidak tau mau mengatakan apa, dia juga bingung kenapa Minhui tidak mau.


"Apakah cara penyampaian ku salah? kenapa dia tidak mau?" tanya Jeki kebingungan.


Jeki mengikuti Minhui ke depan. "Kalau tidak USG kita tidak tau jenis kelamin nya apa, dia sudah berapa Minggu dan apa saja yang kurang sehat."

__ADS_1


"Aku tidak mau merepotkan kamu, kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab atau memaksa diri untuk menjaga ku karena aku hamil."


Jeki menghela nafas panjang. "Dengar kan aku, terserah apa saja yang kamu katakan tapi kita harus pergi karena aku sudah membuat janji dengan dokter."


__ADS_2