
Vincent di bawa masuk ke dalam.
Jeki menunjuk ke arah anak yang sedang di suapin makan oleh suster yang bekerja di sana di pekerjaan khusus menjaga anak itu.
Vincent langsung merinding dan merasakan perasaan yang tidak karuan ketika melihat anak laki-laki yang sangat mirip dengan nya.
Vincent dan Jeki duduk di depan bersama pengurus yayasan menunggu anak itu selesai mandi.
Tidak beberapa lama akhirnya dia datang, suara nya sudah terdengar.
"Saska.. Sini nak," ucap ketua yayasan.
"Ta.. Tah.. Tah...," sambil belajar berjalan dia mendekati ketua yayasan namun dia terjatuh tidak jatuh dari kaki Vincent.
Vincent langsung mengangkat nya. "Papah... Papah..." anak itu menatap wajah Vincent.
"Anak ini.. Aku bisa merasakan ikatan batin dengan nya," batin Vincent.
Vincent tiba-tiba menurunkan anak itu dan Saska menangis. "Dia sedikit rewel kalau bertemu dengan orang baru." ucap ketua yayasan itu.
"Apa kedatangan bapak ke sini mau mengambil nak Saska?"
Jeki menggeleng kan kepala nya. "Bukan saya Bu, tapi Pria ini. Ini adalah Ayah kandung nya."
"Pantesan saja sangat mirip sekali dengan Bapak. Apa bapak mau membawa Saska?" tanya Ketua yayasan.
"Seperti nya untuk sekarang belum Bu, tapi secepatnya saya akan datang menjemput nya."
Tidak beberapa lama akhirnya mereka pulang dari sana. "Bagaimana dengan istri mu? Apa dia akan menerima Saska?" tanya Jeki.
"Aku ingin kau, merahasiakan ini dari Istri ku!"
"Aku tidak bisa berjanji."
"Kalau begitu, aku juga akan mengumumkan kepada semua orang kalau kau menyekap anak pejabat di dalam rumah mu dan bahkan sudah menghamili nya."
"Sialan loe Vincent!"
"Ingat bro, aku adalah Ayah dari keponakan mu!"
Jeki menghela nafas dia menurunkan tangannya yang mau menghajar Vincent.
"Lupakan apa yang sudah terjadi antara kita berdua, aku akan mencari cara bagaimana Saska bisa bersama ku Tampa merugikan siapapun."
"Itu urusan mu!"
"Sekarang kau pasti bingung juga kan dengan anak mu yang mau lahir? Sementara Minhui belum kau nikahin."
"Tidak perlu membahas urusan ku!"
"Aku ingin kau membawa Saska ke rumah mu terlebih dahulu. Di tempat ini dia tidak terawat sama sekali."
Jeki sangat ingin membawa Saska pulang, tapi dia kesulitan untuk menjaga nya.
__ADS_1
Tapi melihat keadaan Saska dia sangat prihatin.
Akhirnya mereka membawa Saska dari sana.
Saska sama sekali tidak menangis dia duduk diam di pangkuan Vincent.
Tidak beberapa lama Jeki dan Vincent sampai di depan rumah Jeki.
"Aku minta maaf karena aku kamu dan Minhui tidak jadi pindah rumah," ucap Vincent.
"Tidak perlu minta maaf, Pria seperti mu tidak memiliki hati nurani!" ucap Jeki.
"Saska tinggal di sini untuk sementara waktu yah nak," ucap Vincent.
Saska anak yang sangat baik, dia mengikuti saja apa yang di katakan oleh Vincent.
Tapi Saska menangis karena Jeki membawa nya keluar dari mobil.
"Maafin Papah yah nak, Papah belum bisa bawa kamu pulang."
Vincent sangat ingin membawa Saska pulang, tapi dia harus memikirkan Istri nya.
"Aku sudah pulang." ucap Jeki.
Minhui yang tadi nya fokus ke tv kaget melihat Jeki pulang begitu cepat dan tidak pulang sendirian melainkan bersama anak laki-laki yang sangat tampan.
"Kamu jangan salah paham terlebih dahulu," ucap Jeki.
"Apa ini adalah anak mu dengan pacar mu itu?" tanya Minhui.
"Aku sudah putus dengan nya, aku tidak memiliki anak dengan nya, anak ini adalah..."
"Jangan bohong! Kenapa kamu membawa nya ke sini kalau ini bukan anak kamu?"
"Minhui dengarkan dulu."
Minhui menggeleng kan kepala nya.
"Aku pikir kamu sudah berubah, aku pikir kamu benar-benar tulus kepada ku akhir-akhir ini, namun ternyata ini adalah tujuan kamu."
"Membawa anak ini ke sini agar aku merawat nya kan? Tidak mau, aku tidak mau."
Jeki menghela nafas panjang. Namun tiba-tiba Saska menangis karena perdebatan mereka berdua.
"Sssstt!! ssttt!! dia takut melihat kita berantem."
"Aku tidak mau mengurus anak mantan kamu, aku tidak mau."
"Ini adalah anak dari adik perempuan ku, bukan anak ku."
Minhui terdiam sejenak. "Adik yang sering aku kunjungi ke rumah sakit jiwa mempunyai anak yang di titip kan di yayasan."
"Aku membawa nya ke sini karena di sana kurang terurus."
__ADS_1
Minhui langsung merasa iba, dia membawa Saska ke gendongan nya.
Jeki terdiam melihat Minhui langsung perduli dan juga menenangkan Saska.
"Aku minta maaf sudah salah paham, biarkan dia tinggal di sini lebih lama."
"Oh iya kita tidak jadi pindah karena rumah ini cukup luas."
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir."
Jeki benar-benar Heran melihat Minhui yang sangat berubah, dia terlihat keibuan ketika menggendong Saska.
"Seperti nya dia masih minum susu, dia pasti sangat haus."
"Minum susu? Kamu bisa memberikan punya kamu sementara waktu terlebih dahulu sebelum aku pergi membeli susu."
"Kamu sudah gila yah? Mana mungkin susu aku berisi sementara aku belum melahirkan."
"Aku tidak paham."
"Sudahlah, sebaiknya berikan makanan saja terlebih dahulu."
Serli sudah banyak belajar tentang mengurus anak, dia sama sekali tidak panik dan tetap santai sambil memberikan makan.
Di malam hari nya Jeki dan Vincent berada di supermarket dan berdiri di depan rak susu yang banyak.
"Minhui bilang kalau Saska harus minum susu, jadi pilih lah susu yang bagus."
"Aku sama sekali tidak tau tentang ini," ucap Vincent.
Vincent mengambil susu paling mahal.
Mereka melihat umur nya dan membeli cukup banyak dan semua keperluan Saska.
Semua nya sudah selesai mereka masuk ke dalam mobil. "Apakah Minhui tidak marah?"
"Huff sebenarnya aku sangat keberatan Minhui yang sedang mengandung mengurus anak mu, tapi dia juga keponakan ku."
"Untung saja Minhui mau mengurus nya, mungkin kalau dia tau itu bukan anak mantan ku melainkan nya anak mantan nya dia pasti akan marah."
"Aku sangat butuh bantuan mu Jeki. Ini demi kebaikan bersama. Aku akan berusaha untuk kesembuhan Sarah."
"Jangan lupa Istri mu, kau sungguh pria berengsek yang berkhianat."
Vincent keluar dari mobil Jeki membiarkan Jeki pulang.
"Hufffttt ini benar-benar sangat gila, bagaimana bisa musuh ku sekarang adalah Paman dari anak ku dan yang merawat anak ku adalah Mantan ku."
"Kamu dari mana sih? Kenapa sangat lama sekali? Saska dari tadi sudah sangat haus," ucap Minhui marah.
Jeki hanya bisa diam. Dia meletakkan semua nya di depan Minhui.
"Ya ampun Jeki, kamu tidak perlu belanja segini banyak nya, lagian kalau tidak cocok dengan Saska pasti terbuang."
__ADS_1