
"Silahkan pak."
Vincent masuk ke ruangan Kania.
Kania menatap wajah Vincent dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku ingin hubungan kita sampai di sini saja mas, sebaiknya mas nikahi Sarah," ucap Kania.
"Kita bisa membicarakan ini baik-baik," ucap Vincent. Namun Kania sudah tidak mau mendengar kan penjelasan apapun.
"Aku tidak ingin berpisah dengan kamu, aku dengan Sarah hanya masa lalu saja," ucap Vincent.
"Aku tau dia adalah cinta pertama mas, dan sekarang kalian memiliki anak. Anak ini harus memiliki masa depan yang baik jangan karena kalian berdua menghancurkan masa depan nya!"
"Apa kita tidak bisa membicarakan ini terlebih dahulu?" tanya Vincent.
"Apa yang ingin mas sampai kan? Apa yang ingin mas bicarakan lagi?" tanya Kania.
"Aku hanya mengurus nya sampai sembuh, aku tidak berniat untuk menikahi Sarah."
"Aku tidak jujur kepada kamu, karena menunggu waktu yang pas, aku takut kamu marah karena ini."
"Justru aku lebih kecewa seperti ini mas, aku tidak bisa menerima ini."
Kania beranjak dari tempat duduk nya namun di tahan oleh Vincent.
"Kania, aku mohon jangan pergi dulu."
"Apa yang akan aku tunggu di sini? Kalau mas adalah laki-laki yang tanggung jawab, sebaiknya mas menikahi Sarah."
Saska tiba-tiba menangis. Vincent terpaksa melepaskan tangan Kania.
Kania langsung pergi. Vincent menenangkan Saska, dia sadar Kania sudah tidak ada di sana dia langsung mencari nya keluar.
Di depan rumah sakit dia melihat istrinya masuk ke dalam taksi entah kemana tujuan nya.
Vincent kembali ke rumah Sarah. Dia melihat Sarah terbaring di tempat tidur.
"Kenapa kamu tega membohongi aku Vincent, kenapa kamu sangat jahat kepada ku?" tanya Sarah.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu."
"Kau sudah meninggalkan aku, kau membiarkan aku hamil seorang diri dan sekarang kau membohongi ku lagi, aku sangat membenci mu!"
Vincent sudah tidak bisa berkata-kata lagi. "Ingatan mu sudah kembali?" tanya Vincent.
"Iyah, sekarang aku sudah ingat betapa jahat kamu, Pria yang tidak memiliki hati!" ucap Sarah memakai Vincent.
"Maafkan aku, aku minta maaf, aku menyesali semua nya."
"Aku tidak ingin bertemu kamu dan anak itu, aku tidak ingin mengingat apapun tentang mu, pergi dari kehidupan ku!" ucap Sarah.
"Saska bagaimana? Dia adalah anak kamu, dia sangat membutuhkan kamu."
Sarah menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak ingin melihat nya, aku tidak ingin tentang mu ada di sini!"
__ADS_1
"Sarah, kamu sadar lah ini Saska anak kamu, walaupun aku melakukan kesalahan tapi dia tetap anak kamu, yang sudah kamu perjuangkan."
Sarah menggeleng kan kepala nya. "Bawa pergi anak itu!"
"Aku melakukan ini semua sampai berbohong kepada istri ku agar kamu sembuh dan bisa merawat Saska," ucap Vincent.
"Sebaiknya kamu keluar," ucap Fadil karena Sarah sudah sangat emosi.
"Tinggal kan aku sendirian, tinggal kan aku, aku tidak mau di ganggu!"
Vincent menghela nafas panjang. "Sebaiknya kamu bawa Saska, tidak mungkin Sarah bisa merawat Saska dalam keadaan seperti ini."
"Bagaimana dengan Sarah?"
"Percaya kepada ku, aku akan menjaga nya."
"Kalau begitu aku percaya kepada mu, aku akan membawa Saska pulang."
Dia menelpon istri nya, namun tidak kunjung di jawab.
Di hari itu juga kania pulang ke Jakarta.
Sampai di bandara dia melihat Tomi dan juga Fani.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kania.
"Kamu baik-baik saja kan? Kamu yang sabar yah."
"Sebenarnya kamu tau kan tentang ini?" ucap Kania.
"Ternyata kamu tidak ada beda nya dengan Mas Vincent," ucap Kania.
Dia langsung pergi, sementara Fani mengabari Vincent kalau Kania sudah sampai di Jakarta.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga di rumah. Kania merapikan semua pakaian nya.
"Kamu mau kemana Kania? Kamu tidak boleh seperti ini," ucap Tomi.
"Lepaskan aku! Jangan ikut campur!" ucap Kania.
Jeki datang melihat Kania.
"Kania," ucap Jeki. Melihat Jeki datang Kania mendekati nya.
"Aku fikir kakak akan jujur kepada ku, namun ternyata sama saja, kalian laki-laki yang tidak bisa di percaya!" ucap Kania.
"Aku minta maaf atas nama adik ku, aku juga minta maaf karena tidak bisa jujur kepada kamu. Kami melakukan itu semua ada alasan nya."
Kania tersenyum tipis. "Alasan apa?"
"Demi kebaikan kamu," ucap Jeki.
"Kebaikan apa? Jadi kalian akan menyembunyikan semua nya ini selama nya? Aku menjadi orang bodoh selama nya?" tanya Kania.
"Wahh, ternyata kalian sekongkol membohongi aku, seandainya kalian di posisi aku, apa yang akan kalian lakukan?" ucap Kania.
__ADS_1
"Kania... kamu jangan terlalu emosi, kamu bisa sakit," ucap Fani.
Jeki tidak bisa berbicara dengan Kania yang masih dalam keadaan emosi.. Karena sudah malam dia memutuskan kembali ke rumah karena sebentar lagi Vincent dan Saska pasti akan sampai.
Mereka memutuskan terbang di malam hari.
Sementara Tomi dan Fani menjaga Kania agar tidak pergi kemana-mana.
"Ada apa Jeki? Kenapa kamu dari tadi diam terus?" tanya Minhui memberanikan diri bertanya kepada Jeki.
Karena dari pagi Jeki hanya diam, terkadang dia kesal entah apa penyebabnya.
"Jangan ikut campur! Kamu urus saja dirimu sendiri."
Minghui kaget dengan perkataan kasar Jeki.
Minhui tau kalau Jeki lagi ada masalah, dia memutuskan untuk membuat Air, meletakkan nya pelan-pelan di samping Jeki.
Dia juga memberikan makanan karena Jeki belum ada makan.
Jeki menghela nafas panjang, dia terpaksa Makan walaupun tidak selera.
Tidak beberapa lama Vincent dan Saska datang.
Minhui kaget Saska kembali lagi dengan Vincent. Setelah Saska di Gendongan nya, dia melihat Jeki menghajar Vincent.
Vincent tidak melakukan perlawanan dia hanya pasrah.
"Ini akibat kau sudah menghancurkan masa depan adik ku," ucap Jeki.
Minhui melerai nya, dia menarik Jeki.
"Sudah! jangan berkelahi di sini," ucap Minhui.
Namun Jeki mendorong Minhui.
Vincent sudah babak belur, akhirnya Jeki mengusir nya.
"Sialan!" ucap Jeki.
Dia baru sadar Saska menangis, sementara Minhui duduk di lantai karena kesakitan.
Dia panik langsung menggendong Minhui ke kamar.
Dokter datang memeriksa Minhui, untung nya tidak terjadi apa-apa.
Vincent baru saja sampai di rumah. Tomi dan Fani melihat Vincent babak belur membuat mereka khawatir.
"Di mana Kania?" tanya Vincent.
"Ada di dalam," jawab Tomi.
Vincent membuka pintu kamar, namun di tutup. Vincent tidak ingin mengganggu, Kania butuh menenangkan diri dia juga harus istirahat agar dia bisa pulih.
Sementara di dalam kamar Kania tidak berhenti menangis. Dia bahkan ketiduran masih menangis.
__ADS_1
Di rumah Jeki. Jeki masih belum mengatakan apapun kepada Minhui dia mengurus Saska agar tidak merepotkan Minhui yang sedang sakit.