
"Seingat ku dulu waktu pertama kali pacaran sih cukup gugup, hanya saja aku tidak terlalu gugup karena kakak tau sendiri kan kalau aku yang mengejar-ngejar Mita."
"Huff, kalau begitu akan sulit berbaur dengan Shela."
"Yah kalau begitu kakak harus bisa mengubah diri lah, mau bagaimana pun Kakak yang harus mencoba menggoda nya."
Tidak beberapa lama akhirnya mereka pergi ke kamar masing-masing untuk tidur.
keesokan harinya...
Kania dan Vincent memaksa anak nya untuk makan malam di luar hari ini. Arka membuat seribu alasan namun Kania mengancam kalau Arka tidak mau datang.
Akhirnya Arka mau datang. Sementara Saska, walaupun dia sangat sibuk dia akan tetap datang walaupun cukup telat.
Hari ini dia tidak akan bisa bertemu dengan Shela karena sangat Sibuk. Shela juga sibuk hari ini jadi mereka sama sekali tidak ada bertemu di sekolah.
Malam hari nya .. Kania dan Vincent sudah menunggu kedua anak nya dari tadi.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
"Dari mana saja kalian? kenapa baru sampai?" tanya Kania.
"Maaf Mah, aku sudah sangat lapar," ucap Arka.
Makanan datang. Mereka mulai makan. "Sebenarnya ada apa sih Mah Pah? Apa yang ingin kalian bicarakan sehingga sampai makan di luar seperti ini?" tanya Saska.
"Sebenarnya diskusi di sini tidak lah bagus, namun sesekali membahas yang penting di luar seperti ini juga bagus untuk kita agar tidak terlalu membosankan." ucap Vincent.
Saska dan juga Arka sangat bingung sekali. "Sebenarnya ada apa sih?" tanya Arka.
"Kamu kan sudah lulus sekolah, Papah ingin kamu masuk di universitas XXX, dan sambil kuliah kamu bantu Papah bekerja."
"Tapi Pah."
"Tunggu dulu, Papah belum selesai berbicara."
"Papah akan mengajari kamu, tidak perlu takut untuk bekerja dengan Papah, karena Papah yakin kamu bisa," ucap Vincent.
Saska tidak bisa menolak. "Baiklah Pah, setelah kuliah aku akan membantu papah."
__ADS_1
"Loh kok setelah kuliah? Bukan nya kamu besok sudah libur? Itu artinya kamu sudah bisa mulai membantu papah bekerja."
Saska menghela nafas panjang. Dia tidak bisa menolak karena itu adalah permintaan kedua orang tua nya. Dan itu juga yang terbaik untuk nya.
Hanya saja dia pasti akan sangat sibuk dan sangat sulit bertemu dengan Shela. Waktu mereka akan terus bertabrakan.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka pulang. Saska menghubungi Shela setelah sampai di rumah namun ternyata Shela seperti nya sudah tidur.
"Huff seperti nya dia sudah tidur, sebaiknya aku jangan ganggu dia dulu deh," ucap Saska.
Saska hanya mengirim kan pesan saja kepada Shela, dia menjelaskan semua nya agar Shela tau dan paham dengan keadaan nya nanti.
Keesokan harinya... Shela bangun dia membuka handphone dan melihat beberapa panggilan dari Kekasih nya dan ada juga pesan panjang dari Saska.
Setelah di buka Shela terdiam sejenak. "Kenapa harus seperti ini sih? seperti nya hubungan kami akan semakin sulit kalau tidak memiliki waktu seperti ini."
"Tapi gak apa-apa deh, ini demi masa depan kak Saska. Aku juga yakin itu adalah tanggung jawab dia sebagai seorang anak."
Setelah selesai dia akhirnya siap-siap ke sekolah. Sementara Saska kali ini bangun pagi dan siap-siap ke kantor ikut dengan Papah nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, dia melihat pantulan tubuh nya di kaca lemari. Badan yang tegak, tinggi dan juga berisi, kulit putih serta wajah yang tegas terlihat seperti bos muda.
Shela tersenyum melihat nya. Dia Langsung membalas pesan Saska.
"Semoga kerja hari ini lancar, semangat yah," ucap Shela dengan pesan suara.
Mendengar pesan suara kekasih nya saja sudah membuat nya senang, di tambah lagi pujian dari Shela.
Dia benar-benar berbunga-bunga. Dia berfikir Shela akan marah karena dia bekerja dengan Papah nya, namun ternyata Shela menyemangati nya.
"Aku sangat bersyukur memiliki kekasih seperti Shela yang sangat pandai membuat ku bahagia."
"Saska... Ayo bangun... ini sudah siang ayo berangkat," ajak Vincent sambil mengetuk pintu. Saska segera keluar dia langsung menutup pintu nya.
"Wahh anak Papah Tampan sekali. Kamu sangat mirip Waktu Papah muda dulu," ucap Vincent.
"Ah Papah bisa saja."
Mereka turun ke bawah. "Humm hari ini kak Saska sudah menjadi CEO muda," ucap Arka meledek.
__ADS_1
"Tunggu giliran kamu arka," ucap Saska. "Tidak mungkin, aku akan menjadi seorang dokter," ucap Arka.
Saska langsung terdiam. "Ayo kita makan dulu."
"Ternyata kamu sangat tampan dan cocok sekali berpenampilan seperti ini." ucap Kania.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka selesai makan dan berangkat ke kantor. Sementara Kania hari ini ada kegiatan di luar itu sebabnya dia juga ikut berangkat setelah anak dan suami nya berangkat.
Di Kantor... Saska berdampingan dengan Vincent, tinggi mereka hampir sama, wajah nya juga sangat mirip. Semua mata tertuju kepada mereka.
"Ya ampun, ini anak pertama pak Vincent kan? Dia sangat tampan sekali. Kalau seperti ini aku akan tambah semangat bekerja dan pasti nya tidak akan libur walaupun hari Minggu."
"Tidak perlu berlebihan seperti itu deh!" ucap teman nya.
"Selamat pagi Pak.. Selamat pagi Saska..."
Semua menyapa seperti biasanya.
Fani menghampiri bos nya. "Fani, suruh Tomi mengumpulkan semua Staf saya akan menunggu di loby." ucap nya .
Setelah semua nya berkumpul, Akhirnya Vincent mengumumkan anak nya akan menjadi tangan kanan nya dan juga akan menggantikan nya.
Jadi semua orang harus menghormati nya sebagaimana dia di hormati di sana.
Sebelum di suruh saja kami sudah pasti menghormatinya pak Saska," ucap para staf dalam hati.
Wajah Saska terlihat sangat dingin dan tegas sehingga mereka semua berfikir kepribadian nya pasti akan sama.
Saska masuk ke ruangan Vincent ternyata sudah di siapkan meja untuk nya. Vincent dan Tomi mulai mengajarkan satu persatu.
Saska pria yang cerdas, dia sudah sedikit paham sebelumnya itu sebabnya sekali di jelaskan dia langsung paham sekarang.
"Selamat bekerja pak Saska," ucap Tomi. "Jangan panggil pak lah, Bapak lebih tua dari saya, nama saja," ucap Saska.
Tomi tersenyum sambil mengangguk. Tomi kembali ke ruangan nya, sementara Saska duduk di kursi nya. Vincent Menatap nya sambil tersenyum.
"Aku tidak menyangka ternyata anak itu akan menggantikan ku, dan aku yakin dia pasti bisa seperti ku," ucap Vincent.
"Kenapa Papah Menatap ku seperti itu?" tanya Saska. "Tidak apa-apa, Papah hanya kagum saja kepada kamu," ucap Vincent. Saska hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Ayo kita lanjut bekerja," ucap Vincent.