
"Tapi aku benar-benar melihat mereka masuk ke dalam mobil yang sama, aku benar-benar tidak salah lihat kok," ucap Kania.
"Sudah ayo kita masuk ke dalam," ucap Tomi. Kania menghela nafas panjang dia masuk mengikuti Tomi.
Vincent bingung kenapa Kania datang bersamaan dengan Tomi.
"Kenapa kalian datang bersama dari luar? bukan nya tadi kamu mau ke toilet?" tanya Vincent kepada Kania.
"Oohh itu, aku mau menjemput Tomi keluar pak," ucap Kania karena di depan para klien nya.
Vincent menatap Tomi dengan tatapan tajam.
"Seperti nya Tomi harus di kasih pelajaran, bagaimana bisa dia mendekati Kania seperti ini? Dan Kania juga terlihat sangat peduli kepada Tomi," batin Vincent.
Tingkat cinta Vincent kepada Kania sudah sangat tinggi, sehingga dia sangat takut kalau Kania bersama Pria lain.
Keesokan harinya Vincent meminta Tomi datang ke ruangannya.
"Ada apa yah pak?" tanya Tomi karena Vincent berdiri di kaca tembus pandang keluar sambil mengantongi kedua tangan nya.
Dia berbalik ketika Tomi bertanya kepada nya.
"Kamu masih bertanya ada apa?" tanya Vincent.
Tomi kebingungan karena dia rasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Saya tidak tau pak, apa saya melakukan kesalahan?" tanya Tomi.
"Benar sekali, kamu melakukan kesalahan itu sebab nya saya meminta kamu ke sini!"
"Tapi pak, saya merasa tidak lalai dalam pekerjaan saya."
"Kesalahan kamu karena sudah berani menyukai Kania kekasih saya."
Tomi terdiam sejenak mendengar itu, dia menatap kebingungan kepada Vincent.
"Tidak perlu berpura-pura kebingungan seperti itu! saya tau kalau kamu menyukai Kania kan? saya sudah memerhatikan beberapa lama ini kamu semakin dekat dengan Kania."
Tomi menggeleng kan kepala nya. "Saya dengan Kania hanya berteman seperti biasa pak, tidak ada hubungan yang spesial,"
"Jangan berbohong kamu! saya tau kamu menyukai Kania."
"Saya memang menyukai Kania/ Berani-beraninya kamu!" tiba-tiba Vincent menarik kerah baju Tomi sebelum Tomi selesai berbicara.
"Saya menyukai Kania karena dia baik, saya tidak menyukai Kania seperti apa yang bapak pikirkan, saya juga sudah menjelaskan ini beberapa kali kepada Bapak." ucap Tomi.
"Apa-apaan ini?" tanya Kania baru saja datang.
__ADS_1
Vincent langsung melepaskan Tomi.. Tomi langsung menjelaskan apa yang terjadi.
Kania menghela nafas panjang. Dia menjelaskan perlahan kepada Vincent yang sudah terlanjur emosi.
Tomi di suruh keluar oleh Kania setelah sudah selesai berbicara dengan Vincent.
"Paman kenapa sih seperti ini?" tanya Kania.
"Saya tidak ingin berbicara," ucap Vincent langsung pindah duduk di kursi nya.
Kania menghela nafas panjang dia mencoba membujuk Vincent dan berusaha juga untuk membuat mood Vincent kembali lagi.
"Ya sudah kalau Paman masih marah, aku paham kok."
Di malam hari nya Kania mendengar kan pembicaraan nya dengan bu Mona. Vincent meminta ijin kepada ibu nya untuk segera menikahi Kania secepat mungkin.
Dia juga berjanji melakukan semua yang di katakan Mami nya asal kan dia di perbolehkan menikahi Kania dalam jangka waktu yang dekat.
Namun bu Mona masih belum bisa memberikan jawaban, Vincent menghela nafas panjang, dia merasa sangat prustasi sekali.
Vincent melihat Kania, dia tidak mengatakan apapun namun pergi begitu saja.
Kania menghela nafas panjang. Dia duduk bersama Ulfa di ruang tamu.
"Tanggapan kamu kepada Paman Vincent seperti apa Ulfa? Aku pusing memikirkan sifat nya yang terkadang berubah-ubah."
Kania menggeleng kan kepala nya. "Ya ampun Kania, kamu pacarnya, kamu juga sudah dari kecil hidup dengan nya namun tidak tau apa mau paman Vincent," ucap Ulfa.
"Aku benar-benar tidak tau," ucap Kania.
"Katakan apa yang membuat paman Vincent begitu emosi seperti itu dan memaksa Bu Mona memberikan restu."
"Dengar baik-baik yah. Dan jawab juga pertanyaan ku." Kania mengangguk.
"Sudah berapa umur Paman Vincent sekarang?" tanya Ulfa.
"Humm sekitar 35." jawab Kania.
"Benar, dan berapa lama kalian saling menyukai?" tanya Ulfa.
"Sudah cukup lama, tapi tidak ada hubungan dengan itu, kamu membuat ku semakin bingung saja."
"Paman Vincent sudah sangat Cocok menikah, dia juga pasti sudah dalam fase serius dalam hubungan, dia pasti sangat sensitif ketika Kekasih yang dia sukai dekat dengan laki-laki lain apalagi usia kalian sangat beda jauh."
"Dan tentu nya paman Vincent pasti ingin cepat menikah seperti teman-teman nya yang sudah memiliki anak, Itu membuat kepala nya pusing itu sebabnya dia sangat posesif dan emosional."
Kania terdiam memikirkan kata-kata Ulfa yang sama sekali tidak dia pikirkan.
__ADS_1
"Paman Vincent khawatir kehilangan kamu karena dia tau kekurangan nya."
"Tapi aku sama sekali tidak berniat seperti itu."
"Nama nya juga khawatir," ucap Ulfa.
"Jadi aku harus melakukan apa?" tanya Kania.
"Apa kamu sangat mencintai paman Vincent?" Kania mengangguk.
"Kalau begitu kamu harus sama-sama berjuang mendapatkan restu dari kedua bela pihak keluarga."
"Tapi aku ingin menyelesaikan kuliah ku," ucap Kania.
"Menikah tidak menghalangi kamu untuk mengejar cita-cita mu."
"Saran dari aku, secepatnya saja menikah sebelum ada banyak masalah yang timbul, tidak baik memperlambat nya."
"berpacaran dengan pria yang lebih tua itu harus sangat serius, karena mereka sudah dewasa," ucap Ulfa.
"Oh iya satu lagi, selain dewasa mereka pasti lebih nafsuan." ucap Ulfa sambil tertawa kecil.
"Aku sedang serius, kenapa kamu bercanda."
"Aku tidak bercanda, yang aku katakan serius."
"Iyah aku tau, aku juga sudah sadar dari sikap paman Vincent, untung saja Bu Mona cukup ditakuti sehingga paman Vincent tidak berani melakukan sesuatu yang seperti itu," ucap Kania.
Ulfa tertawa kecil. "Oh iya setelah menikah dengan paman Vincent nanti, aku yakin kamu pasti tujuh hari tidak keluar kamar karena menahan rasa sakit."
"Ulfa!!!! Berhenti bercanda, kamu membuat ku takut saja."
"Aku yakin punya paman Vincent sangat lah besar, dia juga pasti sangat kuat, badan kecil mu itu pasti dengan gampang di bolak-balik dan di angkat!"
"Tunggu-tunggu dulu deh, kenapa kamu terlihat sangat paham dengan tentang hal seperti ini, apa jangan-jangan kamu sudah pernah melakukan nya?"
"Huss sembarangan saja, walaupun sekali pernah lalai karena mabuk cinta, tapi aku tetap akan menjaga diri ku baik-baik."
"Terus kamu tau nya dari mana?"
"Dari novel," ucap Ulfa.
Kania menghela nafas panjang.
"Huff pantesan saja, aku hampir lupa kalau kamu sangat pecinta novel 21+," ucap Kania.
"Ya gak semua juga kali, hanya beberapa saja."
__ADS_1
"Ya sudah sebaik nya kita tidur, besok masih ada ujian," ucap Kania.