Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 193


__ADS_3

"Tapi kamu gak akan pergi dengan Pria itu kan? Aku tidak bisa kehilangan kamu, aku sangat mencintai kamu."


Minhui tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Jeki sangat senang, dia tidak berhenti memeluk dan mencium Minhui.


Sementara Vincent baru saja pulang jam delapan lewat. "Kenapa lampu rumah mati? apa Kania belum pulang?" tanya Vincent.


Dia membuka pintu namun tidak terkunci. Karena firasat nya tidak baik dia segera mencari istri nya ke kamar.


Dia. sangat kaget mendapati istrinya terbaring lemah di kasur, badan nya berkeringat dan juga wajah nya sangat pucat.


Vincent membawa Kania ke rumah sakit terdekat. Untung nya Kania tidak terlalu parah, di berikan obat dan suntikan dia sudah sehat.


Dokter mengatakan kalau itu karena lagi hamil namun tetap saja Vincent sangat mengkhawatirkan Kania.


"Kalau kamu masih kurang enak badan, sebaiknya di rawat di sini saja," ucap Vincent.


"Aku sudah sembuh, sebaiknya kita pulang," ajak Kania.


"Kenapa kamu tidak menghubungi aku? Kenapa kamu menahan nya sendirian?" tanya Vincent.


"Kamu terlihat sangat sibuk, aku tidak mau mengganggu mas Vincent."


Vincent menghela nafas panjang. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.


Vincent mengambil air hangat, membeli makanan agar istri nya makan. Setelah selesai Vincent menemani istrinya sampai tidur.


Keesokan paginya...


Vincent harus berangkat ke kantor, namun dia tidak bisa meninggalkan istri nya sendirian.


Namun Kania menyakinkan kalau dia sudah membaik, dia akan menghubungi suami nya kalau terjadi sesuatu.


Vincent menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu, Jangan lupa untuk menghubungi ku," ucap Vincent.


Setelah Vincent pergi berangkat, Kania jadi kesepian sendirian di rumah.


"Mau sampai kapan sih mas Vincent sibuk bekerja seperti ini?" batin Kania.


"Kemarin aku memang tidak mau dekat-dekat dengan nya bahkan tidak mau melihat nya, karena aku marah kepada nya, sekarang aku sangat membutuhkan dia di samping ku," ucap Kania.


Kania sangat bosan, dia akhirnya memilih untuk menonton film Korea di tv nya.


Sementara Jeki dan Minhui hari ini memeriksa kandungan Minhui.


Dan ternyata sudah di tentukan tanggal melahirkan nya. Dokter menyarankan operasi hanya saja Minhui mau normal.


Jeki memutuskan mencari rumah sakit yang terbaik bisa membantu Minhui melahirkan.

__ADS_1


"Oh iya Pak, kalau boleh sering-sering berhubungan badan yah, agar jalan si bayi nya terbuka," ucap dokter.


Jeki dan Minhui malah terdiam. "Seperti nya sangat jarang melakukan nya, bayi nya kurang merespon," ucap dokter.


"Ini demi kebaikan bayi nya juga," ucap dokter.


"Baik dokter," jawab Jeki.


Setelah selesai, mereka menunggu hasil USG dan juga menunggu obat.


Kedua nya tidur ada percakapan apapun karena mendengar saran dari dokter tadi.


Entah mengapa kedua nya jadi sama-sama canggung satu sama lain.


Tidak beberapa lama akhirnya pulang. "Apa kamu mau sesuatu?" tanya Jeki kepada Minhui.


Minhui mengatakan apa yang dia mau, dia juga ingin makan karena sangat lapar sekali.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di tempat makan. Saat sedang asik makan seseorang mengenali Minhui.


"Loh, Minghui kamu ternyata di sin? kamu sudah menikah?" tanya teman nya.


Minhui menoleh ke arah Jeki. "Perkenalkan, saya adalah suami nya Minhui."


"Apakah kamu menikah dengan duda?" tanya teman nya lagi."


"Wahh kamu beruntung banget dapet suami Tampan, sebelum nya aku tidak pernah melihat kamu dengan pria ini."


Minhui hanya bisa tersenyum canggung. Dia bingung mau menjawab seperti apa.


Masih banyak pertanyaan dari teman-teman nya membuat dia kebingungan dan sangat takut menjawab nya.


Tidak beberapa lama selesai makan mereka pun langsung keluar dari sana sebelum ada orang lain yang mengenali mereka.


"Di rumah saja pasti sangat bosan, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan ke taman? Atau ke mall?" tanya Dimas.


"Gak apa-apa, lagian Saska juga pasti mau main."


Namun ternyata Jeki membawa mereka berdua ke tempat toko mainan.


Jeki membeli mainan untuk Saska agar tidak bosan di rumah.


Namun kebetulan toko itu bersampingan dengan toko baju perlengkapan bayi."


"Apa kamu mau membeli nya?" tanya Jeki.


"Aku tidak punya uang."


"Aku memiliki uang, aku bekerja untuk kamu dan anak kita."

__ADS_1


Minhui tersenyum. Setelah selesai membeli mainan dia langsung masuk ke dalam toko itu.


Dia sangat greget melihat pakaian bayi yang sangat mungil.


"Walaupun pakaian ini sangat kecil, tapi harganya sangat mahal-mahal," ucap Minhui. "Pilih saja yang kamu mau, aku akan membayar nya, kamu tidak perlu takut," ucap Jeki.


Minhui tersenyum. Dia memilih beberapa pakaian yang benar-benar sangat penting. Jeki meminta Nya untuk membeli lengkap agar besok tidak membeli lagi.


Minhui masih kurang tau apa yang di perlukan, dia pun meminta bantuan kepada orang yang jaga toko.


Dan benar saja, setelah di total mungkin setengah pendapatan perbulan Jeki habis.


Di tambah lagi mainan Saska yang sangat banyak. Minhui tau sangat sulit mencari uang, walaupun Jeki memiliki banyak uang tetap saja dia tidak enak hati.


"Setelah aku melahirkan nanti, aku akan bekerja dan menukar uang kamu."


"Berhenti membuat aku seperti orang lain Minhui, itu sudah menjadi kewajiban ku!"


"Tapi aku tidak enak hati karena menghabiskan uang kamu."


"Kamu bekerja siang malam, namun aku dengan gampang nya menghabiskan nya."


"Sssstt!!! Jangan berfikir seperti itu, ayo kita belanja bahan untuk di dapur," ucap Jeki.


"Tapi aku sudah sangat lelah, pinggang ku sudah pegal," ucap Minhui.


"Aku tidak ngerti harus beli apa saja," ucap Jeki.


"Baiklah kalau begitu, tapi jangan lama-lama yah," ucap Minhui.


Tidak beberapa lama mereka sampai di super market.


Saska yang sangat aktif berlarian kemana pun dia mau. Karena kesal Minhui menahan tangan Saska agar tidak kabur-kaburan.


Jeki mendorong troli, Minhui membeli cukup banyak buah-buahan, dan juga sayuran. Membeli daging ikan untuk Saska, karena Saska sudah lumayan banyak makan nya.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga. Minhui sudah sangat lelah, dia tidak sabar sampai di rumah dan langsung istirahat.


Namum nyata nya setelah sampai di rumah, dia tidak bisa istirahat, dia harus merapikan semua belanjaan nya karena Bibik hanya khusus membersihkan rumah saja.


"Aku bantuin yah," Jeki membantu Minhui di dapur.


Jeki tidak bisa melupakan apa yang di katakan oleh dokter tadi, dia jadi canggung dan tidak bisa mengatakan apapun kepada Minhui.


"Huff bagaimana cara nya mengatakan kepada Minhui, aku yakin Minhui pasti tidak mau melakukan nya," batin Jeki.


"Tapi kalau tidak, aku takut anak ku tidak sehat," batin Jeki.


"Kamu mikirin apa? Dari tadi kamu membersihkan buah tidak siap," ucap Minhui.

__ADS_1


__ADS_2