
Dia mendengar pintu terbuka, ternyata suami nya..
"Mas Vincent sudah pulang?" ucap Kania menyambut suami nya dan menyalim nya.
"Ini sudah sore, kenapa kamu belum mandi?" tanya Vincent.
"Humm aku baru saja pulang dari rumah mbak Minhui," ucap Kania.
"Apa kamu meninggal kan Saska di sana?" tanya Vincent. Kania mengangguk.
Vincent tidak mengatakan apapun, dia hanya diam namun raut wajah nya terlihat sangat sedih.
Dia masuk melewati istri nya.
Kania menyadari kalau Vincent sebenarnya masih ingin Saska di rumah itu.
Tidak ada percakapan di antara mereka sampai malam hari nya.
Beberapa Minggu kemudian...
Minhui sudah kontraksi mau melahirkan. Jeki sangat panik karena pagi-pagi sekali. Dia sudah mau berangkat ke kantor namun istri nya kesakitan.
"Bawa aku ke rumah sakit sekarang, aku sudah tidak tahan lagi," ucap Minhui.
Jeki mengangguk. Namun dia meminta istri nya untuk tenang terlebih dahulu.
Karena biasanya memang sakit, tapi bukan waktu nya melahirkan sekarang.
"Kamu tenang dulu, tarik nafas," ucap Jeki.
"Gak bisa, aku gak tahan. Aaaaa!!!!" dia menjerit sekuat mungkin dan menjambak rambut Jeki dengan sangat kuat.
Jeki membawa Minhui keluar. Saska juga sampai ketakutan melihat Minhui berteriak.
Jeki menyempatkan untuk menghubungi Vincent agar datang menjemput Saska sebentar ke rumah nya.
"Siapa mas?" tanya Kania, Saat sedang perjalanan ke kampus Kania.
"Jeki minta aku jemput Saska karena Minhui kontraksi dan mau melahirkan."
"Ya sudah kalau begitu ayo kita jemput mas, kasihan dia sendirian di rumah."
"Bagaimana dengan kamu?" tanya Vincent.
"Gak apa-apa mas, aku masih lama masuk nya," ucap Kania.
Vincent langsung belok ke arah rumah Jeki. "Cepat mas, dia pasti ketakutan sendirian di rumah."
"Jeki memiliki pembantu, dia pasti ada teman di rumah. Kamu jangan panik seperti itu," ucap Vincent.
"Iyah aku tau, bagaimana kalau dia panik dan menangis?" tanya Kania lagi.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Jeki. Kania langsung segera mengambil Saska yang menangis minta ikut kepada Jeki dan Minhui.
"Tu kan, apa aku bilang dia pasti sangat panik melihat mbak Minhui."
"Jadi sekarang kita membawa nya kemana?"
__ADS_1
"Gak apa-apa, aku bisa membawa nya ke kampus untuk satu hari saja."
"Sebaiknya jangan, kamu bisa kelelahan nanti nya, aku akan membawa nya ke kantor."
Kania tau kalau di kampus pasti tidak di ijinkan membawa anak, mau tidak mau dia memberikan kepada Vincent.
"Setelah pulang kuliah nanti, datang dan jemput diam," ucap Vincent.
Kania mengangguk. S
Di rumah sakit, Minhui sudah sangat berkeringat menahan sakit. Karena belum pembukaan dia harus sabar.
Namun Jeki harus lebih sabar lagi karena yang di lakukan oleh nya serba salah bagi Minhui.
belum lagi rambut, kulit dan baju nya di tarik.
Minhui menggenggam erat tangan Jeki karena menahan sakit.
"Aku gak kuat, aku mau mati." ucap Minhui.
"Gak boleh ngomong seperti itu, kamu harus sabar," ucap Jeki.
Suster mencoba menenangkan Minhui. Jeki tidak kalah panik namun dia berusaha untuk tenang agar Minhui juga ikut tenang.
Melihat Minhui kesakitan dia sangat sedih.
Tidak beberapa lama akhirnya waktu melahirkan anak itu. Dengan sekuat tenaga Minhui mengeluarkan anak itu dari perut nya.
Jeki pasrah di lakukan seperti apa oleh Minhui. Dia hanya berharap anak itu segera keluar karena tidak tega melihat Minhui kesakitan.
"Dokter, apa yang terjadi kepada ibu anak saya? Kenapa dia pingsan?" tanya Jeki.
Dokter langsung menangani nya. Sementara Jeki di suruh keluar.
Bayi nya di bawa untuk di bersihkan terlebih dahulu dan di berikan kepada Jeki.
Ternyata, Kania, Vincent dan Saska sudah menunggu di luar.
Setelah Jeki keluar membawa bayi nya mereka sangat lega.
"Selamat yah bro," ucap Vincent. Jeki mengangguk.
Kania membawa anak itu ke gendongan nya.
"Dia sangat mirip dengan kak Jeki," ucap Kania.
Jeki masih terlihat sangat khawatir menunggu kabar Minhui.
Melihat perjuangan Minhui melahirkan anak nya membuat Vincent kefikiran bagaimana istri nya melahirkan besok.
Badan Minhui lebih besar namun tetap saja susah, sementara istri nya sangat kecil, dia takut istri nya kesusahan.
"Apa yang mas Vincent pikir kan?" tanya Kania karena melamun melihat ke wajah bayi yang masih tidur itu.
"Aku takut nanti kalau kamu melahirkan, aku tidak mau kamu kesakitan."
"Huff bisa-bisanya kefikiran sampai sana, aku masih lama melahirkan mas," ucap Kania.
__ADS_1
"Iyah aku tau, tapi sama saja, kamu akan merasakan hal yang sama seperti Minhui."
Tidak beberapa lama dokter keluar. Jeki masuk mendampingi istri nya yang sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap.
Jeki menangis di pinggir tempat tidur Minhui. Minhui mulai sadar dia melihat Jeki.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa menangis sangat kuat?" tanya Minhui.
"Minhui... akhirnya kamu bangun, aku sangat takut," ucap Jeki.
Minhui menghela nafas, dia memegang perut nya.
"Apa anak kita lahir dengan selamat?"
Kania datang membawa nya, dia memberikan kepada Minhui.
"Dia sangat sehat, wajah nya sangat mirip kepada kak Jeki, jenis kelamin nya perempuan. Selamat yah mbak," ucap Kania.
Minhui membawa nya langsung ke gendongan nya. Suster menyarankan agar segera di susui.
Melihat Minhui kesakitan lagi membuat Jeki memberhentikan anak nya minum.
"Apa tidak bisa di berikan susu bantu saja sus?" tanya Jeki.
"Tidak bisa pak, susu ibu nya sangat banyak, sayang kalau tidak di berikan kepada anak nya.
"Sebaik nya sekarang kau keluar," ucap Vincent menarik Jeki.
"Kau sangat ribut," ucap Vincent.
"Kau tidak tau apa yang aku rasakan, bagaimana kalau Minhui meninggal?" tanya Jeki.
"Sudah menjadi seorang Bapak, tapi tetap saja bodoh, dokter tau yang terbaik untuk Minhui.. tenang kan diri mu, sekarang anak mu dan Minhui selamat."
Jeki menenangkan diri nya terlebih. Vincent membawa nya minum terlebih dahulu di kantin bawah.
Minhui melihat Saska yang hanya diam menatap nya dan juga bayinya.
"Dia pasti syok juga," ucap Kania.
"Makasih yah sudah mau menjaga Saska," ucap Minhui.
"Iyah mbak, sekarang mbak fokus dulu sama kesehatan mbak sendiri," ucap Kania.
Setelah selesai minum Kania menggendong bayi itu lagi.
"Dia sangat cantik sekali," batin Kania.
Vincent masuk ke ruangan itu. "Kamu sudah sangat cocok menjadi seorang Ibu," ucap Vincent.
"Apa mau mencoba menggendong nya?"
Vincent menggeleng kan kepala nya karena takut dia belum bisa.
Kania tersenyum. Setelah seharian di rumah sakit, Vincent dan Kania harus pulang meninggalkan Jeki dan Minhui di sana.
"Sedih banget yah, kalau melahirkan tidak di dampingi oleh orang tua," ucap Kania.
__ADS_1