Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 83


__ADS_3

"Aku membawa semua nya, kalau begitu aku pergi dulu Paman, kembali lah keperusahaan karena bos harus lebih rajin dari karyawan nya."


Vincent menghela nafas panjang karena itu adalah nasehat nya yang di ulangi Kania untuk memperingati diri nya.


"Kalau kamu tidak mengingat apa yang kamu lupakan, saya akan mengingat kan nya," ucap Vincent.


"Katakan lah."


"Kamu melupakan Mencium saya sebelum pergi, karena itu sudah kewajiban kamu sebagai pasangan saya!" ucap Vincent membuat Kania sangat kaget mendengar nya karena sangat ramai orang.


Namun tidak menunggu ijin Vincent mencium pipi Kania. Semua orang yang ada di sana berteriak, Kania sangat kaget dia langsung pamit masuk ke dalam.


"Ahh sial! paman Vincent benar-benar tidak memikirkan bagaimana aku menjalani kehidupan ku di sini setelah apa yang dia lakukan," ucap Kania.


Vincent melihat semua orang yang memerhatikan mereka tadi tersenyum tipis dan kembali ke dalam mobil.


Sesampainya di kantor Vincent seperti biasa akan melakukan pekerjaan nya.


"Permisi pak," ucap Fani yang baru saja masuk ke ruangan Vincent.


"Ada apa?" tanya Vincent.


"Saya mau memberikan surat ini."


"Surat apa ini?"


Vincent melihat surat pengunduran diri Fani.


Vincent menghela nafas panjang. "Kamu yakin mau keluar dari perusahaan ini? Kinerja dan posisi kamu sudah sangat bagus di sini, di tambah lagi masuk ke sini ada seseorang yang bersusah payah membantu mu."


"Saya merasa sudah cukup bekerja di sini pak, situasi ini membuat saya tidak nyaman."


"Apa kamu yakin? Sebaik nya kamu memikirkan nya dengan baik jangan sampai menyesali nya."


Fani tiba-tiba menghela nafas panjang. "Kalau bisa memilih saya tidak ingin keluar pak, di sini sangat menyenangkan."


"Lalu kenapa kamu keluar?"


Fani diam tidak menjawab pertanyaan Vincent.


"Saya bos kamu, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya?"


"Sebenarnya saya sangat canggung kepada bapak mau pun kepada Tomi."


"Baiklah saya akan menandatangani surat ini."


Namun tiba-tiba Fani menarik nya kembali.


"Tapi setelah saya pikir-pikir sebaiknya saya mengurungkan niat saya pak, saya tidak ingin menyia-nyiakan pekerjaan ini."


Dia langsung pamit dan minta maaf membuat Vincent menggeleng kepala Heran dengan sifat Fani.


"Brak!!" tiba-tiba Fani menabrak Tomi yang hendak masuk ke ruangan Vincent.


"Maaf-maaf, aku tidak sengaja!"


Tomi melihat kertas di lantai milik Fani.

__ADS_1


"Surat pengunduran diri?" tanya Tomi.


"Ini milik orang lain."


Tomi melihat nama Fani.


"Kamu mau mengundurkan diri?" tanya Tomi.


Fani diam sambil menunduk kan kepala nya.


"Apa kamu sudah tidak betah bekerja di sini?"


Fani menggeleng kan kepala nya.


"Bukan seperti itu, aku hanya,"


"Apa karena aku? Kamu tidak perlu menghiraukan aku, anggap saja tidak ada yang terjadi karena aku sudah melupakan semua nya."


Tomi langsung masuk ke ruangan Vincent meninggal kan Fani.


"Apa yang kau lakukan di sana Fani? Kamu belum menyiapkan pekerjaan mu tadi." ucap teman nya.


Di malam hari nya..


Kania dan Vincent pulang bersama.


"Mami sudah di rumah?" tanya Vincent karena Bu Mona menyambut mereka.


"Iyah, kalian pasti sangat lapar, ayo makan dulu."


"Wahh Mami pesan makanan dari luar lagi?" tanya Vincent.


"Ayo duduk Kania," ucap Bu Mona.


Kania tidak mengatakan apapun dia hanya diam sambil makan, dia mendengar kan pembicaraan dua orang di depan nya tentang pekerjaan.


Setelah selesai makan Kania langsung mandi.


"Paman buka pintu nya," ucap Kania mengetuk pintu kamar Vincent.


Vincent membuka pintu, Kania sangat kaget karena Vincent hanya menggunakan handuk di pinggang nya.


"Ada apa sayang?" tanya Vincent.


Kania menghela nafas karena melihat Vincent baru selesai mandi namun tidak mengenakan pakaian.


"Saya akan memasang nya sebentar, kamu masuk lah."


Kania duduk di sofa. "Ada apa? kenapa wajah mu terlihat sangat prustasi seperti itu?" tanya Vincent.


"Walaupun sekarang semua nya sudah kembali normal seperti dulu, namun kenapa sifat Bu Mona masih sangat dingin yah?" tanya Kania.


Vincent menoleh ke arah Kania.


"Kamu selalu memikirkan hal yang tidak penting seperti ini."


"Bagaimana aku tidak memikirkan nya, Bu Mona adalah orang tua Paman, aku yakin kalau bu Mona tidak menginginkan aku menjadi menantu nya."

__ADS_1


Vincent duduk di samping Kania.


"Apa perlu saya langsung menanyakan nya?"


"Jangan paman!"


"Kamu sudah tau kan kalau mami selalu bersifat dingin kepada orang lain, dia sudah mulai menyukai kamu, mau bagaimana pun itu kamu akan menjadi menantu nya."


Kania menyenderkan badannya ke sofa.


"Bagaimana hari ini? apa kamu bersenang-senang bersama teman-teman kamu?" tanya Vincent.


"Tidak terlalu menyenangkan, karena mereka semua membawa pasangan masing-masing."


"Kalau begitu ajak lah saya lain kali agar kamu tidak sendirian."


Kania menggeleng kan kepala nya. "Tidak mungkin, mereka semua akan menertawakan ku kalau tau aku berpacaran dengan paman yang selalu memanjakan ku seperti anak sendiri, datang ke sekolah SMA karena aku menangis dan selalu mengantar jemput aku."


Vincent tersenyum.


"Jadi kamu malu?"


"Tentu saja aku malu, mereka pasti akan memasang ekspresi mengejutkan, bergosip di group dan juga menanyakan banyak hal."


"Dan satu lagi, semua teman-teman SMA ku berfikiran mesum."


"Maksud nya."


"Mereka semua adalah penggemar Paman dan sangat ingin di tiduri oleh paman dan kalau tau kita pacaran, mereka akan menanyakan *apakah milik Paman mu besar, aku rasa dia sangat ganas di tempat tidur* mereka akan mengatakan itu."


Vincent tertawa mendengar Kania menjelaskan sifat teman-teman nya.


"Oh iya satu lagi selain tergila-gila ketampanan dan juga otak mesum, mereka juga sangat mahir membuat teman nya sendiri malu. Mereka akan menyebar luaskan kalau aku berpacaran dengan paman ku sendiri karena Tampan, kaya dan sangat tinggi."


Vincent tersipu malu karena tidak sengaja di puji oleh kekasih nya itu.


"Apa yang paman tertawakan? ini sama sekali tidak lucu!"


"Ini sangat lucu," ucap Vincent.


"Lucu? Apa teman-teman ku lucu?"


Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Bukan, kamu lah yang sangat lucu sayang."


Vincent mengelus rambut Kania.


"Lain kali bawa lah saya bertemu dengan mereka semua," ucap Vincent. "Aku tidak akan membiarkan mereka bertemu dengan paman secara pribadi."


"Kenapa? Apakah Paman tidak boleh mengenal kan diri kepada mereka?"


"Bukan seperti itu paman, sekarang status kita sudah berbeda, mereka sangat sulit mengerti walaupun paman menjelaskan nya."


"Saya ingin bertemu dengan mereka, Kapan kalian akan berkumpul?"


"Tidak ada janji, tidak akan pernah," ucap Kania langsung.

__ADS_1


"Jangan berbohong, bukan kah kalian mengadakan acara camping bersama?"


__ADS_2