
"Ssttt Jangan berbicara seperti itu."
Kania menangis dia langsung memeluk Vincent.
"kamu sudah besar namun sangat cengeng sekali."
"Humm Omah sama Opah juga mau ngomong sama kamu."
Vincent menelpon kedua orang tua nya dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kania.
Kania sangat senang sekali walaupun di rayakan kecil-kecilan.
"Saya juga punya hadiah untuk kamu."
Kania menerima kado dan membuka nya.
"Handphone baru?" tanya Kania.
"Handphone kamu sudah cukup lama, saya tau kalau itu adalah handphone kesayangan kamu, tapi kamu bisa memakai handphone ini mengerjakan tugas-tugas kamu."
"Terimakasih banyak paman." ucap Kania langsung memeluk Vincent.
"Sama-sama."
"Apa Paman baru pulang? Kenapa Paman masih memakai baju kerja?"
"Saya baru saja pulang, saya sangat lelah sekali."
Kania menghela nafas panjang.
"Kalau begitu paman istirahat saja."
."Baiklah," Vincent langsung naik ke tempat tidur Kania.
"Loh kenapa Paman malah tidur di sini? ayo bangun, paman tidur di kamar paman saja."
"Jangan ganggu saya. Saya ingin tidur di sini karena dua hari lagi saya akan keluar kota."
Dia menarik tangan Kania dan tidur di lengannya.
Kania menatap wajah Vincent.
Vincent membuka mata nya sekilas.
"Saya janji tidak akan melakukan hal apapun, kamu tidak perlu khawatir."
Kania Mencoba melepaskan pelukan Vincent namun Vincent memeluk Kania dengan sangat erat.
"Kenapa kamu sangat wangi sekali?" tanya Vincent.
Kania tidak menjawab nya.
"Paman," panggil Kania.
"Ada apa?"
"Kenapa paman menyukai aku?"
Vincent membuka mata nya dia menatap wajah Kania. Tangan nya mengelus kepala Kania.
"Karena kamu yang selalu mengerti saya, kamu yang selalu ada dan kamu sangat baik, perhatian bersifat dewasa dan tidak banyak menuntut."
"Bagaimana kalau suatu saat nanti aku tidak seperti itu lagi? Aku hanya berfikir kalau paman menyukai ku karena hal-hal biasa."
Vincent menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Saya memang pria yang tidak baik Kania, tapi saya tau apa yang di mau oleh hati saya."
"Kamu sangat cantik, Mata, senyuman dan juga hidung mu sangat cantik."
Vincent mau mencium bibir Kania namun di tahan oleh Kania. Namun Vincent memaksa nya.
"Selain itu bibir kamu sangat lembut dan manis. Bibir kamu membuat saya candu,"
"Dasar mesum!" Kania memukul lengan paman nya dan berbalik namun tetap saja Vincent memeluk nya.
"I love you Kania," ucap Vincent sambil mencium pucuk kepala Kania.
Kania tersenyum tipis.
Dua hari kemudian...
"Paman sudah mau berangkat?" tanya Kania yang baru saja pulang dari kampus namun melihat paman nya sudah rapi dan membawa koper.
Vincent mengangguk.
"Berapa lama paman akan pergi?"
"Paman tidak bisa memastikan berapa lama karena Paman harus memantau PT Wir Asia selama masalah ini berlangsung."
"Kenapa paman tidak melaporkan ini kepolisi saja? Mereka akan membantu paman mencari kebenaran nya."
"Ini semua kesalahan saya, saya akan menyelesaikan nya sendiri."
"Tapi karena masalah ini Paman sama sekali tidak ada istirahat. Aku mengkhawatirkan kesehatan paman, kalau di sana siapa yang akan mengurus Paman?"
"Kalau begitu menikah lah dengan saya agar kamu bisa ikut dan mengurus saya."
Kania memukul Vincent.
"Aku serius paman."
Kania menatap Vincent.
"Kalau paman tidak memiliki seorang perempuan di sana Paman tidak akan ter urus, kalau begitu aku mengijinkan paman mendapatkan perempuan di sana untuk mengurus Paman."
Vincent langsung menggeleng kan kepala nya.
"Kamu sengaja membuat saya dalam masalah agar kamu memiliki celah membenci saya kan?"
"Saya sudah janji kalau saya ingin membuktikan rasa cinta saya kepada kamu Kania."
Kania sedikit ragu, Vincent memegang wajah Kania menatap nya.
"Kamu jangan ragu, saya bisa sendiri di sana. Kamu berdoa saja agar saya bisa menyelamatkan Saham itu dan semua masalah selesai."
Kania mengangguk. "Seandainya paman paham apa yang aku khawatir kan," batin Kania.
"Berikan saya kesempatan untuk membuktikan kalau di hati saya hanya kamu, saya tidak akan dekat dengan wanita mana pun lagi."
Vincent memeluk Kania. "Saya pasti sangat merindukan kamu, jaga diri baik-baik di sini."
Kania mengangguk dan membalas pelukan Vincent.
Vincent sangat senang karena Kania sudah mau memeluk nya.
Vincent berangkat meninggalkan Kania.
"Huff ingin rasanya aku membawa dia ikut dengan ku," batin Vincent.
Kania masuk ke dalam rumah yang sangat sunyi sekali.
__ADS_1
Di malam hari nya Kania berusaha untuk tidur namun tidak bisa tidur karena teringat Vincent.
"Kira-kira dia sudah sampai Mana yah? kenapa dia tidak kunjung menghubungi aku?"
Menunggu kabar dari Vincent dia ketiduran sampai besok pagi nya.
Setelah pagi dia membuka Handphone nya ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab dari Vincent dan pesan mengabari kalau jam enam pagi dia baru saja sampai.
Kania langsung menelpon Vincent kembali.
"Good morning cantik..." sapa Vincent.
"Apa Paman sampai dengan selamat?" tanya Kania langsung.
"Kamu mengkhawatirkan saya yah?"
Kania diam.
"Saya sampai dengan selamat, saya baru saja sampai di penginapan."
"Bagus deh kalau begitu."
"Kamu kenapa belum siap-siap ke kampus?"
"Aku baru saja bangun mau mandi."
"Kania," panggil Vincent.
"Iyah?"
"Saya..." Kania menunggumu.
"Ada apa Paman?"
"Sudah lah Besok saja, kamu jangan sampai telat ke kampus."
Vincent langsung mematikan sambungan telepon.
"Vincent kamu sangat memalukan! Bagaimana bisa semua image yang kamu bangun dari dulu hancur begitu saja ketika mencintai Kania."
"Aku tidak boleh terlihat sangat mencintai dia, aku juga tidak boleh lebay dan juga merindukan nya baru beberapa jam berpisah."
"Pak Vincent sudah ditunggu di lantai bawah." ucap staf nya.
Vincent mengangguk. Seharian Vincent sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk menghubungi Kania.
Kania juga sibuk dengan urusan nya di kampus sampai malam karena tugas yang sangat banyak di tambah lagi organisasi nya.
Di tempat lain Yuda duduk sendiri di sebuah Cafe.
"Apa benar Ulfa menyukai aku? tapi seperti nya tidak mungkin," ucap Yuda.
Dia memikirkan kata-kata Kania siang tadi.
Ulfa akhir-akhir ini menjaga jarak dengan mereka berdua.
Kania menyampaikan kenapa Ulfa mengabaikan mereka kepada Yuda, namun Yuda tidak yakin karena Ulfa sama sekali tidak menunjukkan rasa suka nya.
"Atau jangan-jangan Kania berbohong agar aku tidak dekat-dekat dengan dia lagi?" tanya Yuda.
Tidak sengaja dia melihat Ulfa bersama teman nya datang ke Cafe itu.
Sekarang Ulfa menghabiskan waktu nya bersama teman-teman satu kelas yang tidak terlalu akrab dengan mereka.
"Ulfa kita bisa bicara sebentar?" tanya Yuda.
__ADS_1
Ulfa menggeleng kan kepala nya.
"Aku baru saja sampai di sini, aku mau makan dulu dan membahas tugas dengan mereka." tolak Ulfa.