Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 66


__ADS_3

Yuda bisa merasakan kesedihan keluarga itu. Sebelum berangkat Ulfa berpamitan terlebih dahulu ke makam ibu nya yang tidak jauh dari rumah.


"Assalamualaikum Bu, aku pamit dulu yah, aku harus melanjutkan kuliah ku seperti apa yang ibu bilang."


"Ibu bilang apapun yang terjadi aku tidak boleh berhenti kuliah dan menjadi Orang sukses agar bisa membuat Ibu bangga."


"Bu sekarang ibu sudah tenang di sana, ibu tidak akan sakit-sakit lagi dan ibu juga tidak akan repot-repot mengurus ku, sekarang aku harus mandiri demi ibu."


"Ibu aku akan datang setelah aku wisuda, aku akan membuktikan kepada ibu kalau aku bisa menjadi anak yang ibu banggakan."


Mendengar Ulfa berbicara seperti itu Yuda menangis.


"Bu Kami pamit dulu yah, aku janji sama ibu kalau aku akan menjaga Ulfa di sana, ibu tidak perlu khawatir."


"Kamu tidak perlu berjanji seperti itu."


"Apa yang salah? Aku yang ingin melakukan nya."


"Ya udah sebaiknya kita langsung pulang agar kita cepat sampai."


Selama perjalanan tidak ada percakapan apapun, Yuda harus banyak memahami Ulfa yang masih berduka.


Sementara Kania di tempat lain baru saja keluar dari Cafe kampus nya mau langsung ke perusahaan.


"Kania!" panggil paman nya yang menunggu di depan."



"Paman! Kenapa dia bisa di sini?" ucap Kania heran.


"apa yang paman lakukan di sini?" tanya Kania.


"Menjemput kamu."


Kania menghela nafas panjang.


"Kenapa paman bisa tau kalau aku di sini?"


"Saya sudah dari kampus kamu, teman kamu bilang kalau kamu sedang di cafe ini."


"Aku bawa mobil sendiri," ucap Kania.


"Kamu selalu menolak ajakan saya setelah kamu bisa bawa mobil sendiri."


Kania menghela nafas panjang dia menatap Vincent.


"Aku sedang tidak mood untuk berbicara dengan paman, sebaiknya paman pergi dan jangan membuat aku marah.


Vincent membuka kaca mata hitam nya dia menatap Kania.


"Saya sudah bilang kalau kamu tidak boleh seperti ini kepada saya."


"Saya belum makan siang, kamu temanin saya." Vincent menarik tangan Kania ke dalam mobil.


"Paman bisa gak jangan memaksa aku?"


"Saya tidak berselera makan kalau tidak bersama kamu."


Kania menghela nafas panjang dia menatap Vincent dengan tatapan tajam.


"Kenapa paman tidak mengajak wanita yang makan malam bersama paman tadi malam?"


"Kania berhenti membahas itu."


"Saya tidak ingin membahas itu lagi."

__ADS_1


"Terserah, tetap saja aku mengingat itu."


"Kamu marah karena tadi malam kita tidak jadi makan malam bersama?" tanya Vincent.


Kania diam tidak menjawab pertanyaan Vincent.


Tidak beberapa akhirnya sampai di tempat makan yang lumayan sepi karena sudah habis jam makan siang.


Vincent memesan makanan dua porsi namun Kania tidak mau Makan dia hanya diam tidak mengatakan apapun.


Setelah selesai makan mereka lanjut ke perusahaan.


"Pak Vincent akhirnya datang, sebentar lagi klien kita akan datang namun data-data belum di siap kan."


Kania langsung masuk dan memeriksa data-data nya setelah itu dia menemani Vincent bertemu klien.


"Ini semua karena Paman, seandainya paman langsung membawa ku ke kantor semua nya pasti sudah siap." ucap Kania.


Vincent yang di marahin oleh Kania hanya diam saja.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka selesai dengan klien.


Kania meninggal kan Vincent yang masih berbicara dengan para klien nya.


"Kania kamu mau minum?" tanya Tomi melihat Kania sudah di ruangan nya. Kania mengangguk sambil tersenyum.


Tomi keluar sebentar tidak beberapa lama kembali membawa minuman dingin untuk Kania.


"Nih minum dulu." ucap Tomi.


"Terimakasih banyak."


"Kalau kamu mau cerita tentang apapun aku akan mendengarkan nya. Jangan murung seperti itu."


"Aku tidak ingin menceritakan apa pun sekarang, aku hanya ingin diam jangan di ganggu."


"Oke baiklah aku tidak akan menggangu kamu."


Kania bersandar di bahu Tomi.


"Tomi apa kau tau rasanya jadi aku?" tanya Kania.


Tomi menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak tau, tapi aku tau rasanya ketika hubungan sedang di uji."


"Apa kamu mengalami masalah juga?" tanya Kania.


Tomi mengangguk.


"Kenapa? apa kamu bertengkar dengan Fani? Aku lihat hubungan kalian baik-baik saja, aku sangat iri kepada Fani yang selalu di cintai dengan tulus."


Tomi tersenyum.


"Kamu benar, aku sangat mencintai Fani, namun namanya hubungan pasti ada saja ujian nya."


Kania tersenyum tipis.


"Aku rasa hubungan ku yang sangat rumit."


"Badai pasti berlalu, kamu jangan mudah menyerah seperti ini dong.


Kania mengangguk.


Dia menatap Tomi.

__ADS_1


"Apa malam ini kamu Sibuk?"


Tomi menggeleng kan kepala nya.


"Enggak, emangnya kenapa?"


"Aku mau kita pergi minum menghilangkan beban pikiran untuk sementara waktu."


"Tapi bagaimana kalau pak Vincent marah? dia akan marah kepada ku."


"Tidak akan, aku yang akan tanggung jawab."


"Mau yah?"


"Ya udah deh, kebetulan aku juga sudah lama tidak minum."


Kania tersenyum. Di malam hari nya Kania dan Tomi keluar dari perusahaan bersama.


"Loh kenapa mobil Tomi di sini?" tanya Vincent karena dia terakhir keluar dari Kantor.


"Pak kenapa mobil Tomi di titip di sini?" tanya Vincent.


"Oohhhh ini Pak, pak Tomi pulang dengan mbak Kania."


"Oohhhh, ya sudah kalau begitu terimakasih banyak pak."


"Tidak biasanya, apa hubungan mereka semakin dekat?"


Baru saja mau menelpon Kania handphone Vincent berbunyi dari Heni.


"Selamat malam.. Maaf aku menelpon kamu malam-malam, aku mau bilang kalau aku mengirimkan makanan ke rumah kamu, semoga kamu suka yah."


"Makanan?"


"Iyah, aku baru saja belajar memasak," ucap Heni.


"Baiklah, terimakasih, saya sedang dalam perjalanan Saya akan menutup telponnya."


Vincent menutup telponnya dan menghubungi Kania. Namun beberapa kali menghubungi Kania tidak di Jawab begitu juga dengan Tomi.


"Mungkin mereka sudah ada di rumah. Sebaiknya aku juga pulang." ucap Vincent.


Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di rumah.


Vincent melihat makanan yang di letat kan di meja luar.


"Kania belum di rumah?" tanya Vincent sendiri karena rumah masih di kunci dan mobil Kania tidak ada di sana.


Kania di club bersama Tomi hanya mereka berdua saja.


Kania mengajak Tomi bermain game, siapa yang kalah harus minum.


Dengan cara seperti itu mereka berdua bisa menghilangkan rasa sedih mereka.


Vincent di rumah sudah semakin khawatir karena sudah jam 12 malam.


Vincent mau mencari Kania ke rumah Tomi namun tidak beberapa lama mobil Kania masuk ke halaman rumah.


Vincent berdiri dan menunggu Kamis keluar.


Dan ternyata yang keluar bukan Kania melainkan Tomi.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa mobil Kania sama kamu? di Mana Kania?"


Tomi menunjuk ke arah dalam, Tomi membuka pintu dan membantu Kania keluar dari dalam mobil dia sudah sangat mabuk sekali.

__ADS_1


__ADS_2