Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 149


__ADS_3

"Mengurus Sarah tidak mudah, Sarah mengalami gangguan jiwa."


"Aku akan mengurus nya, semua resiko nya akan ku tanggung."


"Baiklah kalau begitu, aku akan membantu."


Vincent lega.


Vincent masuk ke ruangan Sarah, dia meletakkan bunga di samping tempat tidur karena Sarah lagi tidur.


"Semoga kamu cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit ini," ucap Vincent.


Vincent tidak bisa lama-lama karena Tomi sudah menelpon nya Tampa henti.


Saat dia berjalan keluar Sarah terbangun, dia membuka mata nya dan melihat punggung Vincent.


"Sarah, kamu sudah bangun?" Fadil masuk ke ruangan Sarah.


Sarah tidak merespon dia hanya diam saja. "Aku harus pergi sekarang, kamu jaga diri baik-baik yah," ucap Fadil mengelus kepala Sarah dan pergi.


Sarah terdiam seperti tidak memikirkan apapun, dia menoleh ke arah samping nya.


Dia melihat bunga mawar di atas meja.


Namun bunga itu membuat nya teringat sesuatu. Dia mengingat di saat Vincent membawakan nya bunga mawar yang begitu besar dan sangat bagus.


Sarah langsung melemparkan bunga itu.


"Pergi! Pergi dari hidupku!" Sarah berteriak sekuat mungkin membuat semua perawat datang dan memeriksa keadaan nya.


"Akhirnya bapak datang juga," ucap Tomi yang menunggu Vincent.


"Maaf, apa semua nya sudah selesai?"


"Sudah pak, kita sudah di tunggu di ruangan Pak Diki."


Vincent dan Tomi meninggal kan gedung itu.


Di rumah Minhui. Minhui baru saja selesai bersih-bersih pinggang nya sangat sakit sekali.


"Uhh!! Pinggang ku sangat sakit sekali," ucap Minhui mencari sesuatu yang dalam laci namun tidak menemukan nya.


Jeki baru saja datang dia melihat Minhui yang sedang Memijit-mijit pinggang nya.


Minhui melihat nya.


"Kamu sudah pulang?" tanya Minhui. Jeki mengangguk.


"Ada apa lagi dengan pinggang mu? Aku sudah bilang tidak perlu melakukan pekerjaan seperti itu lagi."


Minhui hanya diam saja, dia membuka tas kerja nya mengeluarkan sesuatu dan memberikan nya kepada Minhui.


Minhui membuka kresek putih itu. Ternyata di dalam banyak obat untuk wanita hamil, dan aku juga salep untuk punggung dan pinggang yang pegal-pegal.


Ada salep untuk perut agar lebih terawat.

__ADS_1


"Aku mencari ini dari tadi, seperti nya punya ku sebelum nya sudah habis," ucap Minhui.


Minhui mau mengoleskan nya namun tangan nya tidak sampai.


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Minhui kaget karena Jeki mendekati nya dan menarik baju nya lebih tinggi.


"Kalau kamu membutuhkan bantuan kenapa tidak mengatakan nya saja?" tanya Jeki.


Minhui terdiam. "Tidak perlu menarik nya terlalu tinggi."


"Untuk apa kamu malu? kamu lupa yang di dalam perut kamu aku yang sudah membuat nya."


Minhui sangat malu mendengar nya dia sangat kesal namun dia butuh bantuan Jeki.


Minhui sangat menikmati pijitan lembut tangan Jeki, untuk pertama kalinya dia merasakan badan nya enakan, pinggang nya terasa nyaman sekali.


"Huff seperti nya kandungan ku sadar kalau sedang di pijit oleh ayah nya," batin Minhui.


"Sudah selesai, aku akan pergi mandi."


Minhui melihat Jeki pergi begitu Saja.


"Yahh, kenapa cepat banget sih," batin Minhui.


"Hufff sangat menyebalkan, aku baru saja merasakan kenyamanan."


"Tapi aku tidak boleh terlena dan luluh lagi kepada dia, mau bagaimana pun aku tidak bisa melupakan perbuatan nya."


Jeki melihat kamar nya sudah rapi.


Namun ternyata tidak ada sesuatu di meja makan.


"Huff aku sangat Lapar sekali, apa yang harus aku makan?"


Jeki melihat Minhui yang masih menonton didepan TV.


"Apa dia tidak makan sama sekali?" batin Jeki. Akhirnya dia memutuskan untuk merebus mie instan.


Minhui sedang fokus menonton televisi namun dia kaget karena Jeki datang membawa kan nya mie yang sudah masak.


"Makan lah."


"Apa kamu tidak makan di luar? kalau aku tau kamu tidak makan, aku akan masak," ucap Minhui.


Namun Jeki diam, dia makan sampai habis, Minhui hanya memakan nya sedikit, mungkin karena sangat lapar Jeki juga menghabis kan sisa Minhui dan menyimpan piring.


Selesai makan, Jeki memaksa Minhui untuk tidur walaupun masih jam delapan.


Sementara Kania duduk bersama Ulfa. "Apa kamu nyaman bekerja di lingkungan yang tidak bagus seperti ini?" tanya Kania.


"Maksud nya? Lingkungan tidak bagus bagaimana?" tanya Ulfa. "Rata-rata semua temen perempuan mu tidak menyukai mu, itu terlihat sangat jelas sekali," ucap Kania.


"Biarkan saja, aku di sini hanya bekerja saja."


"Tapi mereka semua terlihat sangat menyebalkan."

__ADS_1


Ulfa hanya bisa tersenyum saja.


"Oh iya kamu mau sesuatu? Mau cemilan atau ada yang lain?"


"Humm sebenarnya aku ingin mencicipi semua nya, tapi ini saja sudah cukup."


Ulfa tersenyum. "Yuda keman? Apa dia tidak datang?"


"Humm Yuda untuk beberapa hari tidak datang ke cafe."


"Loh kenapa?"


"Aku juga tidak tau, tapi ibu nya meminta dia untuk rajin belajar dan jangan terlalu menghabiskan waktu di Cafe."


Hari semakin malam, Cafe sudah tutup dan akhirnya mereka pulang ke rumah.


Sampai di rumah, Ulfa langsung tidur. Kania masuk ke kamar nya. Dia melihat pesan dari suami nya.


"Sayang tidur yang nyenyak yah," pesan dari Vincent.


Kania mengirimkan foto sedih nya. "Aku sangat merindukan mas Vincent."


Vincent tersenyum, dia mengirimkan foto nya yang masih di luar.


Kania tersenyum. "Mungkin malam ini kami akan menginap di sini karena masih ada pekerjaan besok."


"Yah, padahal aku tidak bisa tidur."


"Kamu harus tidur sayang, jangan sampai sakit, Omah dan Opah akan memarahi ku, dan Mami akan menghukum ku kalau dia tau menantu nya sakit."


Kania tersenyum. "Baiklah mas, kalau begitu mas juga jangan lupa istirahat. Aku akan tidur sekarang."


Kania akhirnya tidur.


Vincent menghela nafas panjang beberapa kali sampai Tomi yang duduk di samping nya kebingungan.


"Ada apa pak? kenapa Bapak menarik nafas panjang seperti itu?" tanya Tomi.


Vincent menggeleng kan kepala nya. Tomi melihat layar handphone Vincent ada foto Isti nya.


"Saya tau kalau Bapak masih pengantin baru, saya juga paham bapak pasti ingin bersama istri terus, tapi Bapak tetap harus bekerja."


"Karena Istri Bapak memiliki banyak kebutuhan."


"Huff kamu tidak perlu menasehati saya, kamu urus saja hubungan kamu dengan Fani, segera nikahi dia."


"Kami berdua masih saling memantas kan diri pak, kami juga akan saling menjaga satu sama lain untuk saat ini karena belum kefikiran untuk menikah."


"Apa kamu normal?" tanya Vincent.


"Saya normal Pak."


"Apa sebelumnya kamu pernah melakukan nya dengan mantan-mantan mu?" tanya Vincent.


Tomi tertawa kecil. "Tidak mungkin lah pak, saya memiliki ibu, saya juga memiliki adik perempuan, saya tidak akan merusak perempuan hanya karena nafsu saja."

__ADS_1


__ADS_2