Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 118


__ADS_3

"Kania..." panggil Vincent.


Kania masuk ke dalam kamar Vincent dia melihat Vincent tidur di tempat tidur sambil menatap nya.


"Kenapa mas?" tanya Kania.


"Ini sudah malam, kamu istirahat lah."


"Iyah, aku sudah mau tidur kok."


"Tidur di mana?"


"Di kamar ku lah, mau di mana lagi?*


"Loh kamu lupa kalau kita sudah suami istri, kita harus tidur satu kamar.".


Kania terdiam. "Mendekat lah ke sini," ucap Vincent menepuk tempat tidur kosong di samping nya.


Kania mendekati kasus namun Vincent langsung menarik tangan Kania dan tidur di lengan Vincent.


"Kamu tidak perlu takut, saya tidak akan melakukan nya kalau kamu belum siap, saya juga tidak akan memaksa kamu."


Kania mau menjawab namun tiba-tiba bel berbunyi dan Suara ketukan pintu membuat mereka kaget.


"Tok!! tok!! tok!!" ketukan pintu.


"Siapa yang berani mengganggu ku?" ucap Vincent dengan kesal dalam hati.


"Kamu tunggu di sini saja," ucap Vincent.


Kania mengangguk. Setelah Vincent membuka pintu ternyata di balik pintu adalah Tomi.


"Ada apa tengah malam kamu ke sini?" tanya Vincent.


Tomi melihat ke arah jam tangan nya.


"Ini baru saja jam delapan malam Pak," ucap Tomi.


"Katakan apa yang kamu mau? kamu mengganggu saya saya."


Tomi melihat ke arah dalam.


"Kania kemana?" tanya Tomi.


"Ada apa kamu mencari istri saya?" tanya Vincent dengan nada yang sedikit kesal.


"Saya ada kepentingan dengan Kania," ucap Tomi.


"Saya akan memotong gaji mu karena sudah mengganggu saya dengan istri saya," ucap Vincent.


Tidak beberapa lama akhirnya Kania datang. "Tomi, apa ada apa?" tanya Kania duduk di sofa.


"Humm apa kamu ada berbicara dengan Fani?" tanya Tomi.


"Hari ini tidak ada, tapi aku menghubungi nya malam tadi."


"Oohh,"

__ADS_1


"Emang nya ada apa?" tanya Kania.


"Humm hari ini Fani tidak datang ke kantor," ucap Tomi.


"Loh kenapa bisa?" tanya Kania.


"Aku pikir dia cerita sama kamu, aku juga tidak tau alasan nya apa," ucap Tomi.


"Aku yakin pasti karena malam itu, kamu sangat jahat sekali kepada dia."


"Aku tidak melakukan apapun," ucap Tomi.


"Aku melihat kamu menepis bunga yang dia tunjukkan kepada mu dan pergi begitu saja membuat dia sangat malu."


"Kalau aku di posisi Fani mungkin aku tidak akan mau bertemu dengan kamu. Walaupun Fani salah tapi dia sudah berusaha untuk meminta maaf, dia juga sudah melakukan apapun agar kamu bisa kembali kepada nya."


Cukup banyak yang mereka bicarakan, sampai Vincent yang menunggu Kania ngantuk dan ketiduran. Kania kembali ke kamar setelah Tomi pergi.


Kania melihat Vincent tidur akhirnya dia bisa lega dan memilih untuk ikut tidur.


Namun subuh-subuh Kania merasa ada sesuatu yang ada di badan nya membuat dia terbangun.


Kania melihat ruangan yang sangat gelap, namun tangan Vincent yang merabah bagian perutnya.


Kania langsung menyadari dan menghentikan tangan Vincent.


Dia menatap Vincent yang ternyata masih tidur.


"Bisa-bisa nya dia mengigau sambil seperti ini," batin Kania.


Kania melanjutkan untuk tidur, namun baru saja mau terlelap dia merasakan nafas Vincent dan juga bibir Vincent yang mencium bagian leher nya.


Dia langsung bangun dan menatap Vincent tidak lupa menghidupkan lampu tidur.


Kania menyadari Vincent yang tidak memakai baju. "Badan saya sangat gerah," ucap Vincent.


Kania bingung harus mengatakan apa.


Vincent menarik tangan Kania agar mendekati nya, Vincent mencium bibir Kania.


Kania tidak bisa menolak dia mulai membalas ciuman suami nya itu, nafas Vincent bisa dia rasakan.


Vincent membuka baju Kania.


Kania tampak sangat malu, namun Vincent berusaha meyakinkan nya untuk jangan malu.


Vincent mulai turun ke leher Kania. Kania bergeliat kegelian sehingga menjambak rambut Vincent.


Sudah puas di leher Kania dia turun ke dua gunung kembar milik Kania.


Vincent menyentuh nya, Kania cukup kaget karena baru pertama kali. "Mas.." ucap Kania.


Suara Kania terdengar sangat seksi di telinga Vincent, di tambah lagi ekspresi Kania yang malu campur menikmati.


Vincent meremas payudara Kania yang sangat membuat nya gemas.


Kania mulai menikmati sentuhan demi sentuhan Vincent.

__ADS_1


Kedua nya sudah mulai terangsang satu sama lain.


"Kalau kamu tidak ingin melanjutkan nya, hentikan saya," bisik Vincent.


Kania mengangguk. Vincent mau membuka celana Kania namun di hentikan oleh Vincent.


"Aku takut mas," ucap Kania.


"Saya akan melakukan nya perlahan," ucap Vincent.


"Kalau sakit bagaimana?"


"Saya akan mengobati nya," ucap Vincent.


Kania melepaskan tangan Vincent dan membiarkan Vincent melanjutkan aksi nya.


Vincent berhasil membuat istri nya itu tidak memakai sehelai benang.


Kania sangat malu karena Vincent menatap nya seperti singa yang kelaparan.


Vincent melakukan pemanasan terlebih dahulu. Dia meminta ijin kepada Kania untuk mengambil hak nya itu.


Kania dengan pasrah memberikan yang seharusnya milik suami nya. Mahkota yang selama ini dia jaga.


Namun ternyata Vincent belum berhasil, dia harus lebih banyak bersabar. Kania sudah menjerit kesakitan. Vincent tidak tega akhirnya dia menyudahi nya.


Keesokan harinya Kania dan Vincent bangun telat karena kedua nya sama-sama tidak ada kegiatan.


Kania melihat jam sudah jam sembilan pagi, dia melihat mereka berdua masih belum memakai baju.


Vincent masih tidur, Kania memilih langsung bangun karena malu.


Namum baru saja menurun kaki nya dia menjerit kesakitan.


"Kenapa ini? Bukan kah tadi malam tidak jadi?"batin Kania.


Vincent terbangun karena jeritan Kania, walaupun kecil namun Vincent sadar dan mendengar nya.


"Itu pasti terasa sakit, saya akan membantu ke kamar mandi," ucap Vincent. Kania menggulung badan nya dengan selimut, sementara Vincent hanya memakai boxer saja.


Kania baru saja selesai mandi, dia keluar namun Vincent sudah tidak ada di dalam kamar, dia keluar ternyata Vincent sedang masak di dapur.


"Ya ampun kenapa mas Vincent ganteng banget sih kalau seperti itu," ucap Kania dalam hati.


"Huff ternyata yang di katakan Ulfa benar, badan kekar nya pasti membuat badan kecil ku ini kesakitan," ucap Kania, mengingat tadi malam dia jadi merinding.


Kania berdiri di samping Vincent. "Aku bisa memasak, kenapa tidak menunggu aku?" tanya Kania.


Vincent tersenyum dia mencium kening Kania.


"Kamu duduk saja di sana, anggap saja ini permintaan maaf saya tentang tadi malam."


Kania tersipu malu kalau Vincent membahas itu, dia langsung meninggalkan dapur dan duduk di meja makan.


Dia membaca grup di handphone nya, ternyata teman-teman nya sudah sibuk membahas dia.


"Aku yakin Kania pasti sudah tidak bisa berjalan."

__ADS_1


"Aku sudah tebak kalau paman Vincent tidak mengijinkan dia keluar dari kamar.


__ADS_2