
"Berapa kali saya katakan agar kamu berhenti panggil saya Paman, karena saya bukan Paman kamu!"
"Maaf pak, kalau boleh tau ada apa yah kenapa Bapak menelpon saya?"
"Kamu tidak tau kesalahan kamu apa? Saya tau hari ini Kania datang ke rumah kamu dan kalian berpelukan."
Yuda menghela nafas panjang.
"Itu tidak seperti yang bapak pikirkan."
"Apa pun itu alasan nya, kalau sampai saya melihat kamu dengan Kania lagi saya tidak segan-segan memberikan pelajaran yang pantas untuk kamu."
Yuda Terdiam, panggilan telepon pun langsung mati.
"Aarrhhh!! Bagaimana bisa Kania memiliki paman yang sangat posesif seperti itu?"
"Kalau seperti ini akan lebih sulit bersama Kania," batin Yuda.
Satu minggu kemudian Vincent di luar kota.
"Kenapa aku harus merindukan Paman sih? Seharusnya ini waktu nya aku untuk belajar dengan fokus," batin Kania.
Karena bosan di rumah saja dia memutuskan untuk keluar.
Sampai di luar dia teringat kepada Yuda.
"Kenapa sampai sekarang Ulfa masih cuek yah sama aku? apa jangan-jangan Yuda belum berbicara dengan dia?"
"Halo Yuda." Kania menelpon Yuda setelah sampai di Cafe.
"Halo.. Ada apa Kania?"
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu sedang Sibuk kah?"
"Aku lagi di lapangan sirkuit belajar sama anak-anak."
"Kebetulan banget kamu di sana, aku ke sana yah ada yang mau aku bicarakan."
"Ya udah kalau ke sini, aku tunggu yah," Yuda sangat senang Kania datang ke sana namun tiba-tiba dia ingat paman Kania.
"Tapi kami sudah mau pulang, sebaik nya kamu tidak perlu datang."
"Lah gimana sih? Aku mau bertanya soal Ulfa."
"Humm tentang Ulfa kita bicarakan besok di kampus saja yah."
Yuda melihat ke arah Ulfa yang duduk sendirian di tempat istirahat.
"Oohh ya udah deh kalau begitu." Panggilan telepon pun langsung mati.
"Nih minum dulu," ucap Ulfa memberikan minum kepada Yuda.
"Terimakasih yah sudah menemani kami latihan."
Ulfa mengangguk.
"Aku melakukan ini karena aku butuh uang," jawab Ulfa.
"Iyah aku tau."
"Ulfa apa kamu sudah makan? kita makan di restoran yang baru buka itu yah?"
__ADS_1
"Aku mau langsung pulang kasian ibu sendirian di rumah.
"Hanya sebentar saja, aku yang traktir kok."
Ulfa tidak bisa menolak karena yang lain juga mengajak Ulfa.
"Akhir-akhir ini Yuda kenapa sangat baik kepada ku? Ada apa?" batin Ulfa.
Satu bulan berlangsung Kania dan Vincent berjauhan hanya bertukar kabar lewat handphone.
Vincent sedang bekerja di ruangan nya.
"Bapak tidak mau makan siang?" tanya Staf PT itu.
"Saya belum lapar, kalian lanjut saja."
Staf mengangguk dan segera keluar.
"Kapan masalah ini akan selesai? Kenapa Jeki semakin keras kepala dan tidak mau mengalah?" batin Vincent.
Tiba-tiba handphone nya berbunyi.
"Iyah ada apa?" tanya Vincent kepada mata-mata yang di suruh mengawasi Je dan Minghui.
"Hari ini Direktur Je dan nona Minghui akan berangkat ke Paris."
"Ada urusan apa mereka ke sana?"
"Saya dengar hanya untuk jalan-jalan Pak."
"Bagus kalau begitu, kita bisa memanfaatkan situasi ini."
Vincent mematikan sambungan telepon dan lanjut bekerja.
Semua orang di kantor ternyata sudah pulang tinggal hanya dia sendiri.
"Selamat malam pak." sapa Staf wanita yang menjadi pendamping Vincent.
"Iyah ada apa? kenapa kamu masih di sini?" tanya Vincent.
"Saya masih ada kerjaan sedikit lagi Pak."
"Sudah malam, sebaik nya kamu pulang saja."
Tia mengangguk sambil tersenyum.
Vincent melihat-melihat suasana perusahaan dan melihat betapa besar nya perusahaan itu.
"Kalau sampai perusahaan ini jatuh ke tangan Jeki aku bisa gila, percuma saja apa yang sudah aku perjuangkan dan orang tua ku perjuangan kan dulu."
Vincent melihat jam dia tidak sadar sudah jam sepuluh malam, dia memutuskan untuk langsung pulang saja.
Namun saat keluar dari kantor dia melihat Tia masih di depan perusahaan.
"Loh Tia kamu masih di sini? Kenapa tidak pulang?" tanya Vincent.
"Aku lagi menunggu jemputan pak."
"Ini sudah jam sepuluh malam kenapa tidak memesan taksi saja?"
Tia tidak menjawab nya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu saya akan mengantar kan kamu," ucap Vincent.
"Jangan pak, sebaiknya aku menunggu kakak ku saja."
"Tidak baik perempuan di luar malam-malam seperti ini."
Akhirnya Tia di antar oleh Vincent.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Vincent.
"Saya tinggal satu apartemen dengan Bapak."
"Hah! Kamu Seriusan? Kok saya tidak pernah lihat kamu?"
Tia tersenyum karena dia pasti berangkat lebih pagi dan juga pulang lebih lama dari Vincent Wajar bila tidak bertemu.
"Ya sudah kebetulan banget deh kalau begitu, jadi saya tidak jauh-jauh mengantar kamu."
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah, Vincent memarkir kan mobil nya di basement.
Namun saat masuk ke dalam dia seperti melihat seseorang duduk di sana.
Dan ternyata itu adalah Kania, awalnya dia tidak percaya itu Kania karena bisa salah lihat efek rindu dan juga kelelahan.
Namun setelah keluar dari dalam mobil ternyata itu adalah Kania.
Saat Kania melihat Vincent keluar dari dalam mobil dia langsung tersenyum siap menghampiri Paman nya. Namun ketika melihat perempuan keluar dari mobil Vincent dia langsung terdiam bingung.
"Kania, kenapa kamu bisa di sini?" tanya Vincent.
"Maaf, aku tidak bilang kalau datang ke sini."
"Dia siapa Pak?" tanya Tia.
"Kenalin dia Keponakan saya nama nya Kania."
"Oohh keponakan yang sering Bapak ceritakan itu yah, kenalin saya Tia."
Kania tersenyum. "Humm kalau begitu saya naik terlebih dahulu ya Pak," ucap Tia sambil menyentuh lengan Vincent.
Kania melihat itu membuat nya benar-benar yakin dengan dugaan nya.
"Kania kenapa kamu tidak bilang kalau datang ke sini? kamu tau dari mana saya di sini?"
"Tidak perlu basa-basi Paman! Paman satu kamar dengan wanita tadi? siapa dia? apa dia wanita paman?" tanya Kania dengan ekspresi marah.
"Kania kenapa kamu berbicara seperti itu?"
"Aku sudah menduga paman pasti akan seperti ini lagi, aku sangat kecewa sama paman." Kania sangat marah dia mau pergi menarik kopernya.
Namun Vincent menahan nya.
"Kania kamu salah paham, Kania dengar kan saya dulu."
"Lepas kan aku! aku datang ke sini karena aku merindukan paman namun yang aku lihat apa? Paman membohongi aku lagi?"
"Mana janji Paman untuk berubah? Paman tidak sungguh-sungguh mencintai aku, Paman hanya bisa mempermainkan aku dan seterusnya akan seperti ini."
Vincent menahan Kania dan memeluk nya.
"Kania jangan berfikir seperti itu, Ijin kan saya menjelaskan nya terlebih dahulu."
__ADS_1
Kania yang sangat emosi tidak bisa menahan nya dia berontak mau pergi.