
"Saya di suruh beli sarapan untuk pak Vincent Bu."
"Biar saya saja." ucap Fani langsung.
Tomi mendengar percakapan mereka di depan membuat nya semakin cemburu.
"Fani benar-benar tidak memiliki rasa kepada ku, dia masuk ke sini hanya karena pak Vincent," ucap Tomi.
Tiba-tiba handphone Tomi berdering telpon dari Kania.
"Halo Kania. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Tomi.
"Aku baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana?"
"Aku sangat mabuk berat sehingga kepala ku masih sangat pusing dan sekarang pipi ku terasa sakit karena di hajar oleh pak Vincent tadi malam Karena kamu."
"Maaf-maaf, aku akan membawa kan obat untuk mu nanti, oh iya aku mau makan siang bersama kamu nanti," ucap Kania.
Waktu nya makan siang sebelum ke kantor. Kania menunggu Tomi bersama Ulfa dan Yuda.
Tidak beberapa lama Tomi datang.
"Ya ampun kak, kenapa dengan pipi kakak?" tanya Ulfa.
"Karena Paman Vincent, tadi malam Paman salah paham dan menghajar Tomi," ucap Kania.
"Ya ampun..."
"Nih aku bawain obat untuk kamu."
"Terimakasih."
"Kamu mau Makan apa? Aku traktir deh sebagai permintaan maaf ku."
Tomi kesulitan mengobati luka nya sendiri dia minta tolong kepada Kania.
Namun ternyata Heni dan juga Vincent makan di tempat yang sama.
Vincent melihat Kania yang mengobati luka Tomi. Dia benar-benar sangat marah namun karena ramai orang dia hanya bisa menahan amarah nya.
"Loh itu kan keponakan kamu."
Vincent mengangguk.
"Tomi hebat banget bisa mendekati Kania," ucap Heni.
"Mereka tidak seperti apa yang kamu lihat."
"Loh bukannya mereka pacaran?" tanya Heni.
Vincent menggeleng kan kepala nya karena sangat tidak suka dengan kesimpulan Heni.
"Sudah selesai, ayo lanjut makan, semoga saja itu langsung sembuh." ucap Kania.
"Ya lagian kenapa kamu minum sampai tengah malam dan pulang dalam keadaan mabuk?"ucap Yuda.
"Aku pusing, aku hanya ingin menghilangkan beban pikiran ku sejenak."
Yuda dan Ulfa menghela nafas panjang.
"Kamu sudah tau kalau paman mu terkadang suka gila sama seperti Bu Mona."
__ADS_1
"Aku tidak perduli," ucap Kania.
Mereka sama sekali tidak sadar kalau Vincent ada di sana, itu sebab nya mereka berbicara Tampa ada takut.
"Ulfa saya turut berdukacita atas meninggalnya orang tua kamu yah. Kamu yang sabar, kalau kamu butuh bantuan katakan saja kepada saya," ucap Tomi.
"Iyah kak, terimakasih banyak yah."
"Kami selalu ada untuk kamu Ulfa, pokoknya kamu tidak boleh berfikir kalau kamu itu sendiri," ucap Kania.
"Terimakasih semuanya, aku jadi sedih deh."
Dia memeluk Kania.
Setelah selesai makan siang Kania dan Tomi berangkat ke kantor sementara Ulfa dan Yuda mau mengurus tugas mereka dan membantu Kania juga karena Kania tidak bisa ikut.
Sesampainya di kantor Kania berdiskusi dengan Tomi tentang pekerjaan mereka, banyak hal juga yang harus di jelaskan Tomi kepada Kania.
"Mbak Kania.." tiba-tiba staf masuk ke ruangan mereka.
"Iyah ada apa?" tanya Kania.
"Pak Vincent meminta anda keruangan nya."
Kania menghela nafas berat.
"Sebaiknya kamu pergi saja, ini di kantor Jangan membuat semua orang tau tentang masalah pribadi."
Kania mengangguk.
"Baiklah kalau begitu aku ke ruangan paman Vincent dulu."
Kania mengetuk pintu sebelum masuk, dia masuk ke dalam dan melihat Vincent menunggu nya sambil duduk di Atas meja menatap ke arah pintu masuk.
Vincent diam dia menatap Kania dengan tatapan dingin.
"Kalau tidak ada saya akan keluar."
"Ada apa dengan mu? kenapa kamu sudah dua hari ini berbeda? Kamu menganggap saya tidak ada."
Kania diam. "Bukan kah sudah saya jelaskan kalau kejadian malam itu karena Mami saya?" tanya Vincent.
"Ini di kantor pak, sebaik nya kita jangan membicarakan ini."
"Oke baiklah, saya akan menunggu kamu di luar jam delapan malam."
Setelah itu Kania keluar.
"Tuhan kuatkan aku, aku tidak ingin semua nya sia-sia namun aku benar-benar tidak bisa menerima semua ini."
"Kania apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu tidak bekerja?" tanya Bu Mona.
Kania mengangguk dia langsung pergi dari Depan ruangan Vincent.
"Vincent.." panggil Bu Mona.
"Ada apa Mami?" tanya Vincent.
"Minggu depan kamu gak ada acara apa-apa kan?"
"Emang nya kenapa mih?" tanya Vincent.
__ADS_1
"Mami dan orang tua Heni sudah merencanakan makan malam bersama, bukan hanya kita saja tapi semua keluarga dekat Heni juga akan datang."
"Tapi Nih."
"Mamih tidak mau kamu menolak nya, karena mami sudah bilang dari sekarang, hari Minggu depan kamu harus mengosongkan jadwal kamu."
"Nanti malam kamu jadi kan pergi Nemanin Heni?" tanya Bu Mona.
"Enggak mah, aku tidak bisa aku sudah ada janji."
"Loh bukannya kamu bilang kamu bisa Nemanin Heni malam ini."
"Mih hidup aku bukan hanya tentang Heni saja, aku memilih kesibukan lain juga, Mamih jangan melibatkan semua tentang Heni kepada ku."
Tiba-tiba Bu Mona terdiam memasang wajah sedih.
"Kenapa kamu menolak Mami? Apa kamu lebih mementingkan pekerjaan kamu dari pada mamih?" tanya Bu Mona.
Vincent menghela nafas panjang dia menatap mamih nya.
"Mih malam ini aku ada janji, aku tidak bisa pergi dengan Heni."
Ini adalah alasan Vincent tidak bisa menolak semua permintaan Bu Mona karena Bu Mona sangat mudah sedih ketika di tentang oleh Vincent.
Di malam hari nya Vincent sudah menunggu cukup lama namun Kania tak kunjung datang.
Vincent melihat jam.
"Ini sudah jam delapan lewat apa dia tidak akan datang?"
Vincent masih sabar menunggu sampai jam sembilan malam.
Tidak beberapa lama Kania datang.
"Maaf Paman aku datang telat karena aku harus mengerjakan tugas terlebih dahulu."
"Tidak apa-apa, kamu mau pesan apa?"
Vincent memberiku menu nya.
Kania belum makan dia juga sangat haus dan memesan apa yang di mau.
Vincent tidak berani memulai percakapan, dia hanya diam begitu juga dengan Kania sampai makanan datang.
Mereka makan bersama terlebih dahulu agar kedua nya sama-sama tenang.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan.
"Bukan kah paman mengajak ku keluar mau berbicara? Apa yang ingin Paman bicarakan?"
Vincent memegang tangan Kania namun Kania langsung melepaskan nya.
"Paman ini di luar."
Vincent diam sejenak dia menunduk kan kepala nya.
"Saya mau minta maaf dengan sifat saya."
Kania menatap Vincent yang diam menunduk.
"Apa Paman tau kesalahan paman di mana?" tanya Kania.
__ADS_1
"Saya minta maaf karena sudah marah, saya melakukan itu karena saya sangat khawatir kepada kamu."
"Paman tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan setelah Bu Mona di sini, aku juga ingin paman mengerti aku," ucap Kania.