
"Aku butuh bantuan kamu."
Minhui mengangguk, dia membawa Jeki ke dalam kamar nya, tidak lupa sebelum berbaring Minhui membersihkan tempat tidur.
Namum dia sangat kaget karena ada bekas basah di sprei, dia sudah tau itu bekas apa namun dia tetap diam, dari pada ujung-ujung nya ribut.
Walaupun sangat sakit hati, tapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Setelah sudah selesai mengganti alas kasur dia keluar dari kamar itu. Jeki duduk dan bersandar di sandaran kasur.
"Apa sebaiknya aku mengembalikan dia kepada orang tua nya?" batin Jeki. Dia memikirkan untuk mengembalikan Minhui agar tidak terlalu merepotkan dia dan dia juga tidak perlu tanggung jawab lagi kepada Minhui atau anak yang di dalam perut Minhui.
Keesokan harinya dia berniat mau menyampaikan itu kepada Minhui. Namun setelah melihat keadaan Minhui yang sekarang berubah drastis tidak mungkin kembali seperti itu.
Jeki menghela nafas. Dia melihat Minhui nya beberapa kali ke kamar mandi karena mual-mual, dia tidak tahan dengan semua bau yang ada di dalam dapur nya.
Jeki berjalan ke dapur. "Kamu tidak perlu masak kalau tidak bisa!" ucap nya membuat Minhui kaget.
"Maaf aku sudah membuat kamu tidak nyaman, aku tidak bermaksud untuk membuat kamu terganggu," ucap Minhui.
Jeki mengambil semua nya dan membuang nya ke tempat sampah.
Melihat itu Minhui sangat sedih, namun dia tidak bisa melawan Jeki.
Namun setelah itu tiba-tiba ada yang mengantar kan makanan.
Jeki makan sedikit karena tidak berselera, sementara Minhui tidak bisa makan karena tidak berselera, kalau dia makan nasi dia akan muntah-muntah.
Dia memakan buah yang ada di dalam kulkas, dia juga memakan roti. Jeki melihat makanan yang dia beli tidak di makan.
"Kenapa kamu tidak memakan yang sudah aku beli? apa kamu berfikir makanan itu tidak mahal?" tanya Jeki
Minhui langsung berdiri dia menyembunyikan buah yang ada di tangan nya. "Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa Makan nasi."
Jeki terdiam sejenak dia menatap perut Minhui.
Tidak mengatakan apapun dia langsung pergi dari sana.
Minhui langsung masuk ke dalam kamar nya, dia hanya bisa menghabiskan hari ini di dalam kamar nya, kalau Jeki melihat nya dia pasti kena marah.
Sementara di hotel tempat Kania dan Vince menginap. Kania baru saja bangun namun tidak melihat Vincent di kamar nya.
"Kemana mas Vincent? Ini masih sangat pagi tapi dia malah tidak kelihatan," ucap Kania.
__ADS_1
Tapi dia langsung kefikiran untuk menghubungi supir yang ada di Jakarta. Dia ingin dia melihat keadaan Minghui.
Kania tidak yakin dengan Minghui, karena keadaan nya sangat buruk sekali.
Supir membutuhkan waktu satu jam untuk ke tempat Jeki, akhirnya dia memutuskan sambungan telepon dan langsung mandi sebelum Vincent datang.
Dia baru saja selesai mandi dia melihat Vincent baru saja datang. Vincent membawa banyak makanan yang di Jual di sana namun tidak ada di Jakarta.
Mereka makan pagi bersama di hotel itu.
Setelah itu Kania langsung mengajak Vincent untuk jalan-jalan melihat pemandangan yang indah.
Seharian Kania dan Vincent jalan-jalan, tidak lupa mengambil foto dan memamerkan semua nya di sosial media agar mereka yang tidak menyukai hubungan Vincent dan Kania langsung kepanasan melihat foto-foto yang mereka posting.
Dan benar saja sangat banyak yang tidak suka, tapi tetap saja ada yang suka mereka sangat cocok dan Vincent terlihat lebih muda.
Setelah malam akhirnya mereka kembali ke hotel nya. Kania selesai mandi langsung memeriksa Handphone nya.
Vincent melihat Kania sangat fokus pada handphone nya sehingga tidak sadar kalau Vincent sudah kedinginan karena tidak di sediakan baju oleh nya.
Makan malam mereka di sediakan oleh hotel. Saat sedang enak menikmati hidangan di atas atap. Musik romantis hidup.
"Wahh hotel ini bagus banget yah," ucap Kania. Vincent tersenyum.
Dia melihat beberapa pasangan lain nya sangat romantis, namun kenapa pemain musik itu hanya ada di dekat nya saja.
Tidak beberapa lama Vincent kembali membawa kue dan juga bunga, Kania bingung namun dia langsung berdiri tersebut.
"Mas, ini ada apa? Perasaan tidak ada hari istimewa hari ini, aku juga tidak ulang tahun."
"Semenjak saya mengenal kamu semua nya menjadi istimewa termasuk hari ini..Saya sangat senang saya bisa di sini bersama kamu, wanita yang sangat saya cintai."
"Mas berdiri ih, semua nya melihat ke kita, aku malu.."
Vincent memberikan bunga kepada Kania.
"Saya mencari bunga ini sendiri, saya juga membuat kue ini sendiri di dapur hotel, saya ingin kamu menerima ini sebagai tanda terimakasih saya kepada kamu karena kamu sudah mau menerima saya menjadi suami kamu."
Kania tersipu malu, dia mengambil bunga nya.
Dia meminta Vincent berdiri.
"Sebenarnya aku juga punya hadiah sama mas."
__ADS_1
"Hadiah apa?" tanya Vincent.
Kania meminta pelayan hotel membawa kan nya.
Ternyata Kania memesan gelang couple yang di desain nama mereka.
Vincent tersenyum. Dia tidak berfikir kalau Kania bisa juga romantis.
"Terimakasih banyak, tapi kamu tidak perlu melakukan ini, karena seharusnya saya yang harus melakukan nya kepada kamu."
"Tidak apa-apa." ucap Kania.
"Humm kamu harus cobain kue buatan saya, saya yakin kamu pasti suka karena saya membuat nya dari shubuh tadi."
"Oohh pantesan saja pagi-pagi tidak kelihatan."
Vincent tersenyum. Semua yang ada di sana sangat Iri melihat keromantisan mereka berdua.
Kania dengan Vincent sangat malu karena di tonton banyak orang.
Mereka mengambil foto bersama.
Di tempat lain Jeki dari pagi tadi memantau postingan Kania Tampa henti.
Jeki benar-benar sangat menunjukkan rasa benci nya kepada Vincent.
Setelah selesai makan mereka istirahat. Karena seharian menghabiskan waktu untuk menikmati pemandangan yang ada di sana kedua nya sangat lelah sekali sehingga tidak lama langsung tertidur.
Fani dan Tomi baru selesai bekerja. "Kamu lagi lihatin apa sih dari tadi?" tanya Tomi kepada Fani yang duduk di Samping nya.
"Aku lagi melihat postingan jalan-jalan Kania," ucap Fani.
"Apa kamu ingin juga?" tanya Tomi.
"Siapa sih yang gak mau honey moon seperti ini, semua orang juga pengen," ucap Fani.
"Kalau begitu ayo menikah, aku akan membawa kamu kemana pun yang kamu mau."
"Kamu yakin mau menikah secepat itu?" tanya Fani. Tomi mengangguk.
"Aku belum siap karena menikah itu tidak lah mudah, harus disiapkan semua nya dengan baik."
Tomi tersenyum. "Aku paham kok, aku juga harus lebih banyak belajar," ucap Tomi.
__ADS_1