
"Saya hanya ingin melihat keadaan nya," Ucap Vincent.
"Untuk sekarang Kania baik-baik saja pak, saya akan memberikan kabar tentang Kania kepada bapak setiap waktu."
"Saya hanya ingin melihat keadaan istri saya! Apa itu boleh?"
"Bukan tidak boleh, tapi kalau Kania di ganggu saya takut dia akan pergi lagi yang kita tidak tau dia kemana."
Vincent terdiam. "Yang kamu katakan ada benarnya juga, tapi saya ingin kamu terus memberikan informasi tentang Kania."
"Baik, saya minta maaf."
Vincent langsung pergi.
Dia melewati rumah sewa Ulfa. Berharap dia bisa melihat istrinya namun ternyata tidak.
Sementara Jeki masih kebingungan mencari Minhui kemana. Saska tidak berhenti menangis selama di perjalanan.
Namun tiba-tiba orang suruhan untuk mencari Minhui menelpon nya. Dia berfikir mereka sudah menemukan Minhui namun ternyata tidak.
Dia sangat pusing. Ia memutuskan kembali ke rumah hari itu juga.
Di tempat Minhui bersembunyi...
"Seperti itu ceritanya? Jadi sekarang keputusan kamu apa?" tanya Fikri.
"Aku tidak ingin pulang sekarang," ucap Minhui.
"Sebaik nya istirahat menenangkan diri," ucap Fikri. Minhui mengangguk.
Satu Minggu kemudian...
Minhui sudah merasa lebih tenang. Fikri benar-benar memperlakukan nya dengan sangat baik, dia juga merawat Minhui yang sedang hamil.
"Perut kamu semakin hari semakin membesar," ucap Fikri.
Minhui tersenyum. "Usia nya sudah mau delapan bulan, tidak lama lagi dia akan lahir."
Fikri menatap Minhui. "Aku tau kamu sekarang sudah tidak memiliki orang untuk tanggung jawab dengan anak kamu, aku mau tanggung jawab dan menikahi kamu."
Minhui sangat kaget mendengar itu. "Jangan aneh-aneh deh Fikri, mana mungkin bisa seperti itu?"
"Kenapa tidak mungkin? Aku serius ingin menikahi kamu."
Minhui tersenyum. "Aku tau kok kamu perduli kepada ku, tapi kamu tidak boleh membuang-buang waktu kamu kepada ku, Lagian kita teman."
"Sejujurnya aku sudah menyukai kamu dari dulu, aku mencintai kamu, tapi aku tidak bisa mengatakan nya karena aku tau kamu pasti akan menolak ku."
"Sudah lah jangan membahas itu," ucap Minhui.
"Minhui, aku serius, aku ingin menikahi kamu dan membesarkan anak ini bersama."
Minhui menggeleng kan kepala nya. "Jangan Fikri, aku sudah banyak merepotkan kamu, aku tidak mau merepotkan kamu seumur hidup."
__ADS_1
Fikri Terus membujuk Minhui, namun Minhui tidak mau sampai keesokan harinya membuat Minhui tidak nyaman.
Dia ingin pergi namun tidak tau mau kemana.
"Minhui, kamu mau kemana?" tanya Fikri melihat Minhui keluar membawa tas pakaian nya dan sambil mengendap-endap.
"Kamu mau kabur?" tanya Fikri.
"Aku sangat merindukan anak asuh ku, aku tidak bisa tidur karena merindukan nya."
"Jadi kamu mau kembali kepada pria itu lagi?"
"Bukan seperti itu, tapi aku benar-benar merindukan Saska."
"Aku tidak setuju kamu kembali lagi kepada pria itu Minhui."
"Aku minta maaf sudah merepotkan kamu, tapi mau bagaimana pun aku membutuhkan nya saat aku melahirkan nanti."
"Loh bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak akan pulang lagi ke sana? aku akan mendampingi kamu di sini."
Minhui tersenyum. "Tidak apa-apa, setelah aku melahirkan aku bisa pergi."
Fikri tidak tau apa yang di pikirkan oleh Minhui.. Namun mau tidak mau dia harus mengantarkan Minhui kembali ke kota itu.
Berbeda dengan Vincent yang sudah sangat pusing karena berhari-hari tidak bertemu dengan istrinya.
Di rumah Ulfa..
Kania kebingungan karena tidak biasa terlihat sangat misterius. Dia menoleh ke arah Yuda yang ikut Ulfa pulang.
"Aku curiga kamu hamil karena sudah satu Minggu ini kamu terlihat sangat pucat dan juga mual-mual."
"Aku sudah bilang aku masuk angin, kamu tau kan kalau aku sama sekali tidak bisa makan banyak itu sebab nya mual-mual."
"Sebaiknya kamu periksa dulu pakai ini," Ulfa memberikan tespek.
"Kamu jangan aneh-aneh deh Ulfa."
"Kamu harus memeriksa nya, jangan sampai salah."
Ulfa memaksa nya masuk ke kamar mandi.
"Ulfa ada-ada saja, mana mungkin aku hamil karena kami sudah setuju untuk tidak memiliki anak."
"Ini tidak mungkin. Ini pasti salah, ini pasti salah," ucap Kania dari kamar mandi. Ulfa yang menunggu di luar jadi kaget dia langsung masuk.
Dia melihat hasil nya garis dua. "Kan apa yang aku bilang." ucap Ulfa.
"Ini tidak mungkin, kami selalu memakai pengaman."
"Ini rejeki loh, seharusnya kamu senang kenapa kamu jadi kaget seperti ini?"
Kania menggeleng kan kepala nya. "Aku belum siap," ucap Kania.
__ADS_1
"Siap atau tidak kamu harus menerima anak kamu. Mungkin ini adalah jalannya kamu berbaikan dengan suami mu."
"Sudah satu Minggu lebih kamu pergi dari rumah."
"Dan sekarang Paman Vincent pasti sangat pusing memikirkan kamu."
"Sebenarnya dia tau kan aku di sini?" tanya Kania.
"Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa menyembunyikan nya, dia sangat panik."
Kania menghela nafas panjang. "Kamu dengar aku baik-baik yah, kamu sudah menjadi istri, kamu bahkan sedang hamil.
"Sebaiknya ini masalah di bicarakan baik-baik. Pasti ada jalan keluarnya."
Kania menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau."
"Jangan keras kepala Kania, apa kamu ingin keluarga kamu tau tentang masalah kamu ini?" ucap Yuda.
Kania langsung terdiam. "Sebaik nya kamu berkemas, kami akan mengantar kan kamu pulang."
"Kalian ngusir aku?" tanya Kania.
"Bukan begitu Kania, hanya saja kamu harus berfikir dewasa," ucap Yuda.
Kania langsung masuk ke dalam kamar, dia membaringkan tubuhnya di kasur sambil merenungkan nasehat teman-teman nya.
"Sudahlah, mungkin Kania masih belum bisa menerima nya, kamu juga istirahat lah," ucap Yuda kepada Ulfa.
Ulfa menatap Yuda. "Jangan sampai kamu melakukan hal yang sama seperti Paman Vincent."
"Kamu bisa percaya kepada ku, dan aku akan menjaga kepercayaan kamu."
Ulfa tersenyum. "Sekarang kamu mau kemana?" tanya Ulfa.
"Aku mau nongkrong sama teman-teman ku, sebenarnya aku masih ingin di sini, tapi aku takut Kania tidak nyaman sehingga tidak mau keluar dari kamar."
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati yah."
Yuda mengangguk. "Sampai jumpa besok."
"Arrgghhhh!!!! Rasanya mau gila," ucap Vincent sambil minum air putih.
Tomi yang duduk di sana melihat Vincent yang sangat prustasi.
"Apakah kamu tidak ingin membantu saya?" tanya nya kepada Tomi yang sibuk dengan tab nya.
Tomi meletakkan tab nya,. sebelum Bapak meminta solusi atau bantuan kepada orang lain, apa Bapak sudah melakukan nya?"
"Saya sudah melakukan semua nya, namun Kania tetap tidak mau kembali dan tidak mau bertemu dengan saya."
"Apa hanya Kania saja yang harus Bapak pikir kan? Bagaimana dengan Saska?" tanya Tomi.
Vincent baru ingat kalau ternyata dia memiliki anak.
__ADS_1