
Kania menghubungi Tomi.
Tomi yang sedang bersama Vincent langsung menjawab telpon nya karena dari Kania.
Vincent terlihat sangat penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Baiklah aku akan ke sana kamu tunggu saja."
"Apa yang kalian bicarakan? Kamu mau kemana?" tanya Vincent.
"Kania meminta saya menemani dia belanja pak, kalau begitu say permisi dulu."
Tomi langsung pergi karena selain Vincent, Kania juga bos nya bahkan bos utama nya.
Vincent menghela nafas panjang.
"Bisa-bisa nya Kania lebih memilih bersama Tomi dari pada dengan ku."
Vincent merutuki Kania.
"Aku tidak bisa membiarkan nya begitu lama, aku takut Tomi menyukai Kania."
Kania baru saja bertemu dengan Tomi.
"Hari ini kita akan ke mana?" tanya Tomi.
"Aku mau makan dulu."
"Oke baik lah nona, saya akan mengantar kan anda."
Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di depan restoran.
"Loh bukannya itu mobil pak Vincent?" ucap Tomi kaget karena tiba-tiba saja mobil bos nya sudah di sana.
Kania menghela nafas panjang.
"Pasti dia sengaja mengikuti ku.
"Sebaiknya kita pergi ke tempat lain saja." ucap Kania.
Akhirnya mereka pergi dari sana.
Vincent melihat mereka pergi dia tidak mau berhenti mengikuti mereka dan langsung mengejar mobil Tomi.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di restoran dan mereka makan.
"Tumben banget kamu gak ngajakin Ulfa."
"Aku mau ngajakin Ulfa hanya saja Ulfa bersifat aneh hari ini dia mengabaikan ku."
"Kenapa? apa kalian berantem?"
"Aku tidak tau, aku sangat bingung."
"Sudah tidak perlu terlalu di pikirkan." ucap Tomi.
"Aku sangat kesal hari ini, aku juga pusing."
"Sudah tidak perlu pusing-pusing, bagaimana kalau hari ini kita ke wahana saja? aku dengar wahana baru itu sudah buka."
"Aku tidak tau tempat nya."
"Ya udah kamu ikut saja." ucap Tomi.
Mereka membayar makan dan langsung pergi.
"Kemana lagi Tomi mau membawa Kania, awas saja kalau dia berani melakukan sesuatu kepada Kania," ucap Vincent yang menunggu di tempat lain agar tidak kelihatan.
__ADS_1
Namun tiba-tiba handphone nya berdering.
"Iyah ada apa?" tanya nya kepada Staf perempuan nya.
"Ada surat yang harus bapak periksa dan di tanda tangani pak, apa sebaik nya saya yang menyusul Bapak?"
"Tidak perlu saya akan kembali ke kantor."
Vincent melihat mobil Tomi sudah pergi dia mengirimkan kan pesan kepada Tomi.
"Jangan macem-macem kepada keponakan saya, jangan sampai keponakan saya kenapa-napa dan jangan pulang terlalu lama."
Tomi tidak membaca nya karena fokus membawa mobil.
Di malam hari nya Vincent menunggu Kania dan Tomi pulang, dia menelpon mereka namun tidak bisa.
Tidak beberapa lama Tomi dan Kania pulang.
"Terimakasih banyak yah Tomi." ucap Kania.
"Dari mana saja kalian jam segini baru pulang?"
"Ini baru saja jam delapan malam." ucap Kania.
"Saya mau langsung pulang pak, permisi selamat malam." ucap Tomi dan langsung pergi.
"Tomi saya akan berbicara dengan kamu Besok di kantor."
"Aduh mampus gue."
Kania mau langsung masuk ke dalam namun tangan nya di tahan oleh Vincent.
"Kenapa kamu pergi dengan Tomi pulang malam seperti ini?"
"Hanya belanja dan bermain-main," ucap Kania.
"Saya marah, saya tidak suka kamu dekat-dekat dengan Tomi."
"Apa salah nya paman? Aku dengar Tomi sudah lama berteman seperti ini."
"Saya tidak suka, saya cemburu."
Kania menghela nafas panjang.
"Sebaiknya Paman berhenti, paman harus sadar."
"Saya tidak bisa berhenti, saya sudah sangat mencintai kamu, saya akan menjadi kan kamu istri saya."
Kania menghela nafas panjang.
"Terserah paman saja."
"Kania..." Vincent menahan tangan Kania.
Kania menatap paman nya.
"Saya sangat lapar, kenapa kamu tidak masak dulu untuk saya?"
Kania menatap tangan nya.
"Bagaimana aku bisa masak kalau paman menahan tangan ku seperti ini."
Vincent langsung melepaskan nya sambil tersenyum.
"Maaf, kalau begitu ayo masuk."
Kania membiarkan Vincent membawa semua belanjaan nya yang begitu banyak.
__ADS_1
Vincent menemani Kania masak di dapur.
"Apa kamu dengan Ulfa belum baikan?" tanya Vincent.
Kania menoleh ke arah Vincent.
"Belum, aku juga tidak tau kenapa dia seperti itu."
"Mungkin karena dia cemburu kepada kamu karena dekat dengan Yuda."
"Tidak mungkin, bagaimana bisa dia cemburu kepada ku karena dekat dengan Yuda, dia bukan seperti paman," ucap Kania.
Tapi tiba-tiba Kania terdiam dia langsung menatap Vincent lagi.
"Jangan bilang kalau sebenarnya Ulfa suka sama Yuda."
"Saya tidak mengetahui hal itu, hanya saya kemarin saya melihat dia juga di Saat Yuda mencium kamu."
"Hah!" Kania kaget.
"Saya bisa menebak kalau ulfa memiliki rasa kepada Yuda sebelum nya, namun mungkin dia berfikir kalau kamu berpacaran dengan Yuda itu sebab nya dia memilih untuk memendam nya."
Kania terdiam sangat merasa bersalah sekali.
"Dan soal Yuda, sebenarnya kamu dengan Yuda tidak pacaran kan? Kamu membohongi saya."
"Huff percuma saja aku berbohong, Paman pasti akan tau yang sebenarnya."
Vincent tersenyum.
"Apa kamu benar-benar tidak bisa memberikan paman kesempatan lagi?"
Kania menghela nafas panjang.
"Aku tidak mau paman membahas itu, kalau Paman membahas nya aku tidak akan berbicara dengan paman lag," ancam Kania.
Vincent tersenyum.
"Baiklah-baiklah."
"Sekarang masak lah yang enak saya sudah sangat lapar."
Vincent berusaha membantu Kania namun dia malah membuat Kania kesulitan karena dia selalu mengambil kesempatan untuk bisa bersentuhan dengan Kania.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
"Minggu depan saya memiliki pekerjaan di luar kota."
"Kenapa paman memberi tau aku?"
"Itu hanya menunggu Tiga hari lagi menunggu Minggu depan. Saya tidak ingin berpisah dengan kamu," ucap Vincent.
"Huff tidak perlu berlebihan, dulu paman selalu mengutamakan pekerjaan dari pada aku, paman bahkan meninggalkan aku berbulan-bulan bersama Tomi demi pekerjaan."
Vincent menghela nafas panjang.
"Itu dulu, saya sangat bodoh karena menyia-nyiakan kamu."
Kania menatap wajah Vincent.
"Humm tapi sebaik nya paman berhenti menyukai aku, aku tau kalau perasaan yang paman punya itu hanya sekedar rasa suka saja sama seperti yang aku rasakan sebelumnya."
Vincent tiba-tiba meletakkan sendok nya dengan kasar.
"Terserah kamu mau bilang apa tentang perasaan kamu sebelum nya seperti apa, namun saya benar-benar mencintai kamu, tidak sebagai keponakan tapi sebagai wanita yang saya suka dan saya ingin menikahi kamu."
Kania terkejut dengan kata-kata Vincent. Setelah selesai berbicara Vincent minum dan langsung pergi.
__ADS_1
"Huff mau sampai kapan sih kami selalu ribut seperti ini?" batin Kania.