Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 144


__ADS_3

Vincent menatap wajah Kania. "Siapa yang aneh? Ini tidak aneh, aku hanya merasa kecapean saja dan memikirkan beberapa pekerjaan."


"Tapi seperti nya tidak ada yang harus menjadi beban pikiran pekerjaan di perusahaan, tapi mas terlihat memikirkan sesuatu."


Vincent mengelus kepala istri nya menatap nya. "Kamu fokus saja sama kuliah kamu yah, kamu tidak perlu mengkhawatirkan suami kamu."


Kania menghela nafas panjang. "Kalau mas memiliki masalah, bisa cerita sama aku, walaupun aku tidak bisa melakukan apapun tapi setidaknya aku bisa memberikan saran."


Vincent menatap wajah Kania. "Bagaimana bisa saya mengatakan yang sebenarnya Kania, saya masih bertanya-tanya," ucap Vincent dalam hati.


Saat sedang asik berbincang dengan istri nya tiba-tiba ada telpon masuk.


"Nomor baru?" batin Vincent.


"Tunggu sebentar yah," ucap Vincent meninggalkan istri nya dan pergi menjawab telpon.


"Halo?"


"Saya adalah pemilik rumah yang anda datangi beberapa hari yang lalu, apa ada yang sangat penting sehingga bapak datang mencari saya?" tanya Pria.


"Humm apakah ini dengan nama Fadil?" tanya Vincent.


"Iyah saya sendiri."


Suara yang tidak asing, dan Vincent yakin kalau itu adalah pria yang dia cari.


"Kita belum bisa bertemu hari ini, karena saya sangat Sibuk."


"Kalau begitu saya akan mendatangi anda."


Pria itu setuju dia langsung menginyakan dan menentukan tempat pertemuan mereka.


"Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa kelihatan nya sangat serius sekali," batin Kania.


Siang hari nya Kania sedang asik belajar di ruang tamu, namun tiba-tiba suami nya datang dan ijin kepada nya.


"Mas Vincent mau kemana?" tanya Kania.


"Humm aku memiliki janji di luar."


"Apa aku boleh ikut?" tanya Kania.


Vincent tersenyum dia meminta Isti nya duduk lagi. "Sebaiknya kamu di rumah saja, istirahat dan jangan lupa menyiapkan diri untuk nanti malam."


Kania langsung malu, dia pun mengiyakan. "Oke baiklah kalau begitu, jangan pulang terlalu lama, aku takut sendirian di rumah."


Vincent mengangguk.


Vincent sudah sampai di tempat perjanjian mereka. "Apa yang kamu inginkan bertemu dengan saya?" tanya Pria itu.


Vincent melihat ke arah pria yang datang dari belakang nya.

__ADS_1


"Saya tidak tau kalau itu kamu, kalau saya tau yang mengajak saya bertemu adalah kamu, mungkin saya tidak akan datang," ucap Fadil.


Vincent berdiri. "Silahkan duduk," ucap Vincent.


Fadil duduk di depan Vincent.


"Langsung saja, ada apa? saya tidak memiliki waktu yang banyak."


"Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Vincent. Fadil menghela nafas panjang.


"Apa yang kau inginkan, katakan dengan cepat."


Vincent menghela nafas panjang.


"Saya tau kamu berteman baik dengan Sarah, apa kamu tau di mana sekarang berada?" tanya Vincent.


"Setelah bertahun, kamu baru mengingat nya?"


Vincent terdiam sejenak.


"Katakan dimana dia sekarang, aku mendengar dia hamil setelah putus dengan ku," ucap Vincent.


Tiba-tiba Fadil menghajar wajah Vincent membuat Vincent kaget. "Sekian lama Kenapa kau baru datang menanyakan keadaan nya?" tanya Fadil.


"Aku tidak tau kalau dia mengandung anak ku, dan aku datang memastikan itu benar anak ku atau bukan."


"Sebaiknya kau tidak perlu mencari nya lagi, dia tidak ingin bertemu dengan mu lagi."


"Sarah bukan lah perempuan yang ada di luar sana. Mana mungkin dia menghianati pria yang sangat dia cintai."


"Kalau begitu beri tau di mana dia tinggal."


Fadil melihat Vincent sangat ingin tau. Dia juga tidak bisa menyembunyikan Sarah.


Akhirnya Fadil mau memberi tau dan berjanji akan mengantar kan Vincent menemui Sarah.


Hari semakin malam. Kania baru saja selesai bersih-bersih, dia memakai baju yang sangat di sukai oleh suami nya tidak lupa memakai wewangian dan juga berdandan tipis menata rambutnya.


"Huff ternyata seperti ini rasanya membuat suami jatuh cinta kepada kita. Aku harus menyambut nya dengan baik malam ini."


"Aku juga harus bisa membuat perasaan nya tenang, karena beberapa hari ini dia terlihat sangat lelah dan pusing."


Vincent dan Fadil baru saja sampai di depan rumah sakit.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Vincent.


"Di sini lah Sarah tinggal."


Vincent melihat lebih jelas lagi kalau itu adalah rumah sakit jiwa.


"Jangan berbohong Fadil! Aku tau kalau kamu sangat membenci ku, tapi tidak seperti ini caranya."

__ADS_1


"Sarah tinggal di sini, ayo masuk."


"Apa dia menjadi penjaga di sini? Setelah melahirkan dia memutuskan untuk bekerja?" ucap Vincent bertanya-tanya namun Fadil tidak menjawab nya.


Tidak beberapa lama bertemu dengan dokter. Fadil berbicara sebentar setelah itu mengajak Vince masuk ke dalam satu ruangan.


"Masuk lah, Sarah ada di dalam sana."


Vincent terlihat sangat ragu, dia membiarkan Fadil masuk terlebih dahulu.


Vincent benar-benar sangat kaget melihat Sarah terbaring di tempat tidur yang sangat kecil dan ruangan yang sangat dingin.


"Sarah, aku datang." Sarah membuka mata nya dia melihat Fadil dia tersenyum.


"Aku datang ke sini tidak sendiri, aku datang ke sini bersama seseorang."


Sarah menoleh ke arah Vincent, namun tiba-tiba Sarah kaget dia berteriak dan meminta Vincent keluar dari sana.


Dia sangat takut dan langsung bersembunyi di badan Fadil.


Melihat itu semua sekarang Vincent tau mengapa Sarah ada di rumah sakit jiwa dan juga kenapa Jeki sangat membenci nya.


Vincent memutuskan untuk keluar dari sana dia duduk sendirian di depan.


"Apa aku yang sudah membuat nya masuk rumah sakit ini? Apa ini semua karena aku?" tanya Vincent.


Dia sangat prustasi kalau memikirkan hal itu. Tidak beberapa lama akhirnya Fadil keluar.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Vincent.


"Cukup buruk, sebaiknya untuk sekarang kamu tidak perlu datang menemui nya karena dia seperti nya takut."


"Sudah berapa lama Sarah di sini?" tanya Vincent.


"Hampir dua tahun. Dia juga melahirkan anak nya di rumah sakit ini."


"Lalu di mana anak itu?" tanya Vincent.


"Aku belum bisa mengatakan nya karena ini adalah permintaan Sarah agar menjaga anak itu sampai dia benar-benar sembuh."


"Tapi kalau anak itu benar-benar adalah anak ku, seharusnya kalian membiarkan aku bertemu dengan nya."


Fadil menggeleng kan kepala nya. Vincent terdiam dia juga tidak bisa memaksa, akhirnya dia memilih untuk diam menunggu waktu yang tepat saja.


"Hari sudah jam sepulang malam, aku tidak bisa lama-lama di sini, sebaiknya kita pulang."


"Kamu bisa pulang terlebih dahulu, aku akan di sini menunggu Sarah sadar."


Fadil mengangguk. Dia membiarkan Vincent di sana.


Tiba-tiba saja Handphone Vincent berbunyi dari Istri nya, karena sangat pusing dia tidak menjawab nya.

__ADS_1


__ADS_2