
"Kamu ngomong apa Arka?"
"Bercanda Kak, lagian kakak sih sampai sekarang belum pernah dekat sama perempuan selain sama Tina."
Saska tidak menjawab, dia segera pergi dari sana.
Keesokan harinya..
"Assalamualaikum Tante," ucap Arka datang ke rumah Shela.
"Walaikumsalam," jawab Minhui sambil membuka pintu dia melihat Arka di balik pintu.
"Eh Arka, ayo masuk dulu."
Arka duduk. Dia melihat Shela sedang bersih-bersih.
"Rajin banget pagi-pagi sudah bersih-bersih," ucap Arka. Shela hanya melemparkan senyuman sekejap dan kembali mengerjakan tugasnya.
"Pembantu mereka akan datang minggu depan, jadi Shela yang masih bersih-bersih, dia juga sangat hoby bersih-bersih."
Tidak beberapa lama akhirnya dia menemani Arka duduk. "Ngapain kamu ke sini?" tanya Arka.
"Aku ke sini mau ngomong sama kamu, kalau kita besok ke puncak nya bukan hanya berdua saja gak apa-apa kan?" ucap Arka.
"Sama siapa?" tanya Shela.
"Sama Mita, bukan hanya dia, banyak juga kok yang lain nya."
"Terserah kamu saja, mungkin aku tidak bisa ikut karena Mamah sendirian di rumah."
"Kamu marah yah?"
"Enggak kok, aku hanya mau menemani Mamah saja."
"Oohh ya udah deh kalau begitu gak apa-apa," ucap Arka.
Arka segera pamitan dan pergi. "Bagus deh kalau dia gak pergi, aku bisa berduaan dengan Mita. Dia sangat senang sekali."
"Aku tau kok sebenernya kamu gak pengen aku pergi," batin Shela.
Satu minggu kemudian....
Sudah satu minggu Saska tidak bertemu dengan Shela. Dia tidak berhenti kefikiran. Namun dia juga tidak ada alasan mau mengajak Shela ketemu.
"Kakak...." Panggil Kania dari luar.
Saska langsung keluar. "Iyah Mah,"
"Kenapa adik kamu sudah satu Minggu gak pulang-pulang? Dia juga gak ngasih kabar."
"Masih liburan mah, biarkan saja dia juga sudah besar," ucap Saska.
"Kamu mau kemana hari ini?" tanya Kania. "Aku di rumah saja Mah."
__ADS_1
"Pas banget, ayo anterin Mamah ke rumah Tante Minhui."
"Ke rumah Shela?" tanya Saska. "Iyah, emang nya kenapa? Kamu gak mau yah?" tanya Kania.
"Tunggu sebentar yah mah, aku siap-siap dulu."
Saska berlari ke kamar nya.
"Akhirnya ada alasan juga agar aku bertemu dengan Shela," ucap Saska.
"Humm tumben-tumbenan banget kamu rapi seperti ini, Wangi lagi," ucap Kania.
"Aku mau ketemu Laura mah, dia tidak mau sama ku kalau bau."
Kania tersenyum. "Apa kamu mau punya adik bayi?" tanya Kania.
"Aku sudah bayi, bukan berarti aku mau adek mah, satu aja sudah cukup," ucap Saska.
"Mamah cuman bercanda, Lagian papah kamu gak mau, katanya gak tega lihat mamah kesakitan."
Mereka segera berangkat ke rumah Shela. tidak beberapa lama akhirnya sampai juga di tempat.
Saska sangat bersemangat sekali. Mereka di sambut dengan sangat Ramah, Minhui sangat senang Kania datang menjenguk nya.
Tidak beberapa lama Shela keluar dari kamar nya. "Shela, kok kamu di sini? Kamu gak jadi ikut sama Arka?"
"Enggak Tante, kasihan mamah di tinggal sendirian."
"kok Arka gak ngomong apa-apa sih sama Tante, kalau tau seperti itu Tante gak akan ngijinin dia pergi."
Shela melihat Saska duduk di sofa ruang tamu, dia membawa kan teh untuk Saska.
"Kakak gak pergi liburan?" tanya Shela. Saska menggeleng kan kepala nya.
"Kamu sendiri gak pergi?" tanya Saska.
Shela menggeleng kan kepala nya. "Dewi sudah pulang ke kampung nya, aku tidak punya teman untuk pergi."
Saska menganggap itu kesempatan, akhirnya dia mengajak Shela untuk keliling kota menggunakan motor satu harian.
Awalnya Shela menolak karena tidak nyaman saja pergi berdua dengan Saska. Namun di rumah saja dia bosan, lagian pembantu mereka sudah datang.
"Aku mau deh Kak, tapi aku takut naik motor."
"Kamu pikir, aku Arka? kamu tidak perlu khawatir," ucap Saska.
Besok nya Saska benar menjemput Shela.
"Kamu sudah siap?" tanya Saska. Shela mengangguk.
Saska melihat Shela menenteng helm dari Arka bekas Mita, sementara Mita di beliin yang baru.
Saska dengan mudah nya menarik helm itu dan melemparkannya ke sembarangan arah.
__ADS_1
"Kalau sudah bekas wanita lain tidak layak di pakai lagi."
"Kakak... kenapa di buang? Terus aku pakai apa dong?" tanya Shela.
Saska memberikan memberikan helm perempuan yang di beli khusus untuk Shela.
"Kamu pakai ini sekarang," ucap Saska.
"Tapi kak." Saska langsung memasang nya ke kepala Shela.
helm warna pink itu sangat Cocok dengan wajah gemas Shela.
"Helm ini cukup mahal, jadi kamu harus menjaga nya, belakang nya juga ada inisial nama kamu."
Shela tertegun, kenapa Saska sangat effort banget.
Mereka pun berangkat. "Hati-hati kak, aku takut," ucap Shela memeluk pinggang Saska sangat erat.
Saska tersenyum, dia pun menjalan kan motor nya meninggalkan halaman rumah Shela.
Minhui melihat itu. "Aku sangat senang melihat mereka dekat, tapi seperti nya mereka terlalu dekat," batin Minhui.
"Lepaskan pelukan kamu, jangan takut," ucap Saska.
perlahan Shela memberanikan diri melepaskan nya. Namun Saska sangat iseng menggoyang motor. reflek dia langsung memeluk Saska sangat erat.
Saska tertawa. Shela yang tadi nya kurang mood, mendengar suara tertawa Saska dia tersenyum. Shela perlahan-lahan mulai menikmati perjalanan.
Walaupun hari libur tetap saja jalanan kota sangat ramai untung nya tidak macet.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di tempat persinggahan untuk beli minuman dan isi minyak motor.
"Hufff, sangat panas," ucap Shela. Namun Saska membuat nya terkejut karena meletakkan minuman di wajah nya.
"Kak Saska! Membuat ku kaget saja!"
"Minum dulu."
Shela membeli beberapa cemilan untuk di makan di jalan.
Karena tidak bawa tas dia memasuk kan ke dalam tas Saska. Mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Awalnya hanya ingin keliling saja, namun ternyata Saska membawa ke kebun binatang.
"Aaa!!! Kenapa ke sini Kak?" tanya Shela.
"Apa kamu tidak mau memberikan hewan yang di dalam sana makan?" tanya Saska.
Shela tidak mau, namun Saska memaksa nya. Setelah membeli tiket yang cukup mahal, mereka masuk ke dalam mobil yang khusus untuk di bawa masuk ke dalam.
Untuk pertama masih hewan yang kecil-kecil, seperti kelinci, dan banyak yang lain nya. Shela mulai suka. Namun saat di bagian hewan buas dia sangat ketakutan sekali.
Melihat dia berteriak ketakutan, Saska tertawa terbahak-bahak, dia sangat suka melihat Shela ketakutan.
__ADS_1
Belum lagi, Shela yang tidak mau melepaskan pelukannya dari Saska.
"Aku gak mau kak, aku mau keluar," ucap Shela. Namun Saska membuat Shela lebih berani. Perlahan-lahan akhirnya Shela mulai berani melihat binatang buas itu dan melemparkan makanan.