
Jeki semakin merasa bersalah mendengar jawaban Minghui.
"Aku minta maaf sudah membuat kamu dan orang tua kamu seperti ini," ucap Jeki.
Jeki langsung membawa Minhui pulang dengan nya.
Minhui tidak berhenti memeluk Saska karena sangat merindukan nya.
Jeki juga sangat senang karena mereka kembali bersama.
Sesampainya di rumah Minhui langsung istirahat. Sementara Jeki langsung mengabari Vincent kalau Minhui sudah pulang.
Vincent juga sangat senang mendengar itu.
"Bagus lah kalau begitu," batin Vincent.
"Huff yang dulu nya musuhan karena jabatan, sekarang malah saling bantu seperti Saudara," Sindir Tomi.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu! kamu mau membuat saya marah?" tanya Vincent.
Tomi tertawa kecil. "Lagian Bapak membuka hidup sendiri sulit," ucap Tomi.
"Jangan mencoba mengejek saya kamu! Saya akan memotong gaji kamu," ancam Vincent.
"Saya minta maaf Pak," ucap Tomi.
Di sore hari nya Minhui bangun dia melihat Saska sudah tidur di samping nya sementara Jeki ketiduran sambil duduk di pinggir kasur.
"Kenapa mereka malah ketiduran di sini?" batin Vincent.
Tidak beberapa lama akhirnya Jeki bangun.
"Apakah tidur kamu terganggu karena kita berdua?" tanya Jeki.
"Enggak kok," ucap Minhui.
Karena perut nya sudah besar dia sangat sulit untuk duduk. Jeki langsung membantu nya.
"Apa kamu mau ke kamar mandi?" tanya Jeki.
Minhui mengangguk. Jeki membantu ke kamar mandi.
Dia juga menunggu di depan pintu kamar mandi.
Minhui sedikit risih karena di tungguin di depan pintu.
"Kamu mau makan apa? Aku akan pesan dari luar," ucap Jeki.
"Aku belum lapar."
"Kamu tidak boleh banyak pikiran, sekarang kamu harus makan banyak karena anak yang di dalam perut kamu juga harus makan."
Minhui menghela nafas panjang. "Terserah kamu saja," ucap Minhui.
Jeki tidak berfikir panjang, dia langsung memesan makanan dari luar cukup banyak.
Minhui tidak bisa berkata-kata melihat Jeki.
__ADS_1
Sementara Vincent baru saja selesai mandi, dia melihat Kania sedang memasak sesuatu di dapur.
Dia melihat Kania memakai daster yang sangat kecil yang menunjukkan paha putih nya.
"Hufff apa-apaan sih Vincent! Tidak bisa melihat kondisi malah berfikir yang aneh-aneh," ucap nya kepada diri nya sendiri.
Kania menoleh ke arah Vincent.
"Kalau mau Makan, makanan nya sudah ada di atas meja," ucap Kania.
Vincent mengangguk. "Apa kamu tidak makan?" tanya Vincent kepada Kania.
"Aku sudah kenyang," ucap Kania.
Vincent menghela nafas panjang, dia melihat istrinya pergi sambil membawa kopi di tangan nya.
Vincent sebenernya tidak berselera untuk makan karena sendirian, namun dia tidak mau membuat makanan yang di masak oleh istrinya mubajir.
Setelah selesai dia tidak melihat istri nya di ruang tv, dia menyusul ke dalam kamar.
"Kenapa mas masuk ke sini?" tanya Kania. Vincent tidak menjawab namun dia langsung naik ke atas kasur.
"Apa yang mas lakukan?" tanya Kania.
Vincent memeluk Kania. Kania berusaha berontak namun dia tidak kunjung melepaskan pelukan nya.
"Aku ingin tidur di sini, aku sangat ingin memeluk kamu seperti ini," ucap Vincent.
"Sebaiknya mas keluar!"
Vincent menggeleng kan kepala nya. Dia menatap wajah istri nya.
Kania menghela nafas panjang. "Aku sudah bilang jangan membahas tentang itu, aku tidak mau membahas itu untuk sekarang."
Vincent mau mencium bibir Kania, namun di tahan oleh Kania.
"Aku mohon..." ucap Vincent.
Namun Kania tetap tidak mau.
Vincent meletakkan kepala nya di dada Kania.
"Aku meninggalkan Sarah demi kamu, aku juga memberikan Saska kepada orang lain demi kamu, agar kamu sadar kalau kamu adalah segalanya bagiku, namun kenapa sangat sulit untuk memaafkan aku?" tanya Vincent.
Vincent mencium kening Kania. "Kamu bisa meminta apapun kepada ku asalkan jangan pergi dari ku, aku akan melakukan apapun itu, tapi aku mohon maafin aku."
"Aku ingin tidur, jangan ganggu aku," ucap Kania.
Vincent menyerah, dia langsung pergi.
Kania berbaring melupakan masalah nya dan tidur.
Sementara Vincent tidak bisa, melainkan dia malah mencari sesuatu minuman menenangkan diri nya.
Dia minum sendirian di ruang tv.
Keesokan paginya...
__ADS_1
"Mas Vincent!" ucap Kania.
Vincent kaget karena teriakan istrinya.
Vincent langsung bangun dan melihat Kania berdiri tidak jauh dari nya.
"Apa-apaan ini?" tanya Kania. Vincent baru menyadari dirinya tidur di ruang tamu, dia langsung bangun walaupun masih setengah sadar.
"Kania.. Maafin aku, maafin aku." Vincent segera minta maaf.
Kania menutup hidung nya karena sangat bau alkohol, Vincent langsung membersihkan semua nya.
"Aku akan membersihkan nya, aku akan membersihkan nya," dia terlihat sangat takut dengan cepat membersihkan semua nya.
Vincent masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya..
"Huff aku melakukan kesalahan lagi, bagaimana Kania memaafkan aku kalau aku tetap seperti ini," ucap nya.
Di rumah Jeki...
Minhui terbangun karena merasa sesuatu menyentuh perut nya, dia bangun dan melihat Jeki yang sedang mengelus, mencolek dan tersenyum ketika melihat pergerakan aktif di perut Minhui.
"Kamu bangun? aku minta maaf membuat kamu terbangun," ucap Jeki.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Minhui.
"Ada sesuatu yang bergerak di dalam sana, aku rasa itu adalah bayi nya. Dia merespon ku dengan sangat baik," ucap Jeki.
"Selamat pagi anak papah, papah gak sabar melihat kamu lahir di dunia ini," ucap Jeki.
Saska bergeliat. "Wahh kamu sudah bangun?" ucap Jeki Langsung memeluk Saska.
Namun Saska mau nya sama Minhui.
"Apa kamu tidur dengan nyenyak?" tanya Minhui.
"Tante sangat merindukan kamu, Tante minta maaf yah sudah ninggalin kamu," ucap Minhui.
Jeki tersenyum. "Apakah hari ini kamu tidak bekerja?" tanya Minhui.
"Aku masih ingat bersama kamu dan Saska? Aku masih merindukan kamu."
"Sebaik nya berangkat bekerja, jangan membuang-buang waktu," ucap Minhui.
"Baiklah kalau begitu, anak ku akan segera lahir, kita juga akan menikah, akan membutuhkan banyak uang untuk itu."
Tidak beberapa lama akhirnya Jeki siap berangkat bekerja. "Aku sudah memesan makanan untuk kamu dan Saska, jangan lupa makan."
Jeki pun berangkat walaupun sebenarnya masih ingin bersama Minhui.
Setelah Jeki berangkat, dia dan Saska masih berbaring di tempat tidur.
Tidak bisa membohongi perasaannya, dia sangat sedih karena orang tua nya sekarang sudah sangat membenci nya.
Dia tidak tau kemana lagi harus meminta tolong karena sebentar lagi dia sudah melahirkan.
Kania hari ini tidak ada Jadwal kuliah, dia bingung harus ngapain di rumah.
__ADS_1
Dia memutuskan untuk bermain ke Cafe Yuda.