
"Soal Saska tadi, aku juga minta maaf."
"Tidak apa-apa, tapi lain kali kalau kamu kesal pada ku, pukul aku saja, jangan marahi Saska, atau anak kita kelak," ucap Jeki.
Minhui melihat Saska. "Aku minta maaf," ucap Minhui menunduk kan wajah nya menahan tangis, namun Jeki langsung memeluk Minhui.
"Sudah-sudah jangan sedih lagi," Jeki mengelus kepala Minhui.
"Aku sangat sedih, kenapa aku harus marah kepada Saska."
"Nama nya juga emosi, sekarang kamu tidur saja agar tidak berfikir yang aneh-aneh."
"Kamu seriusan kan bakalan bawa kami jalan-jalan besok?"
"Iyah, mana mungkin aku berbohong." Minhui menghapus air mata nya. "Baiklah kalau begitu," ucap Minhui.
Dia berbaring di samping Jeki sementara Jeki menemani Saska main terlebih dahulu.
Namun beberapa menit Jeki ngantuk, mungkin karena dia kelelahan.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka bertiga ketiduran.
Di rumah Vincent....
Vincent dari tadi sangat sibuk dengan laptop nya sehingga tidak sadar kalau istrinya belum masuk ke dalam kamar.
Dia melihat keluar namun di sana sama sekali tidak ada siapa-siapa, "Sayang..." panggil nya namun tidak ada suara.
Lampu juga sudah mati, dia mencari keberadaan istri nya namun sama sekali tidak ada.
Dia mencari keluar dan benar saja istri nya ada di luar. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Vincent melihat Kania duduk di depan rumah sendirian.
"Loh mas kenapa belum tidur?" tanya Kania. "Justru aku yang harus bertanya seperti itu kepada kamu, Kenapa belum tidur? Ini sudah malam loh."
"Aku belum ngantuk kak," ucap Kania.
"Kamu mikirin apa? Apa kamu memikirkannya sesuatu?" tanya Vincent.
Kania menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok, aku hanya jarang melihat bintang dan bulan menerangi langit seperti itu."
Vincent ikut duduk di samping Kania. "Setelah libur nanti, apa kamu mau ke sesuatu tempat?" tanya Vincent.
"Aku mau ke tempat Mamah sama Papah."
"Oke, baiklah kita akan pergi ke sana," ucap Vincent.
Kania tersenyum. "Di sini cukup dingin, sebaiknya kita masuk," ajak Vincent.
__ADS_1
Kania mengangguk. Keesokan harinya semua nya seperti biasa, Kania masih tetap bahagia menikmati waktu berdua dengan suami nya. Menikmati kesibukan mereka masing-masing.
Sementara Di hotel penginapan Jeki, dia kaget karena di bangun kan oleh Minhui dan Saska.
"Jeki... ayo bangun." ucap Minhui. Jeki membuka mata nya.
"Kamu bilang kita akan pergi jalan-jalan, ini sudah jam sepuluh kamu belum juga bangun," ucap Minhui.
Jeki segera bangun dia masuk ke kamar mandi karena melihat Saska dan Minhui sudah rapi.
Dia segera siap-siap dan tidak beberapa menit sudah selesai.
"Ayo kita berangkat," walaupun nyawa masih belum terkumpul dia tetap tidak mau mengecewakan Minhui dan Saska.
Mereka menunggu jemputan. "Kamu sudah minum obat?" tanya Jeki.
Minhui menunjuk obat di dalam tas kecil nya. "Aku belum sarapan."
"Kalau begitu kita cari sarapan dulu," ucap Jeki.
Di dalam mobil Jeki mengelus perut Minhui. "Aku belum menyapa nya pagi ini," ucap Jeki.
"Pagi anak papah, apa kamu sudah bangun? Hari ini kita akan jalan-jalan ke pantai, kamu pasti sangat senang seperti Mamah mu kan?" tanya Jeki.
Minhui hanya diam, berlagak cuek tapi sebenarnya dia menahan senyum.
Sebelum ke tepi pantai mereka jalan-jalan melihat pedagang makanan, baju dan barang-barang yang lainnya.
Saska sangat bersemangat sekali, Jeki kewalahan mengikuti nya.
"Setelah aku hamil, baru kali ini aku jalan-jalan keluar seperti ini, rasanya sangat nyaman, tenang dan juga lega."
Mereka mencari tempat duduk karena sudah sangat panas sekali.
"Huff hari ini begitu panas sekali," ucap Jeki sambil membuka kaos pantai nya.
Namun Jeki langsung menepuk-nepuk perut nya yang sedikit membuncit dan berlipat.
Minhui tertawa melihat nya, Jeki langsung malu.
"Aku tidak pernah olahraga lagi, dan akhir-akhir ini makan ku sangat banyak dan bawaan nya terus lapar," ucap Jeki.
Minhui hanya tersenyum saja.
Namanya juga pantai pasti ada bule-bule yang berkunjung dan juga ada banyak wanita-wanita cantik yang memakai pakaian mini.
Jeki melihat mereka lewat, Minhui langsung menatap tajam ke arah Jeki.
__ADS_1
"Ingat di dalam perut ku ada anak kamu, masih aja ganjen lihatin cewek," ucap Minhui.
"Tapi kan hanya anak aku yang di dalam perut kamu, kita belum menikah bahkan tidak pacaran," ucap Jeki.
Minhui menghela nafas panjang. "Benar sih, ya sudah kalau begitu coba saja dekatin mereka, mana mungkin mereka mau sama pria seperti kamu."
"Kenapa tidak? Aku bisa mendapatkan yang paling cantik dengan mudah," ucap Jeki.
"Cobalah."
Jeki benar-benar mencoba nya dia langsung mengajak salah satu perempuan. Dan dia sangat mudah berkenalan dan berbicara dengan perempuan itu.
"Huff aku lupa kalau aku sekarang seperti ini karena omongan manis dan juga ketampanan nya," batin Minhui.
Minhui dan Saska main ke tepi pantai menikmati ombak kecil.
Setelah selesai dari sana mereka pulang. Namun Jeki baru saja selesai dan langsung menyusul Minhui yang keluar dari pantai.
"Kok udah pulang sih?" tanya Jeki.
"Aku sudah bosan, Saska harus kembali ke hotel agar tidur siang."
"Kamu marah yah aku godain perempuan itu?"
"Kenapa aku harus marah? Lagian aku sudah terbiasa."
Jeki menghela nafas panjang, dia melakukan itu agar Minhui marah dan cemburu, namun ternyata dia salah.
Jam dua siang mereka sudah di hotel yang di sediakan oleh pantai. Karena Jeki sudah membawa semua barang-barang nya ke sana.
Jeki memerhatikan Minhui yang tidur bersama Saska.
"Seperti nya Minhui benar-benar sudah tidak memiliki perasaan kepada ku," ucap Jeki.
Dia ketiduran di karpet karena memikirkan hal itu. Di sore hari Minhui dan Saska bangun, dia melihat Jeki sudah tidak ada di kamar itu.
Dari kaca lebar yang tembus pandang itu dia melihat Jeki duduk sendirian di pinggir pantai sambil menatap kosong ke arah air pantai yang tak kunjung tenang.
"Papah... Papah..." sana menunjuk ke arah Jeki.
Minhui sebenarnya tidak ingin menyusul Jeki, tapi perut nya sangat lapar, akhirnya dia mau mengantar kan Saska ke Jeki.
Jeki mendengar suara Saska dia langsung menoleh ke arah Saska. "Kamu sudah bangun nak, sini sama Ayah," ucap Jeki.
Jeki menoleh ke arah Minhui. "Aku sangat lapar," ucap Minhui.
Jeki menunjuk ke arah pondok yang sudah sedia makanan yang banyak. Panggang ikan yang terlihat sangat enak sekali.
__ADS_1
Minhui langsung mendekati dan makan. Jeki dan Saska juga ikut. Seperti nya masih baru karena masih panas.