Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 114


__ADS_3

"Oohh begitu yah pak."


"Apa kamu sudah mencari tau tentang adik nya Jeki?"


"Saya sudah mencoba cari pak, tapi saya tidak mendapatkan informasi apapun."


"Huff mungkin dia sudah mengirim Adik nya keluar negeri, sudah tidak perlu di cari lagi, mungkin dia hanya ingin berkelahi dengan ku," ucap Vincent.


Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari Kania.


"Halo?"


"Paman di mana? Kenapa paman tidak mengijinkan aku ke kantor hari ini?" tanya Kania karena baru bangun dan membaca pesan dari Vincent yang melarang nya datang ke kantor sampai acara pernikahan selesai.


"Kamu baru saja selesai ujian, sebaiknya kamu istirahat saja, lagian ini yang minta mami dan omah."


"Aku tetap mau bekerja," ucap Kania.


"Terserah kamu saja, sebaik nya kamu bicara dulu sama Mami dan juga Omah."


"Bagaimana aku mengatakan kepada mereka?" tanya Kania.


"Saya tidak tau, kamu ijin saja dulu. Kalau mereka mengijinkan kamu, kamu bisa lanjut bekerja," ucap Vincent.


Telpon langsung mati.


"Iihh nyebelin banget sih, gak tau apa seharian di rumah itu sangat membosankan sekali apalagi ada Bu Mona pasti rasanya sangat canggung bingung mau ngapain," batin Kania.


Namun ternyata Bu Mona datang ke kamar nya.


"Kania... Coba bantu ibu pilih mana dekorasi yang bagus?"


"Terserah ibu saja yang bagus yang mana, aku pasti suka."


"Gak bisa seperti itu nak, kamu yang menikah kamu yang harus memilih nya."


Kania memilih dekorasi yang sangat bagus menurut nya dan harganya juga cukup mahal.


"Selera kamu Bagus juga, ibu dari tadi sudah sangat suka sama yang ini," ucap bu Mona.


"Oh iya setelah Vincent pulang nanti pergi lah jalan-jalan keluar sekalian mencari souvenir yang bagus," ucap Bu Mona.


Kania mengangguk. Setelah itu Bu Mona pun permisi keluar dari kamar Kania.


"Tidak mungkin aku meminta ijin, lagian saran mereka bagus agar aku bisa istirahat," ucap Kania.


Di sore hari nya Vincent cepat pulang dia langsung mencari Kania ke dalam kamar nya.


"Ini titipan kamu," ucap Vincent.


"Paman sudah pulang?" ucap Kania mendekati Vincent dan menarik nya ke dalam.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana kalau ada yang melihat dan salah paham?" tanya Vincent.


"Tidak perlu berpura-pura sok polos seperti ini, biasa nya juga Paman selalu seperti ini kepada ku."


Vincent tersenyum tipis. "Ada apa?" tanya Vincent.


"Saya sudah membeli jajanan yang kamu mau, apa lagi?" tanya Vincent.


"Sebentar lagi kita akan menikah, sangat banyak yang harus di persiapkan," ucap Kania.


"Terus?" tanya Vincent.


"Kita harus foto prewedding, membuat undangan, mencari souvenir, dan masih banyak yang lain nya."


"Besok saya libur, kita bisa menggunakan hari ini untuk foto prewedding," ucap Vincent.


"Dan yang lain nya bagaimana?"


"Kamu bisa mengurus nya, ada Mami juga."


"Enak banget sih, aku kan segan kalau sama Bu Mona."


"Tugas saya bukan itu, saya hanya mengurus biaya sampai siap karena itu adalah permintaan mami."


"Kamu tau sendiri kan kalau mami tidak akan mengijinkan saya berhenti bekerja."


Kania menghela nafas panjang. "Sudah lah, kamu harus bisa dekat dengan Mami agar kedepannya akur" ucap Vincent.


"Tidak semudah itu paman," ucap Kania.


"Apa yang kamu pikirkan lagi? Apa kamu takut mami marah sama kamu dan tidak merestui hubungan kita?"


Kania tidak bisa menjawab nya dia hanya diam sambil memasang wajah sedih.


Di malam hari nya Vincent sedang berkeliling bersama Kania. Tidak beberapa lama akhirnya mereka mendapatkan apa yang di cari.


Cukup lama mereka di luar karena Kania tidak ingin cepat-cepat pulang. Sebelum pulang mereka Nonton Flim terlebih dahulu.


Hari sudah jam sembilan malam akhirnya mereka memilih untuk pulang.


Seiring berjalannya waktu Persiapan untuk pernikahan sudah hampir jadi semua nya sudah hampir lengkap..


Kania datang ke perusahaan membawa undangan yang baru saja di cetak.


"Paman aku datang...." ucap Kania mengejutkan Vincent yang sedang bekerja.


Vincent tersenyum melihat Kania. "Kenapa kamu tidak bilang mau datang?" tanya Vincent.


"Aku ke sini hanya mau ngasih tau ini," ucap Kania menunjuk kan undangan nya.


"Biasanya kamu mengirimkan foto, kenapa jauh-jauh ke sini? Bagaimana kalau kamu kelelahan?" tanya Vincent.

__ADS_1


Kania menghela nafas panjang. "Aku bukan anak kecil yang mudah kecapean paman, semua orang selalu melarang ku Melakukan hal yang berlebihan sementara dulu di paksa sampai tidak memiliki waktu untuk istirahat."


Vincent menghela nafas panjang. "Apa kamu tidak ingat kalau kita sudah mau menikah? kamu harus sehat."


Kania menghela nafas panjang. "Aku tau, tapi aku juga bosan seharian di rumah."


Vincent menarik tangan Kania dan duduk di pangkuan nya.


"Sini saya lihat," ucap Vincent dia yang melihat desain yang di pilih oleh Kania cukup Bagus.


"Apa sudah bisa di sebarkan?" tanya Vincent.


Kania mengangguk.


"Aku sudah meminta bantuan Tomi, Fani dan juga Yuda serta Ulfa."


"Oh iya banyak juga yang membantu nya."


"Saya akan memberikan sendiri kepada teman-teman saya," ucap Vincent. Kania mengangguk.


Vincent memegang tangan Kania.


"Sebentar lagi kita sudah mau menikah, ini seperti tidak mungkin tapi ini benar-benar terjadi," ucap Vincent.


Kania tersenyum. "Aku juga tidak pernah berfikir kalau ternyata jodoh ku sendiri adalah orang yang sudah membesar kan aku."


Vincent tersenyum. "Mungkin ini adalah balasan yang adil karena sudah membesar kan kamu."


Kania memukul Vincent.


"Jadi selama ini paman tidak ikhlas menjaga ku?"


"Saya sangat ikhlas, itu sebab nya tuhan memberikan imbalan yang sangat besar yaitu memberikan saya calon istri."


Kania tersenyum. "Kalau saya tau kamu adalah wanita yang saya cari selama ini, saya tidak akan menghabiskan tenaga untuk berhubungan dengan wanita lain."


"Sudah lah tidak perlu di bahas, kita membahas masa depan saja," ucap Kania.


"Kalau membahas masa depan, berapa kamu ingin memiliki anak?" tanya Vincent.


"Dua saja sudah cukup," ucap Kania. Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Tidak mungkin hanya dua saja, harus ada empat atau Lima," ucap Vincent.


"Itu kebanyakan, memiliki anak banyak butuh modal yang sangat besar dan juga melahirkan dan mengandung tidak lah mudah."


"Pokoknya saya ingin memiliki anak lima agar suatu saat nanti rumah kita sangat ramai."


Kania menggeleng kan kepala nya. "Aku tak mau, aku memilih dua saja."


"Saya akan memaksa kamu, tidak baik juga untuk menolak permintaan suami."

__ADS_1


"Baiklah terserah paman saja," ucap Kania karena masih sangat lama untuk memiliki anak.


Setelah beberapa lama akhirnya Kania pamit kembali, dia harus segera pulang karena Bu Mona dan omah, Opah nya menunggu nya karena sudah janji mau makan siang bersama.


__ADS_2