Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 116


__ADS_3

Tomi yang melihat nya saja heran. Kenapa Jeki harus mengirimkan foto ini kepada Vincent, bukan hanya dia mantan Jeki namun kenapa Jeki mengirimkan semua ini seakan-akan kalau pak Vincent memiliki kesalahan," batin Tomi.


"Tomi, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Fani. Tomi kaget dia langsung memberikan semua foto itu kepada Pengawal untuk di buang.


"Tidak ada, aku datang sendiri?" tanya Tomi.


Fani mengangguk. "Baiklah kalau begitu kamu bisa masuk ke dalam langsung."


"Aku malu tidak memiliki pasangan, apa kamu bisa menemani aku?" tanya Fani. Tomi melihat ke sekitar nya.


"Kamu datang bersama teman-teman laki-laki kamu, kenapa berpisah dari mereka?" tanya Tomi.


Fani menatap Tomi. "Mau yah nemenin aku sebentar ke dalam, setelah itu kamu bisa lanjut bekerja," ucap Fani karena dia tau kalau Tomi menjaga di depan.


Tomi melihat sekeliling nya terlebih dahulu. "baiklah," ucap Tomi.


Fani sangat senang dia langsung menggandeng tangan Tomi masuk ke dalam.


"Dulu saja dia tidak pernah menggandeng tangan ku seperti ini, sekarang dia semakin berusaha mendekati ku," batin Tomi.


Hari yang terasa sangat panjang bagi kania, dia sudah sangat lelah berdiri menyambut tamu dari tadi.


"Aku sangat lelah sekali, kaki ku sangat sakit," ucap nya kepada Vincent.


Vincent langsung paham dan memberikan dia duduk dan menyambut tamu sendirian.


Tamu juga paham kalau Kania kelelahan.


Karena tamu sudah mulai sibuk dengan hidangan yang ada Vincent duduk di samping Kania.


"Sekarang saya sudah menjadi suami kamu, Jangan panggil saya dengan sebutan Paman lagi."


Kania menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak terbiasa, aku akan tetap panggil seperti itu."


"Saya sudah menyiapkan untuk panggilan yang bagus."


"Apa?" tanya Kania.


"Mas Vincent."


"Hah?" tanya Kania kaget.


"Tumben banget paman mau di panggil seperti itu?" tanya Kania. "Panggilan ini sangat romantis sekali. Saya suka mendengar nya, kamu harus panggil saya dengan sebutan mas Vincent."


"Mas Vincent," ucap Kania sangat kaku.


"Nah seperti itu," ucap Vincent.


Kania tersenyum.


"Wah wah.. seperti kau sudah tidak sabar yah Vincent, apa kamu lupa di sini masih banyak orang," ucap teman-teman nya yang baru saja datang.


Vincent dan Kania langsung berdiri.

__ADS_1


Mereka malu-malu dan foto bersama.


Vincent selalu ingin duduk berdekatan dengan Kania, namun Kania sangat malu dia meminta Vincent agar lebih jauh duduk nya.


Tidak beberapa lama akhirnya acara pelemparan bunga. Semua nya sudah berkumpul di tengah-tengah siap memperebutkan bunga itu.


Semua perempuan berkumpul, karena yang laki-laki tidak ikut.


Tidak beberapa lama bunga di lempar dan yang mendapat kan nya adalah Fani.


Semua nya Tepuk tangan, Fani sangat senang sekali dia langsung menghampiri Tomi memberikan bunga itu.


Namun Tomi menepis bunga itu dan pergi. Fani sangat Sedih dia juga malu karena sikap Tomi.


Namun Tidak banyak orang yang menyadari hal itu, acara masih berlanjut.


Ulfa menyadari Fani sedih tapi dia langsung keluar dari sana.


"Kamu mau kemana?" tanya Yuda.


"Aku mau melihat mbak Fani."


"Itu bukan urusan kita, sudah biarkan saja," ucap Yuda sambil merangkul pinggang Ulfa.


Kania melihat Fani keluar, dia juga tidak tega Tomi seperti itu kepada nya.


Tidak beberapa lama akhirnya acara selesai. Kania di antar ke kamar yang sudah di sewa untuk kamar pengantin di hotel itu.


Bu Mona dan Omah serta Ulfa membantu Kania ke kamar.


"Iyah Omah, ada aku dan juga yang lain menemani Kania di sini," ucap Ulfa.


Bu Mona mengangguk. "Baiklah kalau begitu," Bu Mona membawa Omah istirahat ke kamar yang sudah di sediakan juga.


Sementara Vincent harus menemani teman-teman nya yang masih ada di sana. Dalam hati dia ingin segera meninggalkan mereka semua.


"Teman-teman kalian lanjut saja yah, saya mau lanjut istirahat," Ucap Vincent karena sudah jam 12 malam.


"Bagaimana bisa kau sangat tega meninggalkan kami di sini?" ucap mereka.


Di dalam kamar Kania sedang membujuk teman-teman nya untuk tidak pulang malam ini, Kania meminta mereka tidur di kamar nya namun mereka semua tidak mau.


Akhirnya Kania meminta mereka tidur di kamar sebelah nya agar kalau terjadi apa-apa dia langsung bisa ke kamar mereka.


Mereka tidak berhenti menakut-nakuti Kania, namun Kania tidak akan takut karena dari awal sudah ada perjanjian dengan Vincent.


"Tok!! Tok!! Tok!!" ketukan pintu kamar. Semua orang yang di dalam kamar pengantin sangat kaget melihat Vincent sudah datang.


"Kania kami ke kamar Kami dulu yah, kamu istirahat saja," Ucap Ulfa.


Kania mengangguk walaupun dia sangat tidak pasrah.


"Permisi pak, permisi Paman."

__ADS_1


Kania berdiri melihat Vincent.


"Humm saya pikir kamu sudah tidur," ucap Vincent.


Kania menggeleng kan kepala nya.


"Bagaimana bisa aku tidur, sementara Bu Mona meminta aku menunggu Paman masuk," batin Kania.


Vincent mendekati Kania, namun Kania menghindar.


Tapi Vincent tidak berhenti dia semakin mendekati Kania.


"Pintu belum di tutup, bagaimana kalau ada yang lihat?"


Vincent mengelus pipi Kania, mengucapkan kata-kata dan. juga mencium kening Kania.


Kania sangat kaget ternyata Vincent hanya ingin membaca kan doa saja dan mencium kening nya.


"Kamu tidak mau mandi?" tanya Vincent.


Kania mengangguk.


Vincent menarik tangan Kania ke dalam kamar mandi.


Kania tidak bisa menolak.


"Saya akan membantu membuka baju kamu, jangan terlalu lama agar kamu tidak masuk Angin."


Setelah itu Vincent keluar dari kamar mandi, dan Vincent keluar agar tidak terlalu gugup, begitu juga dengan Kania.


"Huff kenapa harus sangat gugup seperti ini? Padahal biasanya aku selalu seperti ini dengan Kania biasa saja," batin Vincent.


"Kamu belum mandi juga?" tanya Bu Mona.


Vincent kaget karena mami nya datang.


"Kania masih mandi mi."


"Mami tau kamu pasti sangat gugup kan, itu adalah hal biasa, nanti lama-lama pasti terbiasa kok."


Vincent mengangguk. Dia mendengar kan banyak nasehat dari orang tua nya itu.


Di tempat lain Fani menangis karena tidak bisa melupakan sikap Tomi tadi.


"Apakah dia benar-benar sudah sangat membenci ku? apa dia tidak bisa menerima aku lagi?" batin Fani.


tiba-tiba handphone nya berdering Telpon dari Kania, setelah selesai mandi dia menyempatkan untuk menghubungi fani mumpung tidak ada orang di kamar nya.


"Halo Kania?"


"Fani kamu di mana? Kamu sudah pulang kan?" tanya Kania.


"Aku sudah di rumah kok, ada apa?"

__ADS_1


"Aku mengkhawatirkan kamu, kamu tidak apa-apa kan?"


Tania terdiam, dia tidak menjawab nya.


__ADS_2