
"Kenapa kamu begitu sangat sedih ketika orang tua Ulfa meninggal? Sedangkan kamu tau orang tua Kamu meninggal kamu tidak sedih?" tanya Vincent.
Kania menatap wajah Vincent sambil menggelengkan kepalanya.
"Ibu nya Ulfa sangat baik kepada ku, sudah menganggap aku seperti anak nya."
"Aku bukan tidak sedih, hanya saja untuk apa aku menangisi nya, aku hanya perlu mengirim kan doa kepada mereka."
Vincent mengelus rambut Kania sambil tersenyum.
Seperti biasa Vincent tidak akan berhenti mencium bibir Kania sebagai obat penenang bagi Kania.
Untung saja Bu Mona belum pulang hanya ada mereka berdua di rumah itu.
Keesokan harinya....
Tepat di malam Minggu Yuda memberanikan diri berbicara kepada orang tua nya untuk pamit mengunjungi Ulfa ke kampung nya.
Awalnya orang tua nya menolak namun dia terus menyakinkan orang tua nya agar di ijinkan, karena dia tidak lama di sana.
Akhirnya orang tua nya mengijinkan nya.
Sementara Kania dan Vincent merencanakan makan Malam di luar hari ini.
Kania pulang terlebih dahulu agar siap-siap karena perempuan sangat repot.
Vincent baru saja mau pulang mami nya menahan dia.
"Vincent kamu mau langsung pulang?" tanya Mami nya.
"Iyah Mih, kenapa?" tanya Vincent.
"Mami sudah memesan satu restoran untuk kamu dan Heni."
"Maksud nya apa Mih? Aku sudah ada janji malam ini."
"Yah mau bagaimana lagi, kamu harus membatalkan janji kamu itu dan pergi bersama Heni."
"Mih, kalau mami mau melakukan seperti ini seharusnya tanya dulu sama ku, kalau seperti aku aku tidak bisa membatalkan janji ku sebelum nya.
"Jadi kamu tidak mau pergi sama Heni?" tanya Mami nya.
"Besok aja Mih, malam ini aku tidak bisa."
"Tapi Mami sudah menyiapkan semua nya dari tiga hari yang lalu, Mami sudah memesan meja untuk kalian, dan kasian sekali Heni kalau sampai tidak jadi."
Vincent menghela nafas panjang.
"Mami juga pasti akan sangat malu kepada Mamah nya Heni."
"Aku tetap tidak bisa Mih, maafin aku."
"Apa kamu tega membiarkan Heni menunggu di sana sendirian? Kasian sekali dia."
Vincent melihat Mamih nya terlalu banyak sandiwara membuat nya semakin bingung harus bagaimana.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"
"Mamih mohon sekali ini saja nak, Mami tidak akan meminta kamu melakukan hal lain selain ini, Mamih sudah terlanjur merencanakan ini."
Vincent menatap wajah Mamih nya.
"Baiklah."
Mamih nya sangat senang dan langsung memeluk Vincent.
"Terimakasih Sayang, kalau begitu kamu sudah bisa pulang dan segera lah siap-siap."
"Pak Vincent ada beberapa surat yang harus bapak tanda tangani," ucap Fani.
Vincent tidak bisa langsung pulang dia memeriksa surat itu terlebih dahulu.
Di rumah Kania sudah selesai.
"Paman Vincent kenapa belum pulang sih? apa sebaiknya aku pergi saja?" tanya Kania.
"Mungkin paman tidak pulang ke rumah melainkan langsung ke restoran itu, sebaiknya aku berangkat duluan karena ini sudah jam delapan."
Kania tidak lupa mengirim kan pesan kepada Vincent.
Vincent baru selesai dari pekerjaan nya dia membuka handphone nya ada pesan masuk dari Kania dan Heni.
"Kenapa bisa di restoran yang sama?" batin Vincent.
Dia membuka pesan dari Kania ternyata dia sudah berangkat. Begitu juga dengan Heni dia sudah sampai di sana.
Vincent segera berangkat ke restoran itu.
"Kenapa dia bisa di sini? Apa dia mau bertemu Pria lain? Sebaik nya aku Vidio kan saja agar nanti aku punya bukti kalau wanita ini sudah memiliki pasangan.
Kania mengambil video, dia melihat Vincent masuk ke restoran itu.
Kania tersenyum dan mengangkat tangan nya agar Vincent tau dia di sana namun ternyata Heni juga tersenyum kepada Vincent dan mengangkat tangan nya.
Vincent tidak berjalan ke arah meja Kania melainkan ke meja Heni.
Kania tidak bisa berkata-kata, Air mata nya serasa mau jatuh dan hati nya sangat hancur.
Vincent menoleh ke arah Kania.
"Keponakan kamu di sini juga?" tanya Heni.
Vincent mengangguk.
"Apa dia juga menunggu pacar nya? Aku yakin pacar nya pasti sangat ganteng."
Vincent diam tidak menjawab nya.
"Haiii..." sapa Tomi yang tiba-tiba datang entah dari mana membuat Vincent juga heran.
"Maaf yah sudah buat kamu lama nungguin nya." ucap Tomi.
__ADS_1
"Oohh Kania dekat dengan sekertaris kamu? Mereka cocok sih," ucap Heni.
Tidak beberapa lama akhirnya Kania dan Tomi keluar dari sana. Kania tidak kuat melihat Heni dan Vincent bersama.
"Sekarang kamu jujur ada hubungan apa kamu dengan Paman mu?" tanya Tomi setelah sudah di dalam mobil.
Kania diam saja. "Kania aku tau kamu menatap pak Vincent berbeda begitu juga dengan sifat pak Vincent kepada kamu sangat berbeda dari biasanya."
"Apa kalian pacaran?" tanya Tomi.
"Tomi aku mohon jangan sampai ada yang tau, aku mohon." ucap Kania.
"Jadi benar?" tanya Tomi.
Kania mengangguk.
Tomi menghela nafas panjang.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa?"
"Aku sudah curiga dari awal, hanya saja aku tidak berfikir kalau Kalian akan pacaran seperti ini."
"Sulit untuk menceritakan semua nya Tomi, tapi aku benar-benar mencintai paman Vincent."
"Sekarang aku tidak mempermasalahkan itu, yang ingin aku tanya apa kamu sudah siap dengan semua konsekuensinya nanti?" tanya Tomi.
"Tidak semua orang tau kalau kamu bukan Keponakan kandung pak Vincent dan kita tidak tau apa tanggapan orang lain."
"Hubungan ini sangat sulit Kania, kenapa kamu sangat nekat?"
Kania menangis. "Aku tidak tau harus apa Tomi, aku sangat sakit hati melihat paman Vincent bersama wanita lain."
"Kamu jangan marah kepada pak Vincent, aku yakin itu pasti karena di paksa oleh Bu Mona, kamu tau sendiri kan kalau pak Vincent tidak bisa menolak Bu Mona karena Bu Mona akan membujuk Vincent."
"Sudah-sudah jangan sedih, kita sebaik nya pulang." ucap Kania.
"Ini sudah larut malam sebaiknya kita pulang, aku juga sudah lelah." ucap Vincent.
"Kamu bisa nganterin aku pulang kan?" tanya Heni.
Vincent mengangguk.
"Ngomong-ngomong kamu benar-benar singel?" tanya Heni kepada Vincent yang sedang menyetir.
Vincent tidak menjawab nya.
"Sudah lama kita kenal namun kita belum berbicara tentang hal-hal seperti ini," ucap Heni.
"Heni dari awal saya sudah bilang kalau kita cukup menjadi teman saja, saya tidak bisa membuka hati untuk orang lain."
Heni langsung diam, tidak berani mengatakan apapun karena Vincent sangat dingin membuat nya takut.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Heni.
"Terimakasih yah, makasih juga sudah mengajak aku untuk makan malam."
__ADS_1
"Ngajak makan malam?"
"Iyah, Tante Mona yang bilang kalau kamu ngajakin aku Makan malam."