
Vincent semakin kesal dia langsung memberikan hukuman agar istrinya itu tidak melakukan hal yang sama lagi.
"Aaaa!!! Sakit mas," ucap Kania.
"Kamu harus berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi," ucap Vincent.
"Baiklah aku janji mas, tapi aku mohon jangan terlalu kasar, aku tidak tahan."
Kania menjerit kesakitan karena Vincent melakukan nya seperti hukuman.
Kania minta ampun dan pada akhirnya dia pun melakukan nya dengan lembut.
"Kamu hanya bisa mengangumi suami mu ini, saya memiliki badan yang jauh lebih bagus dari mereka, aku juga sangat Tampan."
"Baiklah, aku mengakui nya sekarang, badan ku sangat lemas sekali," ucap Kania.
Keesokan harinya..
"Hari ini aku memiliki pekerjaan di luar kota, mungkin akan pulang larut malam, kamu bisa meminta Ulfa menemani kamu," ucap Vincent kepada Kania.
Kania mengangguk. "Oke baiklah mas, jangan lupa untuk mengabari ku."
Vincent tersenyum. Vincent mengantarkan Kania ke kampus terlebih dahulu.
Namun Kania baru saja keluar dari mobil, suara Handphone Vincent terdengar.
Itu telpon dari Omah. Mereka menanyakan kabar mereka berdua saja karena mereka belum bisa berkunjung ke Indonesia.
Namun sesekali mereka mengirim kan oleh-oleh untuk Kania dan Vincent.
Vincent berangkat tidak sendiri melainkan dengan Tomi. Kali ini Vincent ke luar kota karena mengurus pekerjaan, tapi karena kota yang di datangi sangat dekat dengan rumah sakit Sarah dia merencanakan untuk mampir sebentar.
Di siang hari nya...
"Kania apa yang sedang kamu pikirkan? Dari tadi kamu melamun?" tanya Ulfa.
"Ulfa, kamu membuat ku kaget," ucap Kania.
Ulfa tersenyum.
Ulfa mengajak Kania mencari eskrim, Ulfa akan mentraktir Kania karena dia baru saja gajian.
Kania sangat jarang mendapatkan traktiran sahabat nya, akhirnya dia pun mau dan mencari eskrim.
Setelah dapat mereka duduk sebentar di taman. "Ulfa, nanti malam kamu bisa nginap di tempat ku kan?" tanya Kania.
"Tumben banget, apa suami mu tidak di rumah?" tanya Ulfa.
"Mas Vincent sedang keluar kota bersama Tomi."
"Kasihan banget sih, pengantin baru tapi sudah di tinggal ke luar kota."
"Jangan membuat aku semakin sedih deh, dia pergi hanya sebentar saja, lagian mungkin nanti pagi sudah pulang."
Ulfa tersenyum. "Sudah biasa Paman Vincent keluar kota, lagian tidak terlalu jauh, tidak perlu sedih seperti itu," ucap Ulfa.
__ADS_1
"Kamu benar," ucap Kania.
"Lalu apa yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Ulfa lagi.
"Aku hanya merasa sedih saja, aku seperti merasakan sesuatu yang akan membuat ku sedih di kemudian hari."
"Itu hanya perasaan kamu saja, apa yang akan membuat kamu sedih." Ulfa meminta Kania berfikir positif.
"Tapi tetap saja aku kefikiran Ulfa, ini seperti berhubungan dengan aku dan juga mas Vincent," ucap Kania.
"Sudah-sudah hal-hal seperti itu tidak perlu terlalu di pikirkan, toh kamu dengan suami mu baik-baik saja kan?" tanya Ulfa.
kania mengangguk. "Oh iya bagaimana kalau setelah selesai ngampus kita ke Cafe ku?" tanya Ulfa.
"Emang boleh? Aku takut akan merepotkan kamu?"
"Merepotkan bagaimana? Justru aku seneng aku bisa memiliki teman."
Kania tersenyum.
Hari semakin sore Vincent melihat jam tangan nya.
"Tomi, kamu bisa tunggu saya di sini, saya ada urusan lain."
"Saya akan mengantar kan bapak."
"Tidak perlu, kamu tunggu saja dan urus beberapa pekerjaan yang harus kamu selesaikan."
"Baiklah pak," jawab Tomi.
Dia tinggal sendirian di sana.
"Selamat Sore pak Vincent, kenapa bapak di sini? Bukan kah bapak bilang Minggu depan akan ke sini?" tanya dokter penjaga Sarah.
"Saya ingin melihat keadaan Sarah secara langsung."
"Oohh baiklah kalau begitu, bapak bisa masuk."
Saat Vincent mau masuk ternyata Fadil sudah ada di sana.
Ternyata yang membantu mengurus Sarah yang kurang sehat adalah Fadil.
Seperti menukar baju, memberikan nya makan.
"Dokter, apa Fadil setiap hari datang ke sini?" tanya Vincent.
"Tidak pak, pak Fadil akan datang ketika penyakit Sarah kambuh saja."
"Maksudnya?"
"Mbak Sarah mengalami gangguan jiwa yang terkadang timbul, terkadang sehat."
"Ketika penyakit nya timbul Sarah tidak ingin bertemu dengan orang lain selain Fadil. Hanya pak Fadil yang bisa mengurus nya berhari-hari."
"Apa tidak ada cara untuk menyembuhkan nya?"
__ADS_1
"Sebenarnya ada cara, hanya saja pak Fadil tidak mengijinkan kita melakukan nya karena ini sangat menyiksa Sarah."
"Tentang Jeki bagaimana? Apa dia tidak tau tentang adik nya?"
"Pak Jeki sangat sering datang ke sini, tapi Sarah tidak ingin bertemu dengan nya, Sarah mengalami pingsan dua hari ketika bertemu dengan pak Jeki."
"Kenapa bisa seperti itu Dok? Jeki adalah kakak kandung nya."
"Saya tidak tau jelas kenapa, tapi seperti nya Sarah sebelum nya mengalami banyak masalah dari keluarga mau pun dari pasangan nya."
"Mengandung, dan melahirkan sendiri bukan lah hal yang mudah, dia melewati itu semua sendiri."
Vincent yang mendengar itu sangat merasa bersalah sekali.
Setelah banyak bertanya kepada dokter, dia mengijinkan dokter kembali bekerja, tidak lupa dia juga meminta semua tagihan yang sudah banyak.
Karena sebelumnya Alex yang membayar semua nya.
Fadil melihat Vincent di luar.
"Kenapa ke sini lagi?" tanya Fadil.
"Aku akan bertanggung jawab sampai Sarah sembuh."
Fadil terdiam sejenak. Seperti tidak percaya dia mau pergi tapi Vincent menahan Fadil.
"Aku lah penyebab semua ini, aku wajar di benci, tapi aku bukan lah Pria yang tutup mata atas kesalahan-kesalahan ku."
"Kau melakukan ini hanya karena ingin tau di mana anak itu kan? Kau hanya ingin memastikan anak itu darah daging mu atau bukan."
"Aku ingin mencari tau hal itu, tapi aku rasa kesehatan Sarah lebih utama untuk sekarang."
"Huff terserah saja."
"Fadil, aku butuh bantuan mu."
Fadil menghela nafas panjang, dia menundukkan kepala nya.
"Mengurus Sarah tidak mudah, Sarah mengalami gangguan jiwa."
"Aku akan mengurus nya, semua resiko nya akan ku tanggung."
"Baiklah kalau begitu, aku akan membantu."
Vincent lega.
Vincent masuk ke ruangan Sarah, dia meletakkan bunga di samping tempat tidur karena Sarah lagi tidur.
"Semoga kamu cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit ini," ucap Vincent.
Vincent tidak bisa lama-lama karena Tomi sudah menelpon nya Tampa henti.
Saat dia berjalan keluar Sarah terbangun, dia membuka mata nya dan melihat punggung Vincent.
"Sarah, kamu sudah bangun?" Fadil masuk ke ruangan Sarah.
__ADS_1
Sarah tidak merespon dia hanya diam saja. "Aku harus pergi sekarang, kamu jaga diri baik-baik yah," ucap Fadil mengelus kepala Sarah dan pergi.