
Saska langsung membuat nya untuk Arka dan untuk nya juga.
"Bisa-bisa nya kamu menahan lapar menunggu mamah," ucap Saska.
Arka tidak perduli lagi, dia menghabiskan mie instan masakan Saska, bahkan bagian Saska dia makan juga.
Hari sudah sore, Vincent baru saja pulang.
"Loh, Papah gak sama Mamah?" tanya Saska.
"Papah di rumah sama Arka, papah nganterin nenek berobat setelah itu ke kantor."
"Sekarang Nenek kemana?" tanya Saska.
"Nenek pergi ke rumah keluarga kita yang lain, Mungkin besok siang balik ke sini."
"Terus Mamah Kemana dong sekarang," ucap Saska.
Vincent langsung menelpon istrinya. Kania tidak menjawab nya.
"Tumben-tumbenan banget mamah pergi gak bilang seperti ini," ucap Saska.
"Jangan bilang kalau Papah sama mamah ribut?" tanya Saska.
"Bukan berantem, hanya saja mamah mu salah paham karena Papah bilang agar tidak terlalu keras kepada Arka."
Saska menghela nafas panjang. Saska paling tau Mamah nya tidak suka di atur soal membesarkan anak-anak nya.
Vincent akhirnya mencari Kania. Sementara Saska menatap Arka.
"Aku minta maaf Kak," ucap Saska.
Saska tidak mengatakan apapun dia pun langsung pergi ke kamar nya.
Tidak beberapa lama akhirnya Kania pulang bersama Vincent sebelum gelap.
Tidak ada yang berani berbicara, Kania juga hanya diam saja.
"Hum aku dengan Arka ikut lomba basket dulu yah mah," ijin Saska.
Kania mengangguk saja, Saska menyalim tangan mamah nya bergantian dengan Arka.
Arka masuk ke dalam mobil Saska.
"Bagaimana ini kak? Mamah marah, aku harus apa?" tanya Arka.
"Kamu harus minta maaf," ucap Saska.
"Tidak biasanya kakak ngajakin aku nonton kakak tanding," ucap Arka.
"Shela meminta kakak membawa kamu karena dia juga ikut nonton."
Arka menghela nafas panjang. "Kak Saska kenapa sih masih berusaha mendekat kan aku dengan dia?" tanya Arka.
"Karena dia adalah jodoh kamu, bahkan kalian sudah pacaran."
"Aku terpaksa kak, kalau bukan karena mamah sama papah, mungkin aku tidak akan mau kepada nya," ucap Arka.
Sesampainya di lapangan, Saska langsung bergabung dengan team nya.
Kedatangan nya membuat semua wanita di sana berteriak dan menyemangati nya.
"Shela, itu Arka sudah datang," ucap Dewi.
__ADS_1
Shela sangat senang dia langsung menyusul Arka.
"Haii Arka, aku senang deh kamu datang."
Arka menghela nafas panjang menatap Shela. Mereka duduk bersama sambil menonton.
"Apa kamu juga sudah nonton basket?" tanya Shela kepada Arka.
"Aku tidak terlalu suka. Aku mau main basket karena Mita suka pria pemain basket."
"Oohh karena Mita, tapi aku juga sangat suka dengan laki-laki yang sangat jago main basket."
Arka langsung diam. Tidak beberapa lama pertandingan di mulai.
Pertandingan semakin lama semakin menegangkan.
Dan pada akhirnya Team Saska menang.
"Hore!!!! kakak ipar menang..." teriak Shela.
"Heh, kamu jangan malu-maluin deh," ucap Arka. Saska mendengar teriakan Shela, dia hanya bisa tertawa sambil tersenyum.
"Kak Saska, ini hadiah untuk kakak, selamat yah."
"Aku yakin kakak pasti memang."
"Selamat yah kak."
Banyak perempuan yang antri memberikan hadiah dan bunga kepada Saska.
"Seperti nya menjadi idola perempuan banyak menyenangkan," ucap Arka.
Saska tersenyum. "Selamat yah kak, aku sangat suka di saat kakak mengalah kan mereka semua. Mereka itu sangat sombong," ucap Shela.
"Oh iya, lain kali Ajarin aku yah kak," ucap Shela.
"Emangnya kamu mau?"
"Mau kak, aku sangat suka main basket."
"Jangan sok-sokan deh, badan mu saja sangat kecil, mana mungkin kamu bisa memukul bola."
"Arka! Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Shela dengan kesal.
"Aku akan buktikan kalau aku bisa," ucap Shela.
"Kalau begitu ayo kita lomba, kalau aku menang kamu harus pergi dari ku dan jangan ganggu aku, bilang sama Mamah kalau kamu tidak menyukai aku!"
Shela terdiam sejenak. "Kenapa? Kamu takut gak berani?" tanya Arka.
"Oke, kalau aku menang kamu harus menuruti semua permintaan ku selama satu bulan."
"Satu bulan?" ucap Arka. "Kamu tidak berani?" tanya Shela.
"Oke, baiklah." ucap Arka setelah membuat perjanjian Arka langsung pergi.
Shela melihat Saska yang memerhatikan mereka dari tadi.
"Hehehe.. Maaf kak," ucap Shela.
Melihat tingkah Shela membuat nya tersenyum. "Kamu pulang pakai apa?" tanya Saska.
"Aku pulang dengan Dewi," ucap nya namun tidak melihat Dewi di sana.
__ADS_1
"Loh kemana dia? Seperti nya dia sudah pulang. Aku pulang naik Taksi saja."
"Gak usah, kakak bisa antar kamu pulang kok."
"Seriusan!" tanya Shela dia sangat senang bisa satu mobil dengan Arka.
"Kenapa perempuan ini di sini?" tanya Arka ketika masuk ke dalam mobil Saska.
"Teman nya meninggalkan dia, kamu masuk dan duduk di belakang."
Shela tersenyum bahagia.
"Aku gak mau, aku akan naik Taksi saja."
"Ya sudah kalau begitu," ucap Saska dan langsung meninggalkan adik nya itu.
"Kenapa malah kakak tinggal? Kasian sekali dia."
"Biarkan saja, sesekali harus di kasih pelajaran."
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Shela.
"Kita sudah sampai, apa benar ini rumah kamu?" tanya Saska.
Namun ternyata Shela sudah tidur di samping nya. Saska menghela nafas panjang.
"Shela... La..." panggil nya. Namun Shela tidak kunjung bangun.
"Saat tidur seperti ini dia semakin menggemaskan," batin Saska.
"Huff kenapa dulu Mamah sama papah menjodohkan nya dengan Arka, kenapa tidak kepada ku?"
Saska terpaksa menggendong Shela ke depan pintu rumah.
Ternyata Yang buka pintu adalah Minhui. Saska kaget melihat perut Minhui membesar.
"Saska! Kenapa Shela bisa sama kamu?" tanya Minhui kaget.
"Shela ketiduran Tante," ucap Saska.
Minhui meminta Saska membawa Minhui ke kamar.
"Terimakasih banyak yah Saska sudah mengantarkan Shela pulang."
Saska Menatap Minhui. "A-aku sangat merindukan Tante, kenapa Tante tidak datang ke rumah?" tanya Saska.
Minhui tersenyum dia langsung memeluk badan Besar milik Saska.
"Tante juga sangat merindukan kamu. Dulu kamu masih sangat kecil, sekarang tinggi mu sudah melewati Tante."
"Bagaimana bisa Tante ke sana sementara keadaan Tante hamil tua seperti ini, Om Jeki juga sangat sibuk dengan pekerjaan nya."
Saska duduk sebentar dengan Minhui bercerita banyak. "Bagaimana Shela di sekolah? apa Arka menjaga nya dengan baik? Shela bilang Mera sudah pacaran."
Saska bingung menjelaskan nya bagaimana, namun dia hanya menginyakan saja.
Tidak beberapa lama akhirnya Saska pulang. Sesampainya di rumah dia langsung tidur di kamar nya.
Namum sebelum tidur dia melihat akun Instagram Shela.
Dia senyum-senyum sendiri melihat Shela waktu kecil sampai sekarang wajah nya benar-benar sangat menggemaskan sekali.
"Dia benar-benar sangat menggemaskan, dia juga sangat pandai membuat orang suka kepada nya."
__ADS_1