Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 42


__ADS_3

Kania tersenyum dan mengangguk. Dia sangat bersemangat.


"Humm sebaiknya paman duduk dengan tenang di sini, biar aku saja yang nyetir."


"Kamu yakin?" tanya Vincent terlihat sangat ragu.


"Kapan lagi paman memiliki supir cantik seperti ku."


Mendengar itu Vincent tersenyum.


"Tu kan senyum lagi, Paman dari tadi cemberut." ucap Kania.


Kania dan Vincent sampai di tempat yang mereka tuju.


"Apa Paman yakin di dalam sana masih ramai? Ini sangat sepi sekali?"


Vincent menarik tangan Kania.


"Sudah ikut saja."


Vincent melihat mata hari masih terlihat karena belum terlalu gelap.


Setelah masuk dan berdiri di pinggir pantai Kania tersenyum lebar ternyata tidak terlalu gelap, dia bahkan masih bisa melihat matahari yang hampir tenggelam.


"Wahh bagus banget..."


Tiba-tiba Vincent jongkok.


"Apa yang mau Paman lakukan?"


"Buka sepatu kamu."


"Tapi.."


"Sulit berjalan di pasir menggunakan high heels seperti ini,"


Kania membuka nya dan memegang nya.


"Apa kamu mau berjalan-jalan ke ujung sana?"


Kania mengangguk.


"Aku baru merasakan suasana pantai yang sangat tenang dan cantik seperti ini. Aku selalu ke pantai di siang hari. Semua orang ada di sana," ucap Kania sambil terus berjalan menyusuri pinggiran pantai.



Vincent sesekali menoleh ke arah Kania dan tersenyum.


Kania yang di tatap seperti itu jadi malu.


Mereka duduk di salah satu pondok menikmati makanan yang mereka pesan dan juga minuman.


Kania menatap wajah Vincent.


"Kalau ada yang mau kamu sampaikan, sampai kan saja mumpung masih di sini."


Kania langsung melihat ke depan.


Vincent tersenyum.


"Kamu mau menyampaikan sesuatu?"


Kania langgeng menggeleng kan kepala nya.


Cukup lama mereka di sana akhirnya memilih untuk pulang ke apartemen.


"Selamat malam Pak Vincent," sapa Tia yang tidak sengaja bertemu di luar apartemen.


"Selamat malam," jawab Vincent.


"Bapak dari mana?"


"Saya baru dari luar dengan Kania."


"Kamu sendiri dari mana?"


"Jalan-jalan saja mencari angin pak."

__ADS_1


Kania melihat pembicaraan mereka seperti nya sangat nyaman akhirnya dia langsung pergi.


Vincent melihat Kania pergi dia langsung menyusul nya.


"Kenapa paman langsung pergi?"


"Untuk apa saya di sana? Saya mau mandi."


Vincent langsung masuk ke kamar.


Keesokan harinya...


"Kalau kamu mau menyampaikan sesuatu katakan saja." ucap Vincent kepada Kania karena mereka sudah di bandara.


Kania akan kembali.


"Aku tidak suka Paman dekat dengan Tia karena aku cemburu, aku juga tau kalau Tia menyukai paman."


Vincent menatap wajah Kania.


"Aku kefikiran setiap malam, bagaimana kalau aku tidak ada dia pasti mendekati Paman."


Vincent menggeleng kan kepala nya.


"Saya tidak akan berpaling dari kamu, sekalipun banyak ujian dan banyak wanita yang mencoba mendekati saya."


Kania berdiri. "Selesai kan lah pekerjaan paman, aku berdoa semoga semua nya berhasil."


Vincent berdiri menatap Kania.


"Apa kamu memiliki Hadiah kalau saya menyelesaikan semua nya dan kembali?"


Kania mengangguk.


"Apa?"


"Hubungan kita."


Vincent menatap bingung.


"Maksud nya?"


"Kania apa kamu tidak memberikan saya ciuman?"


"Aku akan memberikan ketika Paman pulang nanti."


Kania langsung tersenyum dan pergi masuk ke dalam.


Vincent tersenyum dia menunggu Kania berangkat terlebih dahulu sebelum dia kembali ke perusahaan.



Vincent meninggal kan bandara setelah pesawat Kania terbang.


"Semoga dia sampai dengan selamat."


Kania melihat ke arah jendela pesawat Sambil tersenyum."


"Aku percaya sama Paman sekarang, semoga saja Paman tidak berbohong kepada ku lagi."


"Bapak dari mana?" tanya Tia karena Vincent baru saja sampai.


"Dari bandara mengantarkan Kania."


"Oohh Kania sudah kembali Pak?" Vincent mengangguk.


Tia terlihat sangat senang sekali.


"Akhirnya dia pergi juga, jadi aku bebas bisa deketin pak Vincent," batin Tia.


Setelah sampai di Jakarta Kania mengabari Vincent.


Namun karena Vincent belum membalas nya dia memilih untuk langsung memeriksa tugas nya.


"Akhirnya aku sampai juga," ucap Kania.


Dia di jemput oleh Yuda dari bandara. Sebelum Yuda pulang dia ingin membuat kan teh terlebih dahulu untuk Yuda.

__ADS_1


"Bagaimana hubungan kamu dengan Ulfa?" tanya Kania.


"Ulfa sangat cuek sekali, aku tidak tau harus bagaimana lagi padahal aku sudah berusaha untuk dekat dengan nya.


Keesokan harinya Kania heran kenapa Ulfa tidak datang.


"Kenapa Ulfa gak datang?" tanya nya kepada teman-teman nya.


"Aku gak tau, aku dengar dari yang lain kata nya ibu nya masuk rumah sakit."


"Masuk rumah sakit? Bagaimana bisa?" tanya Kania. Mereka semua tidak tau.


Setelah pulang dari kampus Kania ke rumah sakit.


Dan benar saja kalau kalau Ulfa ada di rumah sakit.


"Kania, kenapa kamu bisa di sin?" tanya Ulfa.


"Aku dengar ibu kamu masuk rumah sakit."


Ulfa menarik tangan Kania keluar.


"Ibu baru saja istirahat."


Kania duduk bersama Ulfa.


"Sakit ibu sudah parah, aku baru membawa nya ke rumah sakit setelah mendapat kan uang dari Pak Vincent."


"Loh Paman ku tau kalau ibu kamu sakit?"


"Kamu jangan salah paham, aku lah yang meminta agar pak Vincent menutupi nya karena aku tidak mau merepotkan kamu."


Kania menghela nafas panjang.


Dia memegang tangan Ulfa.


"Kamu tidak perlu khawatir ibu kamu pasti sembuh."


Ulfa mengangguk.


"Humm soal aku marah sama kamu, aku minta maaf yah."


"Aku cemburu melihat kamu dekat dengan Yuda, aku berfikir kalian pacaran namun ternyata aku yang sudah salah paham."


"Aku adalah sahabat kamu Ulfa, kamu harus cerita apapun yang kamu rasakan kepada ku. Karena selama ini aku sudah banyak merepotkan kamu."


Ulfa menggeleng kan kepala nya.


"Justru aku yang makasih sama kamu Kania."


"Jadi sekarang kita sudah berbaikan?" tanya Kania. Ulfa langsung memeluk Kania.


"Terimakasih Kania kamu masih mau berteman dengan ku, aku sangat kesepian ketika aku mendiam kan kamu."


"Kamu pikir kamu saja yang kesepian? Aku jauh lebih kesepian itu sebabnya aku memilih untuk datang menemui Paman Vincent di luar kota."


Ulfa tersenyum menatap wajah Kania.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Apa jangan-jangan paman ku mengatakan sesuatu."


"Humm pak Vincent cukup banyak bercerita."


"Jangan percaya pada nya."


"Pak Vincent bilang kalau dia sangat mencintai kamu."


Kania tersenyum.


"Kalian sama-sama saling mencintai kenapa tidak langsung jadian saja?"


"Humm tidak semudah itu Ulfa."


"Kamu terlalu ribet, aku pusing menghadapi pola pikir kamu yang sangat aneh itu.


Kania tersenyum.


"Ya udah lah kalau begitu sebaiknya kita masuk ke dalam melihat ibu kamu."

__ADS_1


"Aku mohon jangan sampai orang lain tau tentang ini yah."


"Aman, kamu tidak perlu khawatir." ucap Ulfa. Kania kembali senang karena sudah berbaikan dengan teman nya itu.


__ADS_2