
Vincent menghela nafas panjang di memegang kedua tangan Kania menatap nya dalam-dalam.
"Luar negeri tidak lah dekat Kania, mereka pasti marah kalau kamu ke sana sendiri."
"Paman bisa meminta Staf Paman menemani aku, atau Tomi juga bisa." ucap Kania masih bersekukuh tetap mau pergi.
Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Kamu tidak boleh kemana-mana, kamu di rumah saja. katakan apa yang kamu mau asal jangan pergi." ucap Vincent.
"Aku sangat merindukan Omah, dengan Opah paman! apa salah nya aku berkunjung sesekali ke sana?" tanya Kania.
"Kania! Kamu jangan keras kepala, Paman bilang tidak ya tidak!" ucap Vincent meninggikan suara nya karena sudah marah.
Kania langsung terdiam karena di bentak oleh Vincent.
"Paman tidak mau mendengar kan alasan apapun lagi, kamu harus di sini." ucap Vincent.
Kania berdiri. "Baiklah aku akan tetap tinggal di sini asal kan aku boleh bebas pergi dengan teman-teman ku." ucap Kania.
"Teman? maksud kamu pria itu? Tidak bisa!" ucap Vincent.
"Aku bosan di rumah saja, selama ini aku sudah mengikuti semua perintah Paman, dan sekarang aku sudah muak." ucap Kania.
"Paman selalu membawa kamu setiap hari libur kemana Pun kamu mau, Paman tidak pernah membantah nya, dan paman hanya meminta kamu menunggu waktu yang pas saja."
"Aku ingin pergi sendiri Tampa paman."
"Tidak semudah itu Kania. Paman membesarkan kamu sendiri dan sangat susah. Paman tau di dunia banyak orang jahat." ucap Vincent.
Kania tidak bisa menjawab Vincent akhirnya dia pergi meninggalkan Vincent.
"Aku benci Paman!"
Kania langsung mengadukan semua nya kepada Omah dan Opah.
Vincent sedang duduk di luar memeriksa pekerjaan nya.
"Tumben sekali Ayah sama ibu menelpon di malam hari." ucap Vincent dan menjawab telpon orang tua nya.
Vincent menjawab nya dan ternyata mereka bertanya apa alasan Vincent menahan Kania.
Vincent menjelaskan nya kepada orang tua nya itu.
Setelah selesai berbicara Vincent pun mau istirahat ke kamar nya.
Namun sebelum tidur dia berniat mau memeriksa Kania.
Vincent membuka pintu dan melihat Kania sudah tidur.
Dia mendekati Kania membenarkan Selimut nya.
__ADS_1
"Maafin Paman yah akhir-akhir ini selalu marah kepada kamu, paman minta maaf karena terlalu posesif kepada kamu." ucap Vincent sambil mengelus kepala Kania.
"Paman melakukan ini demi kebaikan kamu, Paman ingin kamu tetap aman, terjaga dan tidak salah memilih teman." batin Vincent.
Keesokan harinya...
Sudah satu Minggu Kania libur hanya di rumah saja.
Saat sedang enak mengetik di laptop nya dia melihat mobil Paman nya masuk ke dalam rumah.
"Tumben banget jam empat sore sudah pulang." ucap Kania.
"Tok!! tok!! tok!!" Vincent mengetuk pintu kamar Kania.
"Hufff, ada apa?" tanya Kania.
"Kamu tidak masak?" tanya paman nya.
Kania menggeleng kan kepala nya.
"Biasanya Paman selalu makan di luar. Aku juga tidak masak karena persediaan di dapur tidak ada." ucap Kania.
"Kenapa kamu tidak ngomong? sekalian Paman beli." ucap Vincent.. Kania hanya diam.
Vincent menatap Kania.
"Mau sampai kapan sih kamu marah sama Paman seperti ini? Sudah satu Minggu kamu mengabaikan Paman." ucap Vincent.
"Berhubung besok hari Minggu Paman mau ngajakin keluar malam ini." ucap Vincent.
"Aku sibuk, aku tidak bisa. Kenapa Paman tidak pergi dengan Pacar Paman?" ucap Kania.
"Kamu selalu saja membuat alasan Kania. Pokoknya kamu harus ikut." ucap Vincent.
Tiba di malam hari nya. Vincent dan Kania sampai di salah satu Hotel seperti nya ada acara.
Baru saja sampai dan ternyata Minhui sudah menunggu mereka.
"Kania... kamu apa kabar? sudah lama kita tidak ketemu kamu makin cantik aja." ucap Minhui.
"Sudah ku duga kalau perempuan ini ada di sini." ucap Kania dalam hati.
"Baru dua Minggu." ucap Kania membuat Minhui terdiam tidak tau mau jawab apa.
"Ayo masuk ke dalam." ucap Minhui.
"Paman ini acara apa? kenapa Paman mengajak ku ke sini?" tanya Kania.
"Oh iya Kania ini adalah acara ulang tahun Mamah aku. Sekalian aku juga mau mengenalkan kamu dan Vincent." ucap Minhui.
"Sudah ayo masuk saja, di dalam juga banyak makanan dan minuman." ucap Vincent.
__ADS_1
Kania dan Paman nya di sambut hangat oleh keluarga Minhui. Kania bisa melihat kalau mereka keluarga yang baik namun tetap saja Kania tidak nyaman berada di sana.
Dia duduk di kursi tamu. Dia melihat Paman nya sedang berdansa dengan Minhui di tengah-tengah acara dan juga banyak pasangan lain.
"Haii apa kamu mau berdansa bersama saya?" tanya Pria yang menghampiri Kania.. Karena hanya Kania yang duduk dan tidak ikut berdansa.
"Humm tapi aku tidak tau cara nya."
"Ayo ikuti saya." ucap pria itu.
Kania sebenarnya sangat lah males, namun dari pada cemburu melihat Minhui bersama paman nya pasangan yang sangat romantis jadi sorotan di sana. sebaiknya dia juga mengalihkan perhatian nya.
"Baiklah." ucap Kania.
"Wahh ternyata Keponakan Pak Vincent sangat menggoda hati direktur Je." ucap MC yang melihat Pria Tampan itu berhasil membujuk Kania.
Semua mata tertuju kepada Kania dan direktur Je.
"Ternyata dia direktur? Kalau tidak salah aku juga pernah mendengar nama nya. pantesan saja terlihat sangat Tampan." batin Kania.
Lampu di matikan, semua Sibuk berdansa menikmati alunan musik.
Kania menutup mata nya mencoba menenangkan diri. Dia sangat gugup sekali.
"Kamu terlihat sangat gugup. Jangan gugup ikut saja gerakan nya." ucap direktur Je.
Kania tersenyum. "Saya sudah lama tau kamu, namun baru bertemu sekarang, ternyata kamu sangat cantik." ucap direktur Je.
Kania tersenyum saja tampa mengatakan apapun.
Namun tiba-tiba Kania sangat kaget, tiba-tiba Paman nya datang dan berganti posisi dengan direktur Je.
"Maaf." ucap Vincent membuat direktur Je cukup kaget karena di dorong.
Mau marah namun takut jadi pusat perhatian, akhirnya direktur Je mengalah dan memilih pergi.
Bingung antara senang atau kesal, Kania menikmati acara sampai selesai. Paman nya juga sesekali minum sampai dia mabuk.
Untuk pertama kalinya dia melihat Paman nya mabuk.
Vincent sama sekali tidak membiarkan Kania jauh dari nya.
Tidak beberapa lama akhirnya acara selesai dia kaget karena Kania tidak ada di dekat nya.
Dia bertanya kepada Minhui yang sudah mabuk bersama teman nya, namun dia tidak melihat Kania.
Dan ternyata Kania sudah mabuk bersama direktur Je.
Vincent melihat direktur Je cukup lancang kepada Kania yang sudah mabuk.
Vincent tidak bisa menahan emosi dan langsung menghajar direktur Je.
__ADS_1