
"Ya ampun kenapa mas Vincent ganteng banget sih kalau seperti itu," ucap Kania dalam hati.
"Huff ternyata yang di katakan Ulfa benar, badan kekar nya pasti membuat badan kecil ku ini kesakitan," ucap Kania, mengingat tadi malam dia jadi merinding.
Kania berdiri di samping Vincent. "Aku bisa memasak, kenapa tidak menunggu aku?" tanya Kania.
Vincent tersenyum dia mencium kening Kania.
"Kamu duduk saja di sana, anggap saja ini permintaan maaf saya tentang tadi malam."
Kania tersipu malu kalau Vincent membahas itu, dia langsung meninggalkan dapur dan duduk di meja makan.
Dia membaca grup di handphone nya, ternyata teman-teman nya sudah sibuk membahas dia.
"Aku yakin Kania pasti sudah tidak bisa berjalan."
"Aku sudah tebak kalau paman Vincent tidak mengijinkan dia keluar dari kamar.
"Oh iya kalian harus tau juga, pasti pak Vincent sangat kasar sekali."
Masih banyak lagi percakapan teman-teman nya di grup membuat Kania senyum-senyum sendiri membaca nya.
"Hufff sudah menikah saja kamu masih bisa senyum-senyum melihat layar handphone mu."
"Aku membaca grup ku, teman-teman ku menanyakan aku."
Vincent merebut handphone Kania.
"Sini saya periksa, saya tidak yakin," ucap Vincent.
"Jangan," ucap Kania.
Namun Vincent sudah terlanjur membaca semua ketukan mesum di dalam sana.
Tiba-tiba panggilan Vidio dan di jawab oleh Vincent membuat mereka semua syok, kaget dan langsung mematikan panggilan nya.
"Aku sudah bilang gak usah di baca."
"Teman-teman kamu kelihatan nya sangat polos, namun ternyata sudah sangat paham," ucap Vincent.
Kania terdiam. "Apa kamu percaya dengan apa yang mereka katakan?" tanya Vincent.
"Mereka hanya menakuti aku saja, aku tidak percaya."
"Kenapa tidak percaya? Yang mereka katakan benar kalau itu sakit," ucap Vincent.
"Sebaiknya kita lanjut makan saja mas, Aku sangat lapar." ucap Kania mengalihkan pembicaraan.
"Aku harus makan banyak agar aku memiliki tenaga, bagaimana kalau mas Vincent melakukan serangan mendadak yang aku tidak tau," ucap Kania dalam hati.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan.
__ADS_1
"Hari ini saya ada kerjaan sebentar di luar, apa kamu mau ikut?" tanya Vincent.
Kania menggeleng kan kepala nya. "Enggak Mas, aku di rumah saja, Ulfa dan teman-teman ku mau datang ke sini katanya."
"Oke baiklah," ucap Vincent.
Vincent siap-siap, Kania membantu memilih pakaian untuk suami nya.
Kania juga memasang kan dasi di leher suami nya.
"Kamu jaga diri baik-baik," ucap Vincent Mencium kening Kania dan pergi.
"Oh iya sebelum pulang nanti, aku boleh titip sesuatu gak?" tanya Kania.
"Apa?" tanya Vincent.
"Humm membeli peralatan untuk nanti malam,"
"Maksud kamu?"
"Seperti pelumas dan juga pengaman, kata teman-teman ku itu tidak membuat sakit dan melindungi aku juga agar tidak hamil," ucap Kania.
Vincent mau ketawa, namun melihat wajah istri nya yang sangat malu dia tidak berani tertawa.
"Apa ada yang lain?"
"Humm pembersih milik perempuan juga, aku sangat malu membeli sendiri."
"Kamu pikir saya juga tidak malu?" tanya Vincent.
Vincent menghela nafas panjang. "Kenapa tidak minta tolong teman-teman mu saja?"
"Apa mas mau melihat aku di ejek habis-habisan oleh mereka?" tanya Kania.
Vincent menghela nafas panjang.
"Kamu sangat menggemaskan ketika malu seperti ini," ucap Vincent mau mencium bibir Kania namun di hentikan oleh Kania langsung.
"Sebaiknya mas berangkat saja," ucap Kania. Vincent mengangguk. semakin lama dia bersama Kania bisa jadi dia tidak berangkat.
Setelah beberapa lama akhirnya Vincent berangkat.
Tomi melihat hari ini Fani juga tidak masuk ke kantor. Namun tiba-tiba ada Staf datang ke ruangan nya.
"Permisi pak, maaf saya mengganggu waktu bapak," ucap staf.
"Ada apa?" tanya Tomi.
"Ini ada surat dari Fani."
Tomi berfikir surat khusus untuk nya, namun setelah di lihat ternyata surat pengunduran diri, dia cukup kaget.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba dia mengundurkan diri?" ucap Tomi.
Dia mau menyusul Fani tapi dia masih memiliki pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan, dia menelpon nomor Fani namun tidak aktif.
Tomi jadi bingung sendiri. Sementara Ulfa baru saja menuju ke Cafe Yuda.
Ini adalah hari pertama nya bekerja di sana, dia harus bekerja dengan giat agar orang lain tidak berfikir dia bekerja di sana hanya karena Yuda pacar nya.
Baru saja masuk teman-teman nya sudah bersikap tidak adil karena cemburu melihat Ulfa.
Tapi Ulfa tidak perduli, selagi ada Yuda dia tidak perduli.
Dari kejauhan Yuda terus memantau Ulfa bekerja. Di awal bekerja nya harus banyak hati-hati, dia tidak boleh melakukan kesalahan.
"Huff kalau dilihatin seperti ini terus aku bisa gugup, kamu jangan lihatin aku," ucap Ulfa kepada Yuda.
"Kamu pacar saya, ini di Cafe saya apa yang salah?"
"Bukan begitu, aku hanya malu."
"Tidak apa-apa, saya hanya merasa kagum kepada pacar saya yang sangat pekerja keras," ucap Yuda.
Ulfa tersenyum. "Oh iya siang ini aku mau ke rumah Kania boleh kan?" tanya Ulfa karena dia bekerja sampai siang saja.
"Kamu ke rumah Kania? Apa kamu tidak tau paman Vincent?"
"Paman Vincent tidak di rumah, dia ada kerjaan di luar, jadi kami mau ngumpul di sana."
"Apa aku boleh ikut?"
"Jangan! Semua nya perempuan tidak ada laki-laki. Pembahasan nya nanti membuat kamu kena mental."
Yuda seperti sudah paham, akhirnya dia mau tinggal di Cafe.
Di siang hari nya Kania baru selesai masak cemilan untuk teman-teman nya yang sudah di dalam perjalanan.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai. "Kania... kamu baik-baik saja kan? Kamu tidak sakit kan?" tanya mereka sangat heboh.
"Jangan lebay deh, aku baik-baik saja," Ucap Kania.
"Tidak mungkin, aku yakin selama dua malam ini pak Vincent menghajar kamu!"
"Huff Kalian semua jangan ngaco deh," ucap Kania dengan sangat kesal sekali.
"Kamu baru selesai masak?" tanya Ulfa.
"Iyah, ini untuk kalian semua."
"Ya ampun kamu baik banget sih, kami juga membawa banyak buah-buahan, vitamin, susu dan juga banyak yang lain nya."
Kania hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan teman-teman nya itu.
__ADS_1
Sampai Sore mereka di sana menemani Kania, sebenarnya mereka sangat betah, namun mendengar Vincent sudah dekat rumah mereka semua bergegas mau pulang.
mobil Vincent terparkir di halaman rumah mereka langsung keluar dari dalam rumah dan meninggalkan rumah itu sebelum Vincent keluar dari dalam mobil nya.