Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 212


__ADS_3

"Aku akan mengantar kan kamu."


Dia pamit sama yang lain nya dan keluar dari sana. Namun tiba-tiba kepala Saska sakit, dia tidak pernah minum sama sekali.


"Kak Saska," ucap Shela panik. Saska sudah terlanjur mabuk.


Shela membawa Saska duduk dulu, dia pergi membeli air putih.


Tidak beberapa lama dia kembali, Saska sudah tidur di kursi panjang itu. "Huff, ini semua karena aku, bagaimana ini?" batin Shela.


"Tidak mungkin kak Saska pulang dalam keadaan seperti ini, pasti nanti Tante Kania dan om Vincent marah.


Tidak beberapa lama Dewi keluar dan melihat Shela.


"Loh kamu gak jadi pulang?" tanya Dewi. "Bagaimana mau pulang, kak Saska mabuk."


"Kenapa tidak telpon supir saja?" tanya Dewi.


"Mana mungkin kak Saska pulang seperti ini," ucap Shela.


"Ya lagian aneh-aneh saja, sok mau jadi pahlawan." ucap Saska.


"Malam ini kamu tidur di rumah ku saja, orang tua ku kebetulan gak di rumah," ucap Dewi.


Shela ijin kepada Mamah nya. Sementara Shela mengirim pesan kepada Tante Kania menggunakan handphone Saska kalau Saska tidak pulang mau menginap di rumah teman nya.


Shela dan Saska sampai di rumah Dewi. Shela membawa ke kamar yang sudah di siapkan oleh Dewi.


"Aaahhh!" Shela melempar kan tubuh Saska ke kasur namun dia juga malah ikut tertarik.


Shela berada di dada Saska. "Aduhh," ucap nya.


"Panas.. Panas..." Saska melepaskan baju nya.


Shela segera keluar dan tidur di kamar Dewi.


Keesokan harinya di sekolah..


Shela bersama Arka ke kantin. Shela mencari-cari keberadaan Saska namun dia tidak melihat nya dari tadi.


Dia melihat Tina sendiri akhirnya dia bertanya. "Kak Saska di mana?" tanya Shela.


"Saska tadi di panggil guru," ucap Tina.


"Oohhhh," ucap Shela.


"Kamu akhir-akhir ini sangat dekat dengan kak Saska, apa kamu menyukai nya?" tanya Arka.


"Aku sudah menganggap nya sebagai kakak ku, aku sudah punya kamu, untuk apa aku menyukai orang lain."


Arka menghela nafas panjang. "Sudahlah, tidak ada gunanya membahas itu," ucap Arka.

__ADS_1


Mereka mau ke kantin, namun tidak beberapa lama Mita lewat.


"Eh Mita, kamu mau kemana? Kok sendiri?" tanya Arka.


"Aku baru saja selesai dari kantin."


"Oohh, aku temanin ke kelas yah," ucap Arka.


Arka meninggalkan Shela begitu saja. "Benar-benar tu anak yah!" ucap Shela.


Tidak terasa sudah hari Sabtu. Hari ini libur jadi Shela bangun telat.


Sama seperti di rumah Kania, Arka bangun siang sementara Saska selalu bangun pagi membantu Kania terlebih dahulu.


"Saska, nanti malam kamu temanin papah main tenis yah," ucap Vincent.


"Oke Pah, emangnya di ijinkan sama Mamah?"


"Tenang saja, Mamah sudah kasih ijin tapi kamu harus ikut, karena mamah takut papah melirik mbak-mbak yang ada di sana."


Saska selalu tertawa ketika tentang mamah dan papah nya saling cemburu. Walaupun terkadang mereka sering cemburu satu sama lain, namun hubungan mereka semakin romantis.


Saska sangat menyukai tentang itu. Dia selalu betah di rumah karena keharmonisan Mamah dan Papah nya.


"Oh iya, Arka ikut gak?" tanya Vincent ketika Arka sudah bangun.


"Ikut kemana?"


"Biasa, malam mingguan di Lapangan."


"Oh iya, kamu kan lagi di hukum," ucap Vincent.. Mereka tertawa bersama.


Malam hari nya...


Saska dan Vincent berangkat ke tempat bermain. "Papah sudah lama tidak main ini," ucap Vincent sambil pemanasan.


"Om Vincent!!!" teriak Shela.


"loh, kok calon menantu Om di sini?" tanya Vincent kaget.


"Tadi kak Saska bilang mau main tenis di dekat rumah, rumah ku tidak jauh dari sini Om."


"Wahh, pas banget nih, Kapan lagi kan di temanin main tenis sama calon menantu."


"Loh, Arka gak ikut? Tante juga gak ikut?" tanya Shela karena berfikir mereka ikut Nonton.


"Namun walaupun mereka gak ada, Shela sangat suka ketika melihat orang lagi olahraga. Sambil mengambil video dia menonton sendirian.


Namun tiba-tiba dia teringat tentang beberapa hari yang lalu saat Saska mengganti kan nya minum.


Pada saat itu, Saska sangat cool sekali.

__ADS_1


"Huff perempuan mana sih yang tidak akan suka sama kak Saska?" batin Shela.


"Huss, aku mikirin apa sih, aku sudah memiliki pacar, mana mungkin aku menyukai kakak pacar ku sendiri."


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. waktunya libur semester.


Arka sudah mulai terbiasa dengan sikap Shela yang selalu mencari perhatian nya. Bahkan Shela berencana mengajak Arka jalan-jalan berdua saja di hari libur.


Dia mencari Arka. Namun saat mencari nya dia melihat Arka menarik tangan Mita ke samping sekolah


Dia mengikuti nya. "Kenapa kamu membawa aku ke sini?" tanya Mita.


"Sesuai janji ku, aku mau nembak kamu jadi pacar ku. Aku sudah lama menyukai kamu, apa kamu mau jadi pacar ku?" tanya Arka sambil berlutut memegang bunga di tangan nya.


"Bunga itu, bunga yang tadi pagi aku kasih ke Arka," batin Shela.


"Humm.."


"Mau dong, kita sudah pdkt cukup lama."


"Bagaimana dengan Shela, kamu kan di jodoh kan sama dia."


"Aku tidak menyukai dia, aku hanya menyukai kamu."


Mita tersenyum. "Kamu mau kan jadi pacar aku?"


"Iyah aku mau," ucap Mita.


Arka sangat senang, dia memeluk Mita. Saat mereka mau berciuman Shela berbalik badan.


Hati nya sangat hancur, dia langsung pergi sambil menahan tangis.


Tidak jauh dari sana, Saska menyaksikan itu. Dia juga melihat Shela melihat kejadian itu.


Dia segera menyusul Shela. Shela sudah menangis di pinggir kolam berenang, kebetulan di sana sangat sepi.


Saat Saska datang, Shela langsung berhenti menangis, dia langsung menghapus air mata nya.


"Aku tau kok, kamu pasti lagi sedih, gak apa-apa nangis saja," ucap Saska.


Saska duduk di samping Shela, dia menarik kepala Shela bersandar di pundak nya.


"Hiks hikss hikss, kenapa Arka sangat jahat? sementara aku sudah sangat tulus kepada dia."


"Aku membenci nya, aku tidak mampu menyukai nya lagi," ucap Shela.


Saska tidak tega, dia memberanikan diri mengelus kepala Shela.


"Hiks.. Hikss.. Aku sangat bodoh mau menyukai laki-laki seperti dia," ucap Shela.


"Jangan berbicara seperti itu, tidak hanya dia laki-laki di dunia ini, kamu jangan sedih karena dia."

__ADS_1


"Tapi Tante dan Om berharap kami baik-baik saja, hubungan kami tetap sama, Mamah sama papah juga gitu. Mereka tidak mengijinkan aku bersama Pria lain."


"Jangan nangis lagi, percuma saja kamu menangis membuat mata kamu bengkak seperti ini," ucap Saska sambil menghapus air mata Shela.


__ADS_2