
"Humm, dia masih belum bisa konsentrasi bekerja," ucap Tomi.
"Lagian pak Vincent ada-ada saja," ucap Fani.
"Kalau aku melakukan hal yang sama, apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Tomi.
"Aku tidak akan memaafkan kamu, aku akan memutuskan hubungan dan lagi aku akan membuat hidup mu menderita," jawab Fani dengan lantang.
Semua orang mendengar itu, termasuk Tomi takut mendengar nya.
"Kalau kamu melakukan hal seperti itu, mungkin kamu tidak akan pernah bertemu dengan ku lagi," ucap Fani.
"Kenapa kalian bertengkar? Emang nya tentang apa?" tanya staf teman Fani.
"Tidak ada," jawab Fani.
"Aku hanya bertanya bukan bermaksud seperti itu, kamu sangat sensitif banget," ucap Tomi.
"Kalau aku tidak marah mungkin kamu akan melakukan nya kan? Kalau kamu sudah bosan sama ku bilang saja, gak usah selingkuh!" ucap Fani.
"Baiklah, aku minta maaf," ucap Tomi.
Tomi sangat menyesal menanyakan itu kepada kekasihnya.
Jeki sangat bosan di rumah, dia memutuskan untuk memeriksa rumah nya sebentar tidak lupa untuk pamit kepada Kania membawa Saska.
Kania mendapat kan pesan dari Jeki hanya membaca nya tampa membalas nya.
Sesampainya di rumah nya dia melihat keadaan rumah yang sangat sepi, berantakan, kotor dan bau.
"Aku tidak bisa hidup Tampa nya, kenapa dia meninggal kan aku?" batin Jeki.
Tiba-tiba handphone nya berdering. Sekertaris nya menelpon nya.
"Halo pak? Bagaimana keadaan bapak?"
"Baik, sekarang saya sudah sampai di rumah saya."
"Bagus deh kalau begitu pak, apa besok Bapak memiliki waktu luang untuk bertemu dengan orang tua Mbak Minhui?"
Jeki terdiam sejenak, kenapa tiba-tiba mengajak bertemu karena mereka tidak ada pekerjaan yang harus di diskusikan.
"Atas dasar apa? saya tidak bisa berjanji bisa datang."
"Tapi seperti nya ini sangat penting pak, saya juga tidak tau apa yang membuat ingin bertemu," ucap Sekretaris nya.
"Saya akan memikirkan nya terlebih dahulu," ucap Jeki dan mematikan sambungan telepon.
"Tidak biasanya, ada apa?" batin Jeki.
Tentu saja dia takut karena dia lah yang menyembunyikan anak mereka selama ini.
Di malam hari nya...
__ADS_1
Vincent, Saska dan Jeki berada di ruang tamu sambil nonton tv, sementara Kania memutuskan untuk istirahat karena badan nya sangat lemas.
Vincent menyusul nya ke kamar karena khawatir.
"Tok!! Tok!! Tok!!"
"Masuk!"
Kania melihat Vincent berdiri di balik pintu. "Ada apa?" tanya Kania.
"Humm apa kamu tidak mau makan eskrim yang aku beli? Aku sudah membeli sesuai yang kamu mau," ucap Vincent.
"Aku tidak mau lagi," ucap Kania. Vincent mendekati Kania.
"Apakah kepala kamu pusing? Aku akan bantu pijit-pijit."
"Gak usah, aku mau tidur," ucap Kania.
Namun Vincent tidak menghiraukan nya dia langsung Memijit-mijit kepala istri nya.
Dia juga mengoleskan minyak ke punggung Kania.
"Apakah besok kamu mau pergi ke rumah sakit?" tanya Vincent.
Kania menggeleng kan kepala nya. "Aku mengkhawatirkan kesehatan kamu dan anak kita," ucap Vincent.
"Aku tidak mau," ucap Kania.
"Oohh ya udah gak apa-apa," ucap Vincent.
Jeki sudah bisa kembali ke rumah nya. Vincent meminta Jeki membawa Saska, dia takut kalau Saska di sini membuat suasana hati Kania tidak baik.
"Maaf yah sudah merepotkan kamu, tapi untuk saat ini aku ingin kau merawat Saska."
Jeki mengangguk. Lagian dia tidak memiliki teman di rumah.
Setelah Jeki pergi, Kania menghampiri Vincent.
"Seharusnya seorang Ayah harus bisa merawat anak nya sendiri bukan malah memberikan nya kepada orang lain," ucap Kania.
"Itu karena..." belum selesai ngomong namun dia langsung di tinggal kan oleh Kania.
Vincent menghela nafas panjang. Tidak beberapa lama akhirnya dia juga berangkat ke kantor nya.
Jeki sampai di rumah nya. Walaupun sangat sepi dia tetap harus tinggal di sana bersama keponakan nya itu.
"Apakah aku harus pergi menemui orang tua Minhui?" batin Jeki.
Karena penasaran akhirnya dia pun pergi tidak lupa membawa Saska juga.
"Selamat siang pak, maaf saya membuat bapak lama menunggu," ucap Jeki.
Kedua pasangan yang sudah lanjut usia itu tersenyum dia mempersilakan Jeki duduk.
__ADS_1
"Maaf saya harus membawa keponakan saya pak," ucap Jeki.
"Tidak apa-apa, dia sangat tampan," ucap mereka.
"Humm kalau boleh tau, ada apa yah pak mendadak mengajak bertemu?" tanya Jeki.
"Kami sebelum nya minta maaf karena merepotkan nak Jeki, tapi kami ingin bertanya apa benar selama ini Putri kami Minhui tinggal bersama nak Jeki?" tanya Mereka.
Jeki terdiam sejenak. "Beberapa orang melaporkan nya kepada kami." ucap mamah nya Minhui.
Jeki terdiam sejenak. "Saya minta maaf Pak, Minhui benar tinggal dengan saya, dan saya yang sudah menyembunyikan nya. Sekarang dia sedang mengandung anak saya."
Papah nya Minhui yang dari tadi hanya diam saja sangat emosi mendengar nya, dia berdiri dan menampar wajah pria itu.
"Jadi kau adalah pria yang sudah membuat anak saya seperti itu?" tanya Pria yang sudah lanjut usia itu.
"Saya minta maaf," ucap Jeki.
"Sekarang Minhui ada di rumah kami, dia sudah menceritakan semua nya."
Jeki kaget mendengar Minhui sudah pulang namun ke rumah orang tua nya.
"Kami ingin kau tanggung jawab dengan perbuatan mu ini sebelum kamu melaporkan mu ke kantor polisi."
Jeki mengangguk, dia tidak berhenti meminta maaf namun kedua orang tua Minhui langsung pergi dalam keadaan emosi.
Jeki langsung ke rumah orang tua Minhui. Hanya ada Minhui di rumah itu.
Saat dia membuka pintu dia melihat Jeki dan Saska. Dia menatap Jeki heran kenapa bisa di sana dan tau kalau dia ada di sana.
"Aku minta maaf, kenapa kamu tidak pulang kepada ku?" tanya Jeki.
"Apakah Mamah sama Papah mendatangi kamu?" tanya Minhui.
Jeki mengangguk. Minhui menunduk kan kepala nya.
Dia mengingat pertama kali sampai di rumah orang tua nya, orang tua nya sangat kaget melihat keadaan nya.
Mereka sangat tidak terima dengan keadaan Minhui, mereka emosi sehingga melontarkan kata-kata kasar kepada putri nya.
Bahkan mereka meminta Minhui untuk menggugurkan kandungan nya.
Mereka sama sekali tidak menerima keadaan Minhui yang seperti itu. Orang tua mana yang akan menerima putri nya seperti itu.
"Apakah kamu mau ikut dengan ku? Aku minta maaf, aku tidak akan melakukan hal itu lagi dan aku berjanji akan tanggung jawab, tapi aku mohon kembali dengan ku," ucap Jeki.
Minhui sudah tidak ada pilihan, orang tua nya sudah tidak menerima nya, akhirnya dia menginyakan dan mau ikut bersama Jeki demi anak nya.
Jeki sangat senang ketika Minhui mau ikut dengan nya lagi.
"Apa kita menunggu orang tua kamu pulang terlebih dahulu?" tanya Jeki.
"Tidak perlu, mereka tidak akan perduli karena mereka tidak mau menerima keadaan ku."
__ADS_1
Jeki semakin merasa bersalah mendengar jawaban Minghui.