
Minghui memegang kepala nya yang terasa sangat pusing sekali.
"Perasaan aku hanya minum sedikit namun kenapa kepala ku sangat pusing dan juga juga perut ku juga sangat sakit."
Minghui masuk ke dalam apartemen nya, dia berusaha menghubungi Jeki namun tidak bisa di hubungi karena sudah malam juga.
Akhirnya Minghui tidur Tampa menukar baju nya yang sudah sangat kotor sekali.
Di pagi hari nya Kania melihat Vincent duduk di living room sendirian.
"Omah sama Opah kemana?" tanya Kania sambil duduk di samping Vincent meletakkan kopi di depan Vincent.
"Ini minum dulu kopi nya."
Vincent menoleh ke arah Kania.
"Kenapa paman menatap ku seperti itu?"
"Buat sarapan, kopi dan menemani duduk di pagi hari seperti ini membuat saya terong kepada peran sang istri."
"maksud nya?" tanya Kania kebingungan.
"Menikah lah dengan saya,"
"Hah?"
"Jadilah istri saya agar saya tidak bingung mau melakukan apa kepada kamu."
"Apa maksud nya?" tanya Kania.
Vincent mau mencium Kania namun tiba-tiba Omah dan Opah datang.
"Selamat pagi.. Kamu sudah bangun?" tanya Omah nya kepada Kania.
"Omah sam Opah dari mana?"
"Olahraga sedikit." ucap Omah.
"Oohhhh." ucap Kania.
Vincent melihat Kania, di peluk di manja sangat di Sayang sekali.
"Huff seandainya saja mudah, aku sudah menikahinya."
Vincent dan Kania berangkat bersama.
"Loh kenapa berhenti di luar pagar sih paman? Aku tidak mau jalan ke dalam."
Vincent membuka sabuk pengaman nya.
"Kania apa kamu mau menikah diam-diam dengan saya?"
"Maksud Paman?" tanya Kania kaget.
"Saya takut kamu akan meninggalkan saya, saya takut kamu akan berubah pikiran dan memutuskan hubungan dengan saya."
Kania menghela nafas panjang.
"Kenapa paman berfikir seperti itu?"
__ADS_1
"Saya memiliki banyak kekurangan Kania, selama ini saya kehilangan apa yang sangat saya pertahankan, saya benar-benar sangat takut sekali Kania."
"Aku sudah berjanji akan selalu ada, selalu di sini bersama Paman, kurang bukti apa lagi kalau aku hanya mencintai kamu,"
Kania mencium bibir Vincent yang terlihat sangat khawatir.
"Saya..."
"Sstt!!! Aku tau kamu pasti sangat khawatir, tapi sebaiknya selesai kan pekerjaan kamu sampai selesai dan baru membahas hubungan kita, untuk sekarang kita menjalani nya seperti ini saja dulu."
Vincent mengangguk sambil tersenyum dia mengelus Kania.
"Saya sangat mencintai kamu, saya tidak ingin kehilangan kamu."
"Aku yakin sudah sangat banyak wanita yang paman gombalin di seperti ini."
Vincent menggeleng kan kepala nya.
"Jangan membohongi ku."
Vincent langsung terdiam.
"Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu ke dalam, paman pergi lah ke kantor."
"Malam ini seperti nya saya akan pulang telat, jangan mengkhawatirkan saya atau menunggu sampai kamu tidak tidur."
"Baiklah."
Kania di antar sampai ke dalam dan setelah itu pergi.
Kania tersenyum kepada Yuda yang dia lihat dari kejauhan. Namun ketika ada Ulfa Kania langsung berhenti tersenyum.
"Kania kamu di anterin sama sang pacar hari ini?" tanya Ulfa.
"Malam ini aku tidur di rumah kamu yah," ucap Ulfa.
"Boleh, tapi kenapa?" tanya Kania.
"Ibu aku pulang kampung untuk perobatan kampung, aku tinggal sendiri selama beberapa hari di rumah.
"Oohh, ya udah gak apa-apa datang nginap saja di rumah sampai kapan yang kamu mau, Omah sama Opah pasti senang tambah teman nya.
Kania tersenyum. "Terimakasih banyak Kania, aku sudah tidak tau mau nginap di mna kalau seperti ini."
"Tapi dengan syarat omah sama Opah jangan sampai tau hubungan ku dengan Paman Vincent."
"Aman, kamu tenang saja."
Kania tersenyum.
"Ulfa," panggil Yuda.
"Aku ke toilet dulu yah." Kania langsung pamit ke toilet. Ulfa menghela nafas panjang.
"Ada apa sih? Aku tidak mau berbicara dengan kamu jadi jangan ganggu aku!"
"Nih."
Yuda memberikan tiket kepada Ulfa.
__ADS_1
"Hah? Tiket Flim yang aku suka?"
Yuda mengangguk.
"Aku membeli nya dia untuk kamu dan aku."
"Kamu? Jadi aku pergi Nonton nya Sama kamu?"
"Hum, apa yang salah? tidak ada kan?"
"Aku tidak akan pergi kalau dengan kamu."
"Yakin? Tiket nya hanya beberapa dan sangat susah di dapat kan, selain susah ini juga sangat mahal."
"Kamu menghina ku yang tidak mampu beli?"
"Ya bukan gitu, tapi aku beli ini pakai uang tabungan ku."
"Kalau kamu tidak punya uang kenapa kamu memaksa kan beli ini?"
"Demi kamu lah bukan nya sebelum nya kamu bilang kalau aku berhasil beli tiket ini, kamu tidak akan menolak permintaan ku."
"Aku hanya bercanda."
"Aku sudah membeli ini, jadi nanti malam kita harus pergi, aku akan menjemput kamu."
"Terserah." Tiket di ambil dan Ulfa langsung pergi..
"Asikk nanti malam aku akan nonton dengan nya, aku harus membuktikan kepada Kania kalau aku laki-laki yang tanggung jawab."
Sementara di kantor Vincent bertemu dengan Tomi.
"Lain kali kalau memberikan informasi kamu harus memeriksa nya lebih teliti, kenapa tadi malam Jeki ada di sana?"
"Saya minta maaf Pak, tadi malam direktur Je tiba-tiba muncul."
"Sudah lupakan saja lah."
"Kamu keluar saja, saya mau lanjut kerja."
Tomi keluar, saat mau lanjut bekerja tiba-tiba dia teringat kepada Minhui tadi malam.
"Kenapa Minhui sendiri mabuk seperti itu di luar? Bukan nya dia bersama Jeki?"
"Tapi akhir-akhir ini Minghui sangat jarang kelihatan, dia juga hanya bersama Jeki setiap kali kelihatan."
"Mereka sudah lama pacaran, apa keluarga nya juga ikut membohongi aku? Aku sungguh bodoh tidak mencari tau tentang nya terlebih dahulu," batin Vincent.
"Tapi.. Jeki memanfaatkan Minhui untuk mendekati aku agar bisa merebut perusahaan itu, tapi apa hanya itu saja? Tidak mungkin Jeki sebegitu cerdas nya, aku yakin pasti ada motif lain aku harus lebih hati-hati lagi," ucap Vincent.
Tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone nya dari Omah dan Opah nya mereka akan menghadiri acara wawancara hari ini dan Vincent juga harus datang.
Awalnya Vincent mau menolak namun itu adalah permintaan orang tua nya.
"Pak Vincent, seseorang datang mencari Bapak." ucap Tomi dengan wajah yang sangat gugup sekali.
Vincent melihat wanita paruh baya berpakaian merah, wajah datar terkesan galak baru saja memasuki ruangan Vincent.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak."
__ADS_1
Tomi keluar dan menutup pintu.
"Oh tuhan bagaimana ini? kalau Bu Mona sudah datang ke kantor, semua nya Dalam bahaya, semua nya bahaya, aku tidak bisa membayangkan nasib ku ke depan nya bagaimana? Aku masih memiliki utang banyak, orang tua ku masih butuh uang dari aku."