Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 167


__ADS_3

Vincent melanjutkan nya lagi, Kania mulai menikmati nya.


Vincent benar-benar tidak bisa fokus karena mengingat Sarah, sekarang hati nya terbagi dua.


"Sayang..." Vincent menghentikan nya sebentar.


"Kenapa?" tanya Kania.


"Aku melakukan nya sedikit kasar, kamu yakin gak apa-apa?" tanya Vincent. Kania mengangguk.


Keesokan harinya...


Di rumah Jeki. "Kamu yakin mau membawa kami?" tanya Minhui kepada Jeki.


Mengetahui Sarah sudah keluar dari rumah sakit, Jeki mau membawa Saska bertemu dengan Sarah.


Namun tidak mungkin meninggalkan Minhui sendirian, akhirnya dia memutuskan untuk membawa mereka berdua.


Minhui ragu untuk ikut, tapi dia juga penasaran kepada adik nya Jeki.


"Kamu mau tinggal di sini sendirian?" tanya Jeki karena Minghui meragukan keputusan nya.


"Ya bukan gitu, aku hanya takut merepotkan kamu."


"Justru lebih merepotkan aku kalau kamu tinggal di sini," ucap Jeki.


Minhui melihat Jeki merapikan semua barang-barang yang harus di bawa, Jeki tidak mengijinkan Minhui untuk melakukan nya. Siang nanti mereka akan berangkat.


Selama di perjalanan Minhui mabuk, dia tidur di pundak Jeki dan tidak beberapa lama akhirnya sampai juga.


"Kamu gak apa-apa kan? kita cari obat dan makan," ucap Jeki mengutamakan Minhui. Sambil menggendong Saska di dada nya dia juga menggenggam tangan Minhui sementara tangan lain nya menarik koper.


Minhui selesai makan dan minum obat, namun wajah nya sangat pucat sekali.


"Kamu masih pusing?" tanya Jeki. "Sudah mendingan, sebaiknya kita cari tempat untuk istirahat."


"Baiklah kalau begitu," jawab Jeki, karena dia berencana awalnya langsung ke rumah Sarah namun melihat kondisi Minhui, itu tidak lah mungkin.


Sesampainya di penginapan Minhui langsung membaringkan tubuhnya. Saska dari tadi sudah tidur di gendongan Jeki.


Melihat Saska dan Minhui sudah nyaman akhirnya dia tenang.


Karena memesan bad ekstra dia tidur di bawah di samping Minhui.


Dia sangat lelah sekali di tambah hari sudah jam tujuh malam.


Minhui terbangun karena merasa haus. Saat dia bangun dia melihat Jeki tidur di bawah sementara mereka berdua di atas kasur.


"Kenapa Kamu bangun?" tanya Jeki.


Minhui menunjuk ke arah air. Jeki mengambil nya.


Jeki mengelus perut Minhui.

__ADS_1


"Sayang... kamu di sana jangan nakal dulu yah, kita lagi di luar tidak di rumah, kamu tidak boleh membuat mamah sakit," Jeki mengelus-elus perut Minhui.


"Kamu tidur saja di atas, kasur nya cukup luas, di bawah sangat dingin," ucap Minhui.


"Tidak apa-apa, Kalian tidur saja," ucap Jeki. Dia kembali tidur di bawah.


Namun tiba-tiba Minhui ikut tidur di bawah membuat Jeki marah.


"Kenapa kamu malah ikut turun? Ayo kembali naik ke atas, pinggang kamu akan sakit kalau tidur di sini."


Minhui menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau, aku kedinginan di atas," ucap Minhui.


Jeki menghela nafas panjang. Dia melihat ke arah Saska tidur sangat nyenyak di atas.


Jeki menarik selimut menutupi tubuh Minhui dan memeluk nya.


Setelah Minhui tidur dia mau memindahkan ke atas.


"Aku tidak bisa tidur kalau tidak dipeluk," ucap Minhui merengek ketika Jeki memindahkan nya.


Terpaksa mereka sempit-sempitan di atas tempat tidur.


Keesokan paginya...


"Kamu masak apa sayang?" tanya Vincent memeluk istrinya dari belakang.


"Sarapan untuk kita mas," ucap Kania.


"Wanginya enak banget," ucap Vincent.


Vincent menghela nafas panjang. "Huff baiklah sayang," dia mencium kepala istri nya dan pergi mandi sambil menunggu sarapan masak.


Setelah selesai mereka makan bersama. Vincent menghentikan makan nya membuat Kania juga berhenti.


"Kenapa? gak enak yah kak?" tanya Kania.


"Bukan, enak kok,," jawab Vincent sambil tersenyum.


Kania bertanya kenapa Vincent seperti orang kebingungan namun Vincent seperti nya ragu untuk berbicara sehingga dia memilih untuk diam saja.


"Lupakan saja lah, ayo lanjut makan."


Hari ini Vincent dan Kania bekerja, selesai bekerja Vincent sengaja mengajak istri nya jalan-jalan dan juga belanja apa saja yang di mau oleh istri nya itu.


Sudah lama mereka tidak jalan-jalan mesra seperti itu, mereka sekarang sudah tidak perduli lagi dengan tatapan orang lain.


Saat Kania ke kamar mandi Vincent menghubungi Jeki.


"Halo, ada apa?" tanya Jeki.


"Kenapa kau menjawab ku seperti itu?" tanya Vincent karena Jeki sangat ketus.


"Apa mau mu?"

__ADS_1


"Aku ingin kau membatalkan membawa Saska ke pada Sarah."


"Kenapa? Kau sangat mudah berubah pikiran, setelah menyuruh ku membawa Saska sekarang kau melarang nya."


"Keadaan Sarah sekarang kurang baik, dokter melakukan perawatan di rumah sekarang."


Vincent juga baru mendapatkan kabar dari penjaga di rumah Sarah.


"Kenapa kau baru bilang?" ucap Jeki panik dia langsung mematikan sambungan telepon.


"Minhui, kamu dengan Saska di sini sebentar yah, aku akan segera kembali," ucap Jeki.


"Kamu mau kemana? kamu tidak akan membawa kami?" tanya Minhui.


"Tidak sekarang, keadaan Sarah sekarang memburuk."


Jeki pergi dengan sangat tergesa-gesa sekali.


Minhui melihat ke arah Saska yang juga kebingungan melihat Jeki pergi.


"Yahh kita di tinggal lagi sayang," ucap Minhui sambil memeluk Saska.


Saska tersenyum saja. "Kenapa usia kandungan ku semakin tua aku semakin manja dan tidak mau di tinggal oleh Jeki yah? ini sangat aneh," ucap nya.


Tomi di kantor dia baru saja menu pekerjaan nya. Dia mendapatkan pesan dari bos nya kalau mereka tidak akan kembali ke perusahaan.


Tomi menghela nafas panjang.


"Nasib jadi sekretaris pasangan baru menikah, selalu saja di tinggal seperti ini."


Dia melihat jam. "Apa sekarang Fani sudah selesai?" batin nya, dia keluar memeriksa kekasihnya.


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Fani. Tomi menghela nafas panjang. "Mau sampai kapan sih kamu marah sama aku? Aku sudah bilang kalau aku dengan Kania hanya berteman."


"Kalau hanya berteman saja mana mungkin aku sangat gembira ketika Kania kembali bekerja?"


"Kamu tau kan kalau aku bekerja sendirian, kalau dia ikut membantu pekerjaan ku jauh lebih ringan."


"Jangan banyak alasan deh, bilang saja kalau kamu memiliki perasaan kepada istri bos kamu sendiri."


Tomi menghela nafas panjang. "Aku hanya mencintai kamu, aku tidak menyukai siapapun."


"Bohong!" Tomi harus ekstra sabar menghadapi pacar nya itu.


"Aku minta maaf sudah membuat kamu salah paham," ucap Tomi.


"Aku tidak mau di ganggu, kamu pergi saja," ucap Fani.


"Ini sudah malam sebaiknya kita pulang," ucap Tomi.


"Aku bisa pulang sendiri."


"Sudah satu Minggu kamu membahas dan mempermasalahkan ini, apa kamu tidak bosan mengabaikan ku selama itu?" tanya Tomi.

__ADS_1


Tomi memegang tangan Fani. "Dengarkan aku baik-baik, aku tau kamu pasti cemburu. Tapi saling percaya adalah hal yang utama agar hubungan kita langgeng," ucap Tomi.


__ADS_2