Mencintai Adik Ibu Ku

Mencintai Adik Ibu Ku
Episode 122


__ADS_3

Dia melihat Handphone Jeki di atas meja dan ada notifikasi masuk.


"Sayang?" tanya Minhui melihat nama kontak yang masuk ke handphone Jeki.


Dia penasaran ternyata Jeki memiliki pacar baru, pantesan saja Jeki sering keluar dan tidak pernah lagi perduli kepada nya.


Membaca semua isi chat mereka membuat Minhui sangat sedih sekali.


Badan nya sangat lemas dia meletakkan handphone itu dan masuk ke dalam kamar.


Keesokan harinya Vincent bangun lebih awal karena harus ke kantor, dia mau membangun kan Istri nya namun tidak tega, dia memberikan Bantal guling, membenarkan Selimut nya dan mencium kening Kania. Setelah itu dia berangkat bekerja.


Vincent melihat jam dia tidak boleh telat, dia segera berangkat meninggal rumah.


Sedikit kurang karena tidak di antar oleh istri nya ke depan, namun ini hanya sekali saja.


Kania terbangun karena sadar di samping nya sudah tidak ada suami nya. Dia kaget namun melihat Handphone nya langsung.


Vincent pamitan melalui pesan di handphone nya.


Kania menghela nafas panjang. "Kenapa dia pergi tidak membangun kan aku? Apa dia marah karena aku tidur terlebih dahulu tadi malam?"


Kania jadi overtingking karena dari kemarin mereka jarang berbicara.. Vincent menghabis kan waktu nya seharian di dalam ruangan kerja nya.


Kania turun dari tempat tidur, dia masuk ke kamar mandi.


Tidak beberapa lama dia keluar dari kamar mandi dan keluar mencari air putih.


"Hari ini aku ngapain yah? Rasa nya sangat membosankan kalau hanya di rumah saja," batin Kania.


Akhirnya dia menghubungi Ulfa, dia mau bertemu dengan Ulfa di cafe Yuda.


Kania langsung siap-siap setelah selesai sarapan.


Tidak lupa juga dia berpamitan kepada suami nya.


"Aku sudah terbiasa menghabiskan waktu di luar dengan kesibukan ku sendiri, tiba-tiba di suruh di rumah sendirian rasanya sangat membosankan, kalau berdua dengan mas Vincent sih tidak masalah, aku betah-betah saja," ucap Kania.


Kania menikmati perjalanan sambil menghidupkan musik di mobil nya.


Namun tiba-tiba ada seseorang yang membuat nya terkejut, dia menginjak rem karena perempuan itu hampir saja dia tabrak.


"Ya Allah ada apa itu? Kenapa dia muncul di sana?" Kania langsung turun dari dalam mobil.

__ADS_1


"Mbak, ya Allah mbak kenapa berdiri di tengah jalan? Mbak gak apa-apa kan?" tanya Kania.


Perempuan itu jatuh ke jalanan, Kania mencoba membantu nya tapi dia sangat kaget ternyata itu adalah Minghui.


Dia sangat kaget sehingga menjauh dari Minghui.


"Mbak Minhui kenapa bisa di sini?" tanya Kania.


Minghui menatap wajah Kania, dia langsung memohon.


"Kania, aku mohon bawa aku ke rumah sakit, aku mohon," ucap Minhui.


"Mobil kamu kemana? kenapa kamu bisa di sini?" tanya Kania karena tidak ada rumah di sana sangat sepi sekali.


"Aku mohon bawa aku ke rumah sakit," ucap Minhui. Melihat Minhui sangat pucat dan badan nya panas Kania langsung membawa ke dalam mobil dengan perasaan yang sangat takut dan ragu sekali.


Minhui kabur dari rumah nya setelah mendapatkan kunci cadangan dari kamar Jeki. Dia sudah tidak kuat dengan sakit nya dia ingin tau kenapa dia bisa sakit seperti itu.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Minhui tidak mengatakan apapun dia hanya diam menahan rasa sakit kepala nya dan badan nya sangat lemas sekali.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai, Kania membantu membawa nya masuk ke dalam rumah sakit agar segera di periksa.


Namun setelah di periksa ternyata Minhui hamil. Kania cukup kaget mendengar nya karena dia sangat penasaran anak siapa itu.


Minhui tidak pernah terlintas dalam pikiran nya kalau dia akan hamil. Ternyata kandungan nya sudah satu bulan.


Kania baru saja selesai berbicara dengan dokter. Dia juga langsung membayar biaya pengobatan nya karena dokter langsung meminta nya.


Kania masuk ke ruangan Minhui.


"Terimakasih banyak Kania sudah membawa ku ke sini, aku minta maaf sudah merepotkan kamu."


Kania mengangguk. "Untuk dua hari ini mbak harus di rawat di sini sampai keadaan mbak membaik, masalah biayanya tenang saja aku sudah membayar nya."


"Terimakasih banyak Kania, setelah aku memiliki uang aku akan mengganti nya."


"Tidak perlu, anggap saja untuk anak yang di dalam kandungan Mbak."


Minhui tersenyum dia mengelus perut nya.


"Aku tidak tau kalau aku sudah hamil, aku juga tidak menyangka kalau aku sudah hamil satu bulan."


"Kalau boleh tau itu anak siapa?" tanya Kania.

__ADS_1


"Anak Jeki."


"Kenapa dia tidak datang mengantar kan kamu ke rumah sakit? Kenapa membiarkan keadaan mbak semakin memburuk?" tanya Kania.


Minghui tidur mau mengatakan nya dia hanya diam sambil tersenyum saja.


"Ya sudah kalau begitu aku tidak bisa lama-lama di Sini, aku masih ada urusan lain."


"Iyah Kania, sekali lagi terimakasih."


Kania mengangguk dia langsung pergi dari sana.


"Minhui hamil tapi direktur Je tidak tanggung jawab? Dia membiarkan Minghui menahan rasa sakit Sendiri?" ucap Kania kebingungan.


"Apa aku harus ngasih tau kepada mas Vincent? Tapi tidak mungkin, mas Vincent bisa marah kalau aku masih bersangkutan dengan direktur Je dan juga Minhui," batin Kania.


Di tempat lain Vincent melihat notifikasi uang keluar dari rekening istrinya.


"Untuk apa Kania mengeluarkan uang begitu banyak untuk rumah sakit?" batin Vincent.


Rumah sakit yang cukup besar sehingga harga pembayaran nya juga besar.


Vincent sedang sibuk bekerja dia tidak sempat untuk bertanya kepada istri nya, dia takut kalau istri nya mengalami masalah.


Kania sampai di Cafe Yuda.


"Selamat datang di Cafe ku, silahkan duduk," ucap Yuda kepada Kania.


Yuda menemani Kania berbicara sementara Ulfa masih Sibuk melayani para pelanggan.


"Ada apa dengan mu Kania? kenapa kelihatan nya kamu memikirkan sesuatu?"


"Kamu kenapa Minhui kan?" tanya Kania.


"Mantan Paman Vincent kan?" tanya Yuda.


Kania mengangguk. Dia menceritakan semua nya kepada Yuda karena dia yakin Yuda lah satu-satunya yang bisa memberikan saran dan menyimpan rahasia.


Ulfa melihat mereka berdua duduk dan berbicara sangat serius.


"Bisnis apa yang sedang mereka bicarakan? kenapa kelihatan nya mereka sangat serius sekali?" batin Ulfa.


"Menurut aku pasti ada yang terjadi di hubungan mereka berdua, tapi sebaiknya kamu jangan ikut campur."

__ADS_1


"Bagaimana tidak ikut campur Yuda, sekarang aku yang menanggapi dia di rumah sakit karena direktur Je tidak bertanggung jawab, Bahkan direktur Je tidak tau kalau Minghui mengandung anak nya."


"Huff aku bingung harus mengatakan apa, mereka sudah tidak ada hubungan nya dengan kamu dengan Paman Vincent," ucap Yuda.


__ADS_2