
"Di kantor cukup banyak pekerjaan, maafin saya sudah membuat kamu bosan sendirian di rumah."
Kania menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok."
"Ya sudah kalau begitu saya akan makan dulu sebelum mandi."
Kania mengangguk karena dia juga sudah sangat lapar menunggu Vincent.
"Oh iya tadi Ibu nelpon aku."
"Terus? apa yang dia katakan kepada kamu?"
"Ibu tau kalau aku datang ke sini," ucap Kania sambil terus lanjut makan.
"Dia juga bilang kalau aku jangan mengganggu Paman bekerja, apa aku terlalu buruk sehingga Ibu mengatakan hal seperti itu?" tanya Kania walaupun sangat sedih dia berusaha untuk tetap memasang wajah santai.
Vincent menghentikan makan nya dia menatap ke arah Kania. Dia menggenggam tangan Kania.
"Aku rasa sulit untuk membuat Bu Mona sayang sama ku," ucap Kania.
"Mami memiliki sikap yang sangat sulit di tebak, saya anak nya sendiri bahkan tidak tau seperti apa dia." ucap Vincent.
Kania menunduk kan kepala nya.
"Kamu selalu memikirkan dan membahas hal yang tidak terlalu penting untuk di bahas dan di pikir kan, kenapa tidak fokus saja dengan hubungan kita sekarang?"
Kania menghentikan makan nya. Dia menatap Vincent.
"Aku tidak memiliki orang tua lagi, semua hidup ku bahkan sudah aku serahkan kepada paman, aku tidak tau perasaan ku bagaimana Besok nya kalau Bu Mona tidak merestui hubungan kita."
Vincent berdiri dia mendekati Kania. "Saya mencintai kamu, saya akan melakukan apapun demi kamu, saya akan menikahi kamu sesuai dengan persyaratan apa yang di berikan oleh orang tua saya."
Kania memeluk Vincent. Vincent meminta Kania lanjut makan agar dia juga langsung mandi.
Di tempat tidur Vincent membaca buku namun Kania berbaring di lengan nya sehingga tidak terasa Kania tertidur pulas di lengan nya sambil memeluk pinggang nya.
Vincent mengingat berapa kali dia menceritakan keburukan Kania kepada Mami nya pada saat Vincent marah kepada Kania. Dia juga mengingat orang tua Kania meninggal karena Ayah nya.
"Bagaimana bisa aku melepaskan kamu dan membiarkan kamu sedih. Aku sudah berjanji kepada diri sendiri akan bersama kamu seumur hidup ku!"
Vincent mencium kening Kania dan langsung memeluk Kania dan tidur.
Sementara di tempat lain Minghui menangis di kamar sendirian. Jeki meninggalkan nya setelah selesai menyiksa nya seperti biasa.
Jeki sangat jarang di rumah, dia hanya datang ketika memiliki kepentingan pribadi saja.
Walaupun begitu dia tidak akan membiarkan Minghui pergi dari rumah nya.
__ADS_1
"Bro! Kenapa loe di sini?" tanya teman-teman nya karena Jeki sedang ada di hotel minum-minum.
"Apa salah nya aku di sini?"
"Bagaimana dengan Minghui? Apa dia tidak takut di rumah sendirian?" tanya mereka lagi.
"Dia sudah cukup dewasa, untuk apa mengkhawatirkan dia."
"Kenapa loe masih menahan dia di rumah? Sementara loe di sini bersama wanita lain."
"Aku tidak akan membiarkan dia kembali kepada Vincent!"
"Huff mau sampai loe membenci Vincent? Mau bagaimana pun loe tidak akan bisa mengalah kan Vincent."
Brak!!
Tiba-tiba Jeki menggebrak meja membuat semua orang kaget.
"Aku akan membuktikan kalau suatu saat nanti aku akan membuat pria itu menyesal!"
Mereka semua hanya bisa diam, karena Jeki terkenal dengan sifat egois nya dan juga pemarah semenjak kekalahan nya.
Direktur Je yang terkenal baik dan juga ramah itu sekarang sudah berubah total, tidak ada yang tau dia kenapa sangat membenci Vincent.
Direktur Je membuka ponsel nya dan melihat beberapa postingan Instagram Kania bersama Vincent.
Sudah satu Minggu Kania di kota Vincent.
Akhirnya dia kembali ke Jakarta untuk kuliah dan juga bekerja.
Walaupun cukup berat berpisah dengan Vincent lagi, namun dia harus sabar.
"Kania... aku sangat merindukan kamu," ucap Ulfa yang datang menjemput Kania ke bandara bersama Yuda dan Tomi.
"Aku juga sangat merindukan kamu."
"Bagaimana kabar kamu? Pasti sangat bahagia bukan?" tanya Kania.
Ulfa tersenyum. "Kamu sendiri bagaimana?"
"Ya begitulah, seperti yang kamu tau."
Ulfa tersenyum. "Huff seperti nya orang yang kamu rindukan hanya Ulfa saja, bagaimana dengan aku dan juga Yuda?" tanya Tomi.
"Untuk apa aku merindukan kalian, aku hanya meminta Ulfa menjemput ku ke sini!"
Ulfa dan Kania berjalan meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Yahh begitu lah pada dasarnya perempuan kalau sudah bertemu dengan teman nya."
Tomi dan Yuda di abaikan oleh mereka berdua. Namun saat keluar dari bandara tidak sengaja Kania menyenggol perempuan yang berjalan terburu-buru menggunakan kacamata dan juga masker.
Kania melihat perempuan itu cepat-cepat mengambil barang-barang nya yang jatuh ke lantai.
"Maaf-maaf mbak, aku tidak sengaja," ucap Kania, namun perempuan itu menyadari yang di depan nya adalah Kania.
"Kania!" ucap Minghui.
Mendengar suara itu Kania langsung tau itu adalah Minghui. Dia mau menahan nya namun tiba-tiba dari jauh terdengar suara Jeki.
Minhui langsung kabur, Kania melihat Jeki mengejar Minhui sampai akhirnya Minhui di paksa masuk ke dalam mobil.
"Ada apa?" tanya Kania bingung.
"Sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan dia, jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi."
"Kenapa kelihatan nya Minhui tertekan?" tanya Kania.
"Apa kamu tidak mendengar berita kalau Jeki sangat cinta mati kepada Minhui sehingga dia tidak membiarkan Minghui meninggalkan dia."
"Hal yang sangat aneh, kalau sangat mencintai nya pasti direktur Je memanjakan nya, bukan memperlakukan nya dengan kasar."
"Aku juga kurang paham, aku hanya mendengar dari orang-orang, berita di handphone."
"Seperti tidak ada yang beres," ucap Kania.
"Sudah lah tidak perlu memikirkan hal itu, lagian tidak ada urusan nya dengan kita."
Kania mengangguk mereka meninggalkan bandara.
"Berani-beraninya kamu mau kabur dari ku? kamu mau kabur kemana?" tanya Jeki kepada Minghui setelah sampai di rumah.
"Aku mohon lepas kan aku!" ucap Minhui menangis.
Jeki membongkar tas Minghui, dia melihat tiket Minghui ke kota yang tidak asing, yaitu kota tempat Vincent sekarang.
Dia semakin marah dan akhirnya melakukan hal yang kasar kepada Minghui.
Jeki tau kalau Minghui mau menemui Vincent, karena dia sudah tau gerak-gerik Minghui beberapa hari ini.
Kania di dalam kamar nya tidak berhenti memikirkan Minhui. Dia sedang berbalas pesan dengan Vincent namun tetap kefikiran kepada Minhui.
"Pantesan saja aku tidak pernah melihat Minhui dan juga aku tidak pernah mendengar berita nya, ternyata direktur Je sangat posesif."
Kania mencari-cari tentang Minghui di laptop nya, namun ternyata tidak ada, bahkan hubungan nya dengan Jeki banyak yang tidak tau.
__ADS_1