
"Karena aku tau cara nya maka nya aku tanya sama kamu."
"Aku tidak tau dia di mana!"
"Huff kamu benar-benar sangat pelit sekali."
"Bodo amat!"
"Apa kamu sudah beli makan? mau nitip gak?" tanya Yuda.
"Aku tidak lapar."
"Baiklah kalau begitu aku akan membeli kan kamu ayam geprek kesukaan kamu."
Yuda langsung pergi sambil melambaikan tangan nya.
20 menit kemudian Ulfa duduk sendiri namun tidak ada tanda-tanda Kania akan datang menyusul nya.
Yuda kembali membawa makan untuk Ulfa.
"Kania pasti sudah makan di sana, sebaiknya kamu makan saja dulu."
Ulfa menatap Yuda.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak lapar."
"Aku membeli ini untuk kamu, jadi harus di makan," ucap Yuda dan langsung pergi dari sana.
Ulfa melihat Yuda pergi. "Kenapa dia selalu bersikeras sih mau memberikan aku ini? Dia juga sangat ngotot banget mau mendekati ku." ucap Ulfa.
Ulfa tidak tega menyia-nyiakan makanan itu dia pun langsung makan sampai habis.
Tidak beberapa lama akhirnya Kania sampai di kantor dia langsung ke ruangan Vincent.
"Selamat siang pak Vincent, saya mau absen."
Kania masuk ke ruangan itu namun Vincent tidak ada di sana.
"Loh kemana Paman, kok gak ada sih?"
"Ah sudahlah yang penting aku harus menyiapkan beberapa dokumen tadi malam, sebelum pak Vincent yang baik dan tampan itu marah kepada ku yang sekarang hanya berstatus bawahan."
Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan itu, awalnya Kania berfikir itu adalah Vincent namun ternyata itu adalah Bu Mona.
"Eh kamu sudah datang," ucap Bu Mona kepada Kania.
"Iyah Bu," jawab Kania sambil tersenyum.
"Bagus deh kalau kamu sudah sampai di sini, saya dengar pekerjaan Tomi di pindah kan ke kamu, saya harap kamu bisa di andalkan."
"Saya akan melakukan yang terbaik Bu."
"Oh iya apa pak Vincent ada di luar?"
"Iyah dia sedang di lobby berbicara dengan calon tunangan nya."
"Calon tunangan?"
Bu Mona mengangguk.
"Kenapa? kamu tidak menerima Vincent memiliki pasangan? Apa kamu mau membuat mereka berpisah seperti sebelumnya?" tanya Bu Mona.
__ADS_1
"Maaf Bu."
"Sudah, kamu lanjut saja bekerja."
Bu Mona mengambil laptop nya dan langsung keluar dari sana.
Kania menghela nafas panjang.
"Sampai kapan aku akan bertahan seperti ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Kania tidak mau terlalu memikirkan itu semua dia memilih untuk fokus bekerja dari pada harus sedih.
Kania tidak terlalu paham, namun setelah di pelajari dia cukup mudah nangkep karena dia juga sudah mempelajari itu semua.
Waktu nya meeting Kania bertemu dengan Vincent.
Vincent tersenyum tipis namun Kania memasang wajah dingin.
Kania benar-benar sangat fokus menjelaskan pekerjaan di depan.
"Heni kamu sebaiknya tunggu saja Vincent selesai meeting yah, setelah selesai kamu bisa pergi dengan dia."
"Tapi Tante seperti nya Vincent sangat Sibuk."
"Enggak kok, Lagian sudah ada Keponakan dan Tante di sini yang mengurus semua nya."
Heni tidak bisa menolak dia mengangguk setuju dengan saran Bu Mona.
Satu jam kemudian selesai.
"Kerja bagus hari ini Kania," ucap Vincent kepada Kania sambil berjalan keluar.
"Selanjutnya aku akan mengantar kan ini, aku butuh tanda tangan bapak," ucap Kania setelah sampai di ruangan Vincent.
"Apa yang membuat kamu bersikap cuek kepada saya hari ini?" tanya Vincent.
"Jangan seperti ini pak, nanti kalau ada yang lihat mereka akan salah paham."
"Jawab pertanyaan saya terlebih dahulu."
"Ini di kantor pak, saya harus fokus bekerja agar saya tidak di protes."
Vincent memegang tangan Kania.
"Kamu tidak perlu mendengarkan apa yang di katakan oleh mami saya tentang wanita itu."
Kania menatap wajah Vincent.
"Aku sangat cemburu kepada wanita itu karena dia sangat di sukai oleh Bu Mona, berbeda dengan ku yang selalu di benci oleh Bu Mona."
"Aku berfikir kalau hubungan kita akan sia-sia karena Bu Mona menjodohkan paman dengan wanita itu."
"Sayang jangan berbicara seperti itu."
"Aku tidak ingin di salah kan lagi karena menghancurkan hubungan Paman."
Kania tidak sadar sudah mengeluarkan air mata nya.
Vincent tidak bisa melihat Kania menangis dia langsung mencium bibir Kania agar Kania berhenti berbicara yang membuat hati nya sakit.
"Jangan berbicara seperti itu, karena itu tidak akan pernah terjadi, kamu yang akan selalu di dalam hati saya."
__ADS_1
Vincent memeluk Kania begitu erat.
Tiba-tiba pintu ada yang mengetuk.
"Ya sudah kalau begitu kamu kembali ke meja kamu."
Kania melihat Bu Mona masuk membawa Heni.
Kania berusaha untuk tidak memperdulikan mereka karena Bu Mona juga tidak memperkenalkan Kania kepada wanita itu.
Kania sama sekali tidak bisa fokus bekerja di sana karena mereka berbicara cukup keras.
Kania langsung keluar dari sana membawa laptop dan semua alat-alat nya.
"Kania," ucap Tomi karena Kania masuk ke ruangan Tomi.
"Ada apa?" tanya Tomi karena wajah Kania cemberut.
"Gak Apa-apa kok, aku hanya minta bantuan kamu untuk menjelaskan ini."
Kania tetap saja fokus melanjutkan pekerjaannya.
Sampai waktu nya pulang kerja Kania langsung pulang tidak menunggu Vincent.
Kania sampai di rumah langsung cerita kepada Ulfa.. Ulfa tidak bisa melakukan apapun selain mendengar curhatan teman nya itu.
Satu bulan kemudian Kania bekerja di perusahaan.
"Kania kamu di panggil sama pak Vincent ke ruangan nya karena semenjak kejadian itu Kania memilih untuk satu ruangan dengan Tomi.
"Ada apa?" tanya Kania.
"Aku tidak tau, seperti nya hal pribadi."
"Huff aku sangat males banget berbicara dengan paman Vincent," batin Kania.
"Permisi pak."
Kania masuk ke ruangan Vincent.
"Kenapa kamu sangat lama?"
"Maaf pak."
Vincent mendekati Kania.
"Sudah satu bulan hubungan kita terlihat sangat buruk, apa kamu masih sangat marah kepada saya?" tanya Vincent.
"Enggak! Ngapain aku marah."
Vincent menghela nafas panjang.
"Berapa kali saya bilang kalau saya tidak menyukai Heni, saya melakukan semua permintaan mami karena saya tidak ingin melawan dan membuat masalah menjadi rumit."
"Kalau begitu kita udahan saja, aku tidak tahan dengan hubungan yang seperti ini, sudah dua bulan lebih hubungan kita namun tidak ada kemajuan sama sekali."
"Kania..." seketika Vincent sangat lemas mendengar kata-kata itu.
"Kamu ingat yah Kania, sampai kapan pun saya tidak akan membiarkan hubungan kita selesai begitu saja,"
"Aku tidak tahan Paman, aku tidak bisa seperti ini terus. Aku sangat sakit melihat paman pergi bersama wanita itu, menghabiskan waktu luang bersama dia bahkan tidak pernah keluar bersama ku lagi."
__ADS_1
"Sedikit lagi Kania, sedikit lagi kamu harus bersabar, setelah perusahaan PT Wir Asia kembali ke tangan saya, semua nya akan kembali baik-baik saja."